Sebelum Bahtera Ini Diuji
Menata Cinta, Menjaga Generasi, Menguatkan Keluarga dalam Naungan Allah
Sebelum Masalah Memisahkan
Belajar Mengelola Konflik, Menjaga Kepercayaan, dan Mempertahankan Keutuhan Keluarga
Oleh: Ustadz Luthfi Abdul Jabbar hafizhahullah
Masjid As-Salaam, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Ahad, 14 Jumadil Awwal 1448 / 25 Oktober 2026
Rasulullah ﷺ bersabda:
وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
“Barangsiapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)
Jalan surga adalah belajar, memahami Alquran, memahami Hadits, dan menuntut ilmu agama.
Rumah Tangga adalah masalah semua orang. Bahkan Nabi ﷺ pun memiliki masalah rumah tangga.
Poin dalam masalah rumah tangga:
1. Ketahuilah bahwa kita masih di dunia, bukan di surga, maka pasangan kita bukanlah bidadari.
Hikmah Allah tidak memberikan pasangan yang sempurna di dunia adalah karena Allah ingin menyediakan kesempurnaan di surga.
Siapapun dia, maka akan memiliki masalah; tetapi yang salah adalah ketika salah dalam menghadapi masalah. Masalah kecil kalau dihadapi dengan cara yang besar, maka masalahnya akan menjadi besar.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِنَّ مِنْ أَزْوَٰجِكُمْ وَأَوْلَٰدِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَٱحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِن تَعْفُوا۟ وَتَصْفَحُوا۟ وَتَغْفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
"Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. At-Taghabun : 14)
Banyak perempuan justru menceritakan perasaannya, bukan kenyataannya.
• Harus ada ukuran benar dan salah, jangan merasa paling benar dan paling terdzalimi
Ukuran salah dan benar bukanlah kembali pada perasaan.
Sebelum masuk dan ketika sudah masuk rumah tangga, yang menjadi tolok ukur benar dan salah adalah yang sesuai dengan Alquran dan Hadits. Ukuran tersebut akan menjadi penengah dalam perselisihan.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ ۖ فَإِن تَنَٰزَعْتُمْ فِى شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya." (QS. An-Nisaa : 59)
Siapa yang menyelisihi Alquran dan Hadits, maka dia salah. Sedangkan siapa yang mengikuti Alquran dan Hadits, maka dia yang benar.
Seorang suami, walaupun dia pemimpin rumah tangga, dia belum tentu selalu benar.
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا۟ فِىٓ أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا
"Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa : 65)
Barangsiapa yang keberatan bahkan sampai membenci ketetapan Rasulullah ﷺ, maka dia tidak beriman.
• Kalau sudah memahami bahwa tolok ukur kebenaran adalah Alquran dan Hadits, maka kita harus belajar tentang Alquran dan Hadits.
Ilmu agama adalah peta menuju surga. Ilmu agama adalah arahan dalam rumah tangga. Orang yang tidak membaca arahan, maka dia akan tersesat.
Sebelum dan saat terjadi konflik, kita harus belajar agama.
ٱلرِّجَالُ قَوَّٰمُونَ عَلَى ٱلنِّسَآءِ بِمَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَآ أَنفَقُوا۟ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ ۚ فَٱلصَّٰلِحَٰتُ قَٰنِتَٰتٌ حَٰفِظَٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ ٱللَّهُ ۚ وَٱلَّٰتِى تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَٱهْجُرُوهُنَّ فِى ٱلْمَضَاجِعِ وَٱضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا۟ عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalih, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS. An-Nisaa : 34)
Allah menegaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin. Jika ada perempuan yang tidak mau patuh kepada suami, maka dia tidak sesuai dengan Alquran. Jika ada perempuan yang ingin memiliki kesamaan dalam kepemimpinan, maka dia juga tidak sesuai dengan Alquran.
Nusyuz adalah pembangkangan dari seorang istri kepada suami, itu biasanya karena dia merasa lebih hebat. Istri harus meletakkan semua kehebatannya dan harus merendah di hadapan suami.
Wanita itu bengkok. Bukan untuk meremehkan wanita, tetapi Nabi ﷺ menjelaskan bahwa tidak ada wanita yang lurus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
اِسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا فَـإِنَّ الْمَرْأَةَ خُلِقَتْ مِـنْ ضِلَعٍ وَإِنَّ أَعْوَجَ شَيْءٍ فِي الضِّلَعِ أَعْلاَهُ فَإِنْ ذَهَبْتَ تُقِيْمُهُ كَسَرْتَهُ وَإِنْ تَرَكْتَهُ لَمْ يَزَلْ أَعْوَجَ فَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا.
“Sampaikanlah pesan kebaikan kepada kaum wanita, karena sesungguhnya seorang wanita itu diciptakan dari tulang rusuk. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok pada tulang rusuk adalah bagian atasnya, dimana jika engkau meluruskannya, maka engkau akan mematahkannya. Dan jika engkau membiarkannya, maka ia akan tetap bengkok. Sampaikanlah pesan kebaikan kepada kaum wanita.” (Muttafaq ‘alaiyh)
Kalau suami mendiamkan istri, maka dia akan tetap bengkok. Namun kalau suami terlalu keras kepada istri, maka dia akan patah. Suami harus bisa bersikap lembut dan ada waktunya untuk menekan, tapi tidak terlalu keras. Suami jangan memiliki ekspektasi yang terlalu tinggi kepada perempuan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا رَأَيْتُ مِنْ نَاقِصَاتِ عَقْلٍ وَدِينٍ أَذْهَبَ لِلُبِّ الرَّجُلِ الْحَازِمِ مِنْ إِحْدَاكُنَّ ”. قُلْنَ وَمَا نُقْصَانُ دِينِنَا وَعَقْلِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ” أَلَيْسَ شَهَادَةُ الْمَرْأَةِ مِثْلَ نِصْفِ شَهَادَةِ الرَّجُلِ ”. قُلْنَ بَلَى. قَالَ ” فَذَلِكَ مِنْ نُقْصَانِ عَقْلِهَا، أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ
“Belum pernah aku melihat wanita kurang akalnya dan agamanya yang lebih mampu mengalahkan laki-laki berakal yang kuat daripada seorang di antara kalian”. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa kekurangan akalnya?” beliau menjawab. “Bukankah persaksian dua orang wanita senilai dengan persaksian seorang lelaki?”. Dikatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa kekurangan agamanya ?” Beliau menjawab. “Bukankah apabila sedang haidh mereka tidak melaksanakan shalat dan puasa?” (HR. Bukhari No. 1462 dan Muslim No. 80)
Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa perempuan itu kurang akalnya, maka apa yang bisa dilihat oleh laki-laki tetapi perempuan tidak bisa melihatnya. Laki-laki diluaskan pandangannya, dikuatkan fisik dan tenaganya karena disiapkan untuk menjadi pemimpin. Sedangkan wanita lebih dikuatkan perasaannya. Jangan menyamakan standar laki-laki seperti standar perempuan.
Kalau ketika dinasihati, perempuan itu mau mengikuti, maka ini adalah perempuan yang baik. Tetapi kalau perempuan melawan atau menantang ketika dinasihati, maka ini adalah nusyuz. Laki-laki pun harus pandai membimbing.
Ada perempuan yang merasa lebih hebat dan lebih tahu dari laki-laki, dan fitnah bagi perempuan adalah ketika dia memiliki harta yang lebih dari suami.
Sifat laki-laki dan perempuan sebenarnya adalah sifat yang saling melengkapi. Ketika karakteristik antara laki-laki dan perempuan saling berjalan dengan baik, sesuai dengan kewajiban masing-masing, maka tidak akan ada yang salah.
Nusyuz adalah masalah. Cara mengatasinya adalah:
1. Nasihat
Laki-laki harus bisa membimbing, karena nasihat adalah tugas suami kepada istrinya.
2. Tinggalkan (Hajr) / Boikot
Ketika nasihat tidak berhasil, maka tinggalkan dia di tempat tidur. Maka ruang lingkupnya hanya di kamar saja.
3. Pukulan yang tidak menyakiti
Kalau nasihat dan hajr juga tetap tidak berhasil, maka istri boleh dipukul. Pukulan tidak boleh sampai melukai, tidak boleh memukul wajah, tetapi pukulan yang mendidik dan tidak menyakiti.
Ketaatan seorang istri terhadap suaminya hukumnya adalah wajib. Ketaatan seorang istri terhadap suaminya lebih utama daripada dia melakukan puasa Sunnah dan bahkan seorang istri bisa memilih pintu surga dari pintu yang dia sukai.
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَٱبْعَثُوا۟ حَكَمًا مِّنْ أَهْلِهِۦ وَحَكَمًا مِّنْ أَهْلِهَآ إِن يُرِيدَآ إِصْلَٰحًا يُوَفِّقِ ٱللَّهُ بَيْنَهُمَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلِيمًا خَبِيرًا
"Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. An-Nisaa : 35)
4. Cari seorang hakim dari keluarga istri
Kalau ketika dipukul juga tidak memperbaiki hubungan, maka kirimkan seorang hakim dari keluarga atau lakukan pertemuan keluarga untuk bisa menemukan perbaikan.
5. Saling berdamai
وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
"Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. An-Nisaa : 128)
Ayat ini turun dari kisah rumah tangga Rasulullah bersama Saudah binti Zam'ah, seorang janda yang memiliki banyak anak. Saudah adalah satu-satunya yang berusia lebih tua dibanding istri Rasulullah ﷺ yang lain.
Saat itu Saudah sudah tidak berkeinginan untuk berhubungan dengan Rasulullah ﷺ karena sudah menopause dan tidak memiliki hasrat. Namun karena Saudah masih ingin menjadi istri Rasulullah, maka hak dengan Rasulullah ﷺ diberikan kepada Aisyah.
وَلَن تَسْتَطِيعُوٓا۟ أَن تَعْدِلُوا۟ بَيْنَ ٱلنِّسَآءِ وَلَوْ حَرَصْتُمْ ۖ فَلَا تَمِيلُوا۟ كُلَّ ٱلْمَيْلِ فَتَذَرُوهَا كَٱلْمُعَلَّقَةِ ۚ وَإِن تُصْلِحُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا
"Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri(mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbaikan dan memelihara diri (dari kecurangan), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisaa :129)
6. Bercerai
Kalau semua langkah tidak bisa memperbaiki, maka Allah izinkan untuk bercerai.
وَإِن يَتَفَرَّقَا يُغْنِ ٱللَّهُ كُلًّا مِّن سَعَتِهِۦ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ وَٰسِعًا حَكِيمًا
"Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masingnya dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana." (QS. An-Nisaa : 130)
Di dalam rumah tangga Rasulullah ﷺ juga ada permasalahan, namun Rasulullah ﷺ tidak pernah memukul.
Hukum asal bergaul dengan pasangan harus dilakukan dengan baik, tapi penting juga untuk menjalani tahapan-tahapan dalam nasihat.
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku berkata kepada Nabi ﷺ, ‘Cukup sudah engkau berkata tentang Shafiyyah seperti ini dan itu, ia itu wanita yang pendek (sambil berisyarat dengan jari).” Nabi ﷺ pun bersabda,
لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ
“Sungguh engkau telah mengatakan suatu perkataan yang andai saja tercampur dengan air laut, kalimat itu akan mengotorinya.” (HR. Abu Daud No. 4875 dan Tirmidzi No. 2502)
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata:
كَانَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تِسْعُ نِسْوَةٍ، فَكَانَ إِذَا قَسَمَ بَيْنَهُنَّ لاَ يَنْتَهِي إِلَى الْمَرْأَةِ اْلأُوْلَى إِلاَّ فِي تِسْعٍ، فَكُنَّ يَجْتَمِعْنَ كُلَّ لَيْلَةٍ فِي بَيْتِ الَّتِي يَأْتِيهَا، فَكَانَ فِي بَيْتِ عَائِشَةَ، فَجَاءَتْ زَيْنَبُ فَمَدَّ يَدَهُ إِلَيْهَا، فَقَالَتْ: هَذِهِ زَيْنَبُ، فَكَفَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَهُ فَتَقَاوَلَتَا حَتَّى اسْتَخَبَتَا وَأُقِيمَتِ الصَّلاَةُ، فَمَرَّ أَبُو بَكْرٍ عَلَى ذَلِكَ فَسَمِعَ أَصْوَاتَهُمَا، فَقَالَ: اُخْرُجْ يَا رَسُولَ اللهِ إِلَى الصَّلاَةِ وَاحْثُ فِي أَفْوَاهِهِنَّ التُّرَابَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ عَائِشَةُ: اَلآنَ يَقْضِي النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ فَيَجِيءُ أَبُو بَكْرٍ فَيَفْعَلُ بِي وَيَفْعَلُ، فَلَمَّا قَضَى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاَتَهُ أَتَاهَا أَبُو بَكْرٍ فَقَالَ لَهَا قَوْلاً شَدِيدًا وَقَالَ: أَتَصْنَعِينَ هَذَا.
“Nabi ﷺ memiliki sembilan orang isteri. Dimana jika beliau membagi giliran di antara mereka, tidak akan berakhir sampai isteri pertama, kecuali pada yang kesembilan. Mereka semua berkumpul pada setiap malam di rumah isteri yang beliau datangi. Pernah beliau berada di rumah ‘Aisyah, tiba-tiba Zainab datang, lalu beliau mengulurkan tangan beliau kepadanya, maka Zainab berkata, ‘Ini Zainab.’ Kemudian Nabi menarik tangan beliau (tidak jadi menarik tangan Zainab).” Lalu keduanya (‘Aisyah dan Zainab) saling berbicara sampai saling merendahkan suara dan iqamat shalat pun dikumandangkan. Lalu Abu Bakar lewat sehingga mendengar suara keduanya, maka Abu Bakar berkata, ‘Mari pergi menunaikan shalat, wahai Rasulullah. Dan sumpalkan tanah ke mulut mereka.” Anas berkata, “Kemudian Nabi ﷺ keluar, maka ‘Aisyah berkata, ‘Sekarang Nabi ﷺ tengah menunaikan shalatnya. Lalu Abu Bakar datang dan melakukan apa yang beliau lakukan terhadapku.’ Setelah Nabi ﷺ selesai menunaikan shalatnya, Abu Bakar mendatanginya seraya mengatakan kata-kata keras kepadanya seraya berucap, ‘Apakah pantas kamu lakukan hal seperti ini?’” (HR. Muslim)
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عِنْدَ بَعْضِ نِسَائِهِ فَأَرْسَلَتْ إِحْدَى أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِصَحْفَةٍ فِيهَا طَعَامٌ، فَضَرَبَتِ الَّتِي النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِي بَيْتِهَا يَدَ الْخَادِمِ فَسَقَطَتِ الصَّحْفَةُ فَانْفَلَقَتْ، فَجَمَعَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم فِلَقَ الصَّحْفَةِ، ثُمَّ جَعَلَ يَجْمَعُ فِيهَا الطَّعَامَ الَّذِي كَانَ فِي الصَّحْفَةِ وَيَقُولُ “ غَارَتْ أُمُّكُمْ ”، ثُمَّ حَبَسَ الْخَادِمَ حَتَّى أُتِيَ بِصَحْفَةٍ مِنْ عِنْدِ الَّتِي هُوَ فِي بَيْتِهَا، فَدَفَعَ الصَّحْفَةَ الصَّحِيحَةَ إِلَى الَّتِي كُسِرَتْ صَحْفَتُهَا، وَأَمْسَكَ الْمَكْسُورَةَ فِي بَيْتِ الَّتِي كَسَرَتْ فِيه
Dari Anas Radhiyallahu anhu, dia berkata, “Nabi ﷺ pernah berada di salah seorang isterinya, lalu salah seorang Ummahatul Mukminin mengirimkan satu piring berisi makanan. Kemudian isteri yang rumahnya ditempati Nabi ﷺ memukul tangan pelayan sehingga piring itu jatuh dan pecah. Lalu Nabi ﷺ mengumpulkan pecahan piring dan kemudian mengumpulkan kembali ke dalamnya makanan yang ada di piring tersebut seraya berkata, ‘Ibumu telah cemburu.’ Selanjutnya, pelayan itu ditahan sehingga didatangkan kepada pelayan sebuah piring dari isteri yang rumahnya ditempati Nabi. Lalu pelayan itu menyerahkan piring yang baik kepada isteri yang dipecahkan piringnya. Sementara beliau tetap menahan piring yang pecah itu di rumah yang menjadi tempat pecahnya.” (HR. Bukhari)