Jalan Menuju Pertolongan Allah
Oleh: Ustadz Muhammad Halid Syar'ie hafizhahullah
Masjid Darsyafii, Pejaten, Jakarta Selatan
Sabtu, 23 Rabiul Awwal 1448 / 5 September 2026
Setiap dari kita dipastikan akan menemui masalah. Ada orang yang Allah uji dengan kesehatan, ada yang Allah uji dengan hartanya, Allah jadikan ia sulit untuk membeli sesuatu, Allah uji dengan keluarganya, dia punya anak ternyata anaknya menjadi ujian baginya, ada yang diuji dengan keadaan yang lain. Itulah kehidupan. Setiap orang memiliki ujiannya masing-masing.
Pada akhirnya setiap orang sangat membutuhkan Allah, membutuhkan pertolongan Allah karena ujian selalu dia dapatkan.
Kalau ada orang di setiap hidup tidak pernah gagal, ini bisa jadi menumbuhkan kesombongan. Tapi ketika seseorang diberikan ujian, dia akan tahu bahwa kehidupan telah diatur oleh Allah. Tidak ada manusia yang seluruh keinginan atau cita-citanya tercapai, agar ia tahu bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah. Maka ketika kita mendapatkan ujian, mintalah pertolongan kepada Allah.
Bagaimana agar setiap kondisi kita bisa ditolong oleh Allah?
Ada senjata yang sangat kuat, mudah dan seringkali berhasil untuk mendapatkan pertolongan Allah. Senjata ini adalah berdoa kepada Allah.
Doa bukanlah hal yang ringan, kekuatan doa mengalahkan segala kekuatan.
قَالَ يَٰٓأَيُّهَا ٱلْمَلَؤُا۟ أَيُّكُمْ يَأْتِينِى بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِى مُسْلِمِينَ
"Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri". (QS. An-Naml : 38)
قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ ٱلْجِنِّ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّى عَلَيْهِ لَقَوِىٌّ أَمِينٌ
"Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya". (QS. An-Naml : 39)
قَالَ ٱلَّذِى عِندَهُۥ عِلْمٌ مِّنَ ٱلْكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّى لِيَبْلُوَنِىٓ ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِۦ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّى غَنِىٌّ كَرِيمٌ
"Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An-Naml : 40)
Nabi ﷺ ketika berdoa, beliau tidak minta kerajaan, karena permintaan untuk memiliki kerajaan telah diminta oleh Nabi Sulaiman 'alayhissalam.
Para ulama berkata bahwa apa yang dilakukan oleh ahli ilmu tersebut adalah dengan menggunakan kekuatan doa yang penuh dengan tawakkal dan keyakinan. Jika Allah ingin membantu seseorang, maka tidak ada yang bisa menghalangi.
Kenapa pertolongan Allah kepada kaum Nabi Sulaiman begitu luar biasa, tapi kenapa pertolongan Allah kepada kita tidak sehebat itu?
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata:
"Doa, ruqyah dan dzikir memiliki kekuatan yang sama, tapi tergantung siapa yang membaca."
Keyakinan, kebersihan hati, dan adab dalam melakukannya bergantung kepada dikabulkannya doa tersebut.
Bagaimana supaya doa kita tepat sasaran?
Karena kekuatan bacaan kita dengan bacaan orang shalih sangat berbeda. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk belajar bagaimana agar doa kita tepat sasaran. Adab-adabnya adalah:
1. Ikhlas
Ikhlas artinya tulus. Dengan ketulusan hanya meminta kepada Allah. Allah tidak membolehkan kita berdoa kepada selainNya.
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
"Dan Rabbmu berfirman: "Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Ghafir : 60)
Allah sangat marah ketika ada orang berbuat syirik dalam perkara doa. Seseorang tidak boleh meminta kepada selain Allah.
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ مَا يَمْلِكُونَ مِنْ قِطْمِيرٍ ﴿١٣﴾ إِنْ تَدْعُوهُمْ لَا يَسْمَعُوا دُعَاءَكُمْ وَلَوْ سَمِعُوا مَا اسْتَجَابُوا لَكُمْ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكْفُرُونَ بِشِرْكِكُمْ ۚ وَلَا يُنَبِّئُكَ مِثْلُ خَبِيرٍ
“Dan orang-orang yang kamu seru (sembah) selain Allah tiada mempunyai apa-apa walaupun setipis kulit ari. Jika kamu menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruanmu ; dan kalaupun mereka mendengarnya, mereka tidak dapat memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu sebagaimana yang diberikan oleh Allah Yang Maha Mengetahui“. (QS. Fathir :13-14)
Kapan permintaan kepada makhluk agar tidak menjadi kesyirikan ada pada 3 kondisi, yaitu:
1. Makhluknya hidup
2. Hadir dan berkomunikasi secara langsung
3. Makhluk tersebut memang mampu apa yang diminta
Kalau salah satu dari ini hilang, maka ini keluar dari Tauhid.
Rasulullah ﷺ bersabda:
قالَ اللَّهُ تَبارَكَ وتَعالَى: أنا أغْنَى الشُّرَكاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَن عَمِلَ عَمَلًا أشْرَكَ فيه مَعِي غيرِي، تَرَكْتُهُ وشِرْكَهُ
"Allah berfirman, “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan seraya mempersekutukan Aku dengan selainKu maka Aku tinggalkan dia bersama syiriknya itu.” (HR. Muslim)
Kalau kita meminta pertolongan hanya kepada Allah, maka ini adalah adab yang mulia. Jangan sampai kita meminta pertolongan kepada Allah, tetapi juga meminta kepada selain Allah. Ketika hati kita bergantung kepada selain Allah, maka tidak akan ada pertolongan.
Mulailah dalam setiap masalah, mintalah kepada Allah. Tauhid seseorang akan terlihat dari sikap mereka saat mengalami musibah.
2. Menghadirkan hati dan kekhusyukan saat meminta kepada Allah
فَٱسْتَجَبْنَا لَهُۥ وَوَهَبْنَا لَهُۥ يَحْيَىٰ وَأَصْلَحْنَا لَهُۥ زَوْجَهُۥٓ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا۟ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلْخَيْرَٰتِ وَيَدْعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَٰشِعِينَ
"Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami." (QS. Al-Anbiya : 90)
Khusyuk adalah merendah diri kepada Allah. Doa seseorang tidak akan diterima ketika ada kesombongan di dalam hati.
Rasulullah ﷺ bersabda:
ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi)
Belajarlah untuk menghadirkan hati ketika berdoa walaupun doa itu sering kita baca.
3. Tidak meminta kemaksiatan atau memutus silaturahmi
Secara spesifik, Nabi ﷺ mengajarkan kalau kita ingin doa dikabulkan, maka jangan meminta maksiat dan memutus silaturahmi.
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَدْعُو بِدَعْوَةٍ لَيْسَ فِيهَا إِثْمٌ، وَلَا قَطِيعَةُ رَحِمٍ، إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ بِهَا إِحْدَى ثَلَاثٍ: إِمَّا أَنْ تُعَجَّلَ لَهُ دَعْوَتُهُ، وَإِمَّا أَنْ يَدَّخِرَهَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ، وَإِمَّا أَنْ يَصْرِفَ عَنْهُ مِنَ السُّوءِ مِثْلَهَا» قَالُوا: إِذنْ نُكْثِرُ، قَالَ: «اللهُ أَكْثَرُ»
"Tidaklah seorang muslim berdoa dengan satu doa yang tidak mengandung dosa maupun pemutusan silaturahmi, melainkan dengan doanya itu Allah pasti memberinya satu dari tiga hal: doanya akan disegerakan kepadanya, Allah simpankan doanya itu untuknya di akhirat, atau Allah hindarkan darinya kejelekan yang sebanding dengan doanya." Para sahabat berkata, "Kalau begitu, kita perbanyak doa." Beliau bersabda, "Allah lebih banyak (memberi)" (HR. Ahmad)
Para Sahabat ketika mendengar hadits ini, mereka semakin banyak berdoa. Nabi ﷺ mengajarkan kepada Kita bahwa berdoa itu tidak ada ruginya.
Secara umum, orang tua mendoakan keburukan kepada anak itu diijabah, tetapi jika orang tua berdoa karena anak tidak melakukan keburukan, maka doa tersebut tidak diijabah oleh Allah.
4. Berdoalah dalam keadaan suci (dalam keadaan memiliki wudhu)
Ini adalah adab yang baik ketika memiliki wudhu dalam berdoa.
5. Menghadap kiblat
Ini bukan kewajiban, tapi ini adab yang menjadikan peluang besar doa kita dikabulkan oleh Allah.
6. Mengangkat kedua tangan
Nabi ﷺ pernah berdoa dengan mengangkat kedua tangan dalam Perang Badar.
Dari Salman al-Farisi bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
« إِنَّ رَبَّكُمْ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَيِىٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِى مِنْ عَبْدِهِ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ إِلَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا »
“Sesungguhnya Rabbmu (Allah) Ta’ala adalah maha pemalu lagi maha mulia, Dia malu terhadap hambaNya (yang berdoa dengan) mengangkat kedua tangannya kepadaNya kemudian Dia menolaknya dengan hampa“ (HR. Abu Dawud No. 1488, Tirmidzi No. 3556, Ibnu Majah No. 3865 dan Ibnu Hibban No. 876)
Kita angkat tangan saat berdoa karena Nabi ﷺ melakukannya, misalnya:
1. Doa minta hujan
Kita tidak angkat tangan saat berdoa karena Nabi ﷺ tidak melakukannya, misalnya:
1. Doa setelah wudhu
2. Doa keluar rumah
Tidak semua doa kita harus angkat tangan.
Kita lebih baik angkat tangan ketika doa bebas atau secara umum, yaitu di mana Nabi ﷺ tidak mengajarkan secara khusus melainkan hanya mempersilakan, misalnya:
1. Doa ketika adzan dan iqamah
2. Doa ketika turun hujan
Para ulama mengatakan, posisi angkat tangan saat berdoa adalah sejajar dengan bahu.
Nabi ﷺ pernah berdoa sehingga ketiak beliau terlihat dan melihat pundaknya, yaitu ketika waktu urgensi seperti:
1. Perang Badar
2. Istisqo
Anas bin Malik rahimahullah berkata:
أنه رفع يديه حتى رأيت بياض إبطيه
“Rasulullah ﷺ berdoa kemudian beliau mengangkat kedua tangannya sampai saya melihat putih kedua ketiak beliau." (HR. Bukhari)
7. Doa dimulai dengan puja-puji kepada Allah dan bershalawat kepada Nabi Muhammad ﷺ
الَّذِي خَلَقَنِي فَهُوَ يَهْدِينِ (78) وَالَّذِي هُوَ يُطْعِمُنِي وَيَسْقِينِ (79) وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ (80) وَالَّذِي يُمِيتُنِي ثُمَّ يُحْيِينِ (81) وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ (82) }
"(yaitu Rabb) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Rabbku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), dan Yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari kiamat.” (QS. Asy-Syuara : 78-82)
Shalawat kepada Nabi ﷺ ada tiga waktu, yaitu:
1. Puji Allah lalu Shalawat
2. Puji Allah, Shalawat di awal mulai doa, dan setelah berdoa
3. Puji Allah, shalawat, berdoa, kemudian shalawat lagi
8. Menghilangkan penghalang-penghalang ijabahnya doa
Ketika kita sudah melakukan adab-adab berdoa, seharusnya doa kita dikabulkan. Namun bisa jadi tidak dikabulkan karena ada penghalang-penghalang.
Penghalang-penghalang doa diijabah,
1. Memiliki atau mengkonsumsi sesuatu yang haram
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّباً، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ المُؤْمِنِيْنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ المُرْسَلِيْنَ فَقَالَ {يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوْا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا} وَقَالَ تَعَالَى {يَا أَيُّهَا الذِّيْنَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ} ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيْلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ: يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ ومشربه حرام وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لَهُ.رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik (thayyib), tidak menerima kecuali yang baik (thayyib). Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kaum mukminin seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shalih.’ (QS. Al-Mu’minun: 51). Dan Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepadamu.’ (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian Rasulullah ﷺ menyebutkan seseorang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, lantas berkata, ‘Wahai Rabbku, wahai Rabbku.’ Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia dikenyangkan dari yang haram, bagaimana mungkin doanya bisa terkabul.” (HR. Muslim)
2. Terburu-buru untuk diijabah doanya
Rasulullah ﷺ bersabda:
يُسْتَجَابُ لِأَحَدِكُمْ مَا لَمْ يَعْجَلْ،يَقُولُ: دَعَوْتُ فَلَمْ يُسْتَجَبْ لِي
“Doa setiap kalian akan dikabulkan selama tidak tergesa-gesa, yaitu dengan berkata: ‘Aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan.” (HR. Bukhari No. 5981)
3. Tidak yakin Allah akan mengabulkan doa tersebut
Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,
إنِّي لا أحمل هَم الإجابة ولكن أحمل هَم الدُعاء فإذا أُلهِمت الدعاء فإن الإجابة معه .
“Aku tidak pernah mengkhawatirkan apakah doaku akan dikabulkan atau tidak, tetapi yang lebih aku khawatirkan adalah aku tidak diberi hidayah untuk terus berdoa. Oleh karenanya, jika kalian diilhami dan diberi hidayah untuk berdoa, sesungguhnya (ijabah) terkabulnya doa tersebut mengikutinya.” (Majmu’ Fatawa Syekhul Islam, 8: 193)