Tuesday, 10 March 2026

Kajian I'tikaf: Doa dan Dzikir saat I'tikaf // Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah

Kajian I'tikaf
Doa dan Dzikir saat I'tikaf
Oleh: Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Selasa, 21 Ramadhan 1447 / 10 Maret 2026

Salah satu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita adalah Allah pertemukan kita dengan 10 hari terakhir Ramadhan.

Kalau kita melihat dari shalat wajib yang kita kerjakan, kita telah mendapatkan 3 shalat wajib di sela malam Lailatul Qadr, yaitu Maghrib, Isya, dan Subuh. Belum termasuk dengan Qabliyah dan Ba'diyah, lalu dilanjutkan dengan Tarawih dan Witir bersama imam. Jika ini malam Lailatul Qadr, maka kita seperti beramal selama seribu bulan.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai No. 1605, Tirmidzi No. 806, Ibnu Majah No. 1327, Ahmad dan Tirmidzi)

Di antara amalan yang utama di 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan
1.  Shalat malam
Jangan sampai kita menghidupkan shalat malam tanpa keikhlasan, karena jika tidak ikhlas maka ibadah kita tidak akan diterima. Pastikan ketika kita menjalankan ibadah adalah dengan penuh keimanan, dan puncak dari keimanan adalah keikhlasan. Ketika kita memiliki keikhlasan kepada Allah, maka amalan kita akan diterima, dan buah dari amalan adalah surga.

2. Membaca Alquran
Kita perlu muhasabah dengan bacaan Alquran kita. Apakah bacaan kita sudah benar? Apakah makhraj dan tajwid kita juga sudah benar? Kita introspeksi lagi.

Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Kita yang baru belajar Alquran, maka tidak mengapa jika belum lancar. Itu lebih baik daripada tidak membaca Alquran sama sekali. Teruslah belajar.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Alquran dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Alquran dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Menjaga kebersihan
Kita paham betapa pentingnya kebersihan, maka kita harus bisa menjaganya. Jangan sampai kita dzalim dengan bau dari tubuh kita. Jadilah seorang yang bersih dan wangi.

4. Jangan hanya memikirkan makan
Ketika i'tikaf, kita jangan hanya memikirkan makan. Fokuslah dalam beribadh

5. Perbanyak istighfar
Kita sering bertemu dengan lawan jenis ketika i'tikaf di masjid. Maka kita khawatir itu menjadi fitnah, itu sebabnya kita harus memperbanyak istighfar.

Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." (QS. Adz-Dzariyaat : 18)

Manfaat istighfar:
1. Musibah jauh dari kita, adzab dan siksa tidak akan menghampiri

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. Al Anfal : 33)

2. Keadaan hidup akan baik

Dikisahkan beberapa orang datang mengadukan masalah yang dideritanya kepada Imam Hasan Bashri rahimahullah namun selalu diianjurkan kepada orang yang datang itu untuk beristighar pada Allah.

Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: “Istighfar-lah engkau kepada Allah”.

Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Bashri juga berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar lah engkau kepada Allah”.

Al-Rabi bin al-Sabih, salah satu murid Imam Hasan Al Bashri penasaran bertanya mengapa orang-orang yang berdatangan mengadukan berbagai permasalahan kepada gurunya itu selalu diberikan jawaban yang sama agar beristighfar .

Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengatakan dalam firmanNya di Surat Nuh ayat 10-12; “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Puncak dari kita memperbanyak istighfar adalah Allah memasukkan kita ke dalam surga.

Perbanyak juga membaca sayyidul istighfar.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ 

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan Allahumma anta rabbii laa ilahaa ilaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yahgfiru adz-dzunuuba ilaa anta.(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku menetapi perjanjianMu dan janjiMu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

Beliau ﷺ bersabda:
Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR. Bukhari)

Dzikir pagi dibaca ketika masuk shalat Subuh sampai sebelum waktu Zhuhur.
Dzikir petang dibaca ketika masuk waktu Ashar hingga sebelum waktu Isya.

Istighfar harus dirutinkan. Jangan kepedean kita tidak punya dosa. Terkadang lisan kita masih mudah menyakiti hati orang lain, terkadang kita melihat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dan banyak dosa lain yang kita lakukan. Maka perbanyaklah istighfar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)

Saturday, 21 February 2026

Kajian Sabtu: Saatnya All Out - Rahasia Rasulullah ﷺ di 10 Hari Terakhir // Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah

Kajian Sabtu
Saatnya All Out! Rahasia Rasulullah ﷺ di 10 Hari Terakhir
Oleh: Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Ajwad Resto Kebayoran, Jakarta Selatan
Sabtu, 3 Ramadhan 1447 / 21 Feb 2026

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menggambarkan kerinduan luar biasa penghuni kubur akan keutamaan bulan Ramadhan. Beliau berkata, "Demi Allah, seandainya ditanyakan kepada penghuni kubur: 'Berangan-anganlah!', tentunya mereka pasti akan berangan-angan sehari saja pada bulan Ramadhan" (At-Tabshirah 2/78)

Kalau sudah belajar Tauhid, tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan selain kita tahu bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Bertaubat bukanlah perkara mudah. Ia membutuhkan perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan proses yang tidak sebentar, bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu atau dua hari saja. Ini tercermin dari kisah tiga sahabat Nabi ﷺ: Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ Al-Amiri, dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar ketiganya diboikot oleh seluruh kaum Muslimin. Tidak ada yang boleh menyapa, berbicara, atau berinteraksi dengan mereka. Madinah terasa asing. Ka’ab tetap salat berjamaah, tapi seakan tak terlihat. Murarah dan Hilal bahkan hanya berdiam diri di rumah, menangis setiap hari.

Suatu hari, Ka’ab menerima surat dari Raja Ghassan yang mengajaknya bergabung ke wilayahnya. Ini godaan besar. Tapi Ka’ab langsung membakar surat itu. Ia sadar ini ujian dari Allah ﷻ.
 
Setelah 40 hari, datang perintah tambahan dari Rasulullah ﷺ: mereka harus berpisah dari istri mereka. Ka’ab bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya?” Utusan menjawab, “Tidak, tapi jangan mendekatinya.” Maka Ka’ab meminta istrinya kembali ke rumah orang tuanya. Hilal pun melakukan hal yang sama, tetapi istrinya meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tetap merawat suaminya yang sudah tua dan lemah. Nabi ﷺ mengizinkan. Hilal terus menangis setiap hari, bukan karena dunia, tapi karena takut kepada Allah ﷻ.

Akhirnya, pada hari ke-50, datanglah kabar gembira: Allah telah menerima taubat mereka bertiga. Allah ﷻ berfirman,

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat mereka), hingga apabila bumi terasa sempit bfagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, serta mereka yakin bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah selain kepadaNya. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 118)

Untuk mendapatkan Lailatul Qadr harus disertakan dengan kesungguhan sejak awal hingga akhir Ramadhan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻭَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ

“Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi)

Seandainya di malam pertama masih beribadah sekadarnya, puasa tapi masih berdusta, puasa tapi masih bolong tarawihnya, maka jangan putus asa untuk mendapatkan ampunan Allah. Kita harus selalu berharap dengan ampunan Allah di setiap malam bulan Ramadhan.

Jangan sampai kita menjadi orang yang diaamiinkan Rasulullah ﷺ.

Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaamiinkan oleh Rasulullah ﷺ, mereka itu adalah:
1. Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya).
2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.
3. Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi ﷺ, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu 'anhu, beliau berkata.

صعِد رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المنبرَ فلمَّا رقِي عَتبةً قال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً أخرى فقال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً ثالثةً فقال: ( آمينَ ) ثمَّ قال: ( أتاني جبريلُ فقال: يا محمَّدُ مَن أدرَك رمضانَ فلم يُغفَرْ له فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ قال: ومَن أدرَك والديه أو أحدَهما فدخَل النَّارَ فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ فقال: ومَن ذُكِرْتَ عندَه فلم يُصَلِّ عليكَ فأبعَده اللهُ، قُلْ: آمينَ، فقُلْتُ: آمينَ 

“Rasulullah ﷺ naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah ﷺ) berkata: ‘Aamiin.’”

Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmatNya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’

Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.’ (HR. Ath-Thabrani)

Dari semua hari bulan Ramadhan, 10 hari terakhir adalah yang paling utama.
Amalan
1. Jangan lupa berpuasa dengan niat yang ikhlas 
Jangan sekadar puasa, karena ada orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan haus.

Imam Rajab berkata,
"Tingkatan puasa paling rendah adalah menahan lapar dan haus"

Jangan merasa sukses dengan itu, tetapi kita harus naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

من لم يدَعْ قولَ الزُّورِ والعملَ بِهِ ، فليسَ للَّهِ حاجةٌ بأن يدَعَ طعامَهُ وشرابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, melakukan kedustaan serta berbuat buruk, maka Allah Ta’ala tidak butuh ia meninggalkan makannya dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيْهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لا يَدْخُلُهُ إلَّا الصَّائِمُونَ. متفق عليه

“Di surga itu ada delapan pintu. Di antaranya ada satu pintu yang dinamakan ar-Rayyan, tidak bisa memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘alaih).

Semakin kita mendekat kepada Allah, maka kita akan semakin diuji. Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi pernah bertaqwa.

2. Fokuslah untuk banyak memperbanyak membaca Alquran

Kalau seseorang mengetahui bahwa Ramadhan itu bernilai, maka dia tidak akan main-main.

Bulan Ramadhan ini adalah bulannya Alquran.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al Baqarah : 185)

Kalau kita belajar agama tapi belum pada sampai kesimpulan antara benar-salah, halal-haram, sunnah-bid'ah, maka kita belum benar belajarnya. Seseorang yang belajar agama harus bisa membedakan semuanya.

Alquran memiliki banyak keutamaan. Alquran terdiri dari 604 halaman, 15 baris, dan 6236 ayat.

Ketika Nabi ﷺ membaca Alquran, beliau menyebutkan setiap hurufnya.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi No. 2910)

Kita harus memiliki sifat tamak terhadap setiap huruf yang kita baca dari Alquran.

Orang yang hapal Alquran dimuliakan oleh Nabi ﷺ di dalam hidup dan matinya.

Praktik membaca Alquran secara berjamaah Tundalah sesuai sunnah, karena tidak pernah ada di zaman Rasulullah ﷺ.

Khatam Alquran adalah membaca dari awal Al Fatihah hingga An-Naas sendirian, bukan dibagi menjadi beberapa orang yang membaca setiap juznya.

Tidak ada kitab yang paling mudah untuk dipelajari kecuali Alquran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran" (QS. al-Qamar : 17)

Ada 2 pahala yang didapatkan oleh orang yang belajar membaca Alquran:
1. Pahala untuk mempelajarinya; dan
2. Pahala membaca Alquran

Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memperbaiki agamanya karena Allah.

3. I'tikaf
I'tikaf di Masjid Nabawi lebih afdhol daripada i'tikaf di Masjidil Haram, karena Nabi ﷺ beri'tikaf di Masjid Nabawi.

Kalau tidak ada dalil khusus yang menyebutkan suatu ibadah, maka kita jangan bermudah-mudahan dalam menyimpulkan suatu ibadah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
"Jika tidak ada dalil khusus terhadap ibadah, maka afdholnya dikembalikan kepada maslahat masing-masing orang."

Nabi ﷺ selalu melakukan i'tikaf.

Wanita lebih afdhol i'tikaf di masjid atau di rumah? Maka jawabannya adalah tergantung maslahatnya dan mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah.

Namun ketika shalat Tarawih, maka wanita lebih afdhol melakukannya di rumah, tapi jangan larang mereka ke masjid.

Semua orang pasti mendapatkan malam Lailatul Qadr, tapi pertanyaannya, ketika Lailatul Qadr itu turun, kita sedang apa? Ada yang bersungguh-sungguh beribadah, ada yang lalai, ada yang membaca Alquran, dan sebagainya.

Ketika kita i'tikaf, para ulama berbeda pendapat, yaitu:
- Sebagian ulama berpendapat harus full, mencontoh Nabi ﷺ.
- Sebagian ulama lainnya berpendapat cukup mengambil malamnya saja.

Pendapat yang lebih kuat -insyaa Allah- adalah pendapat ketiga, yaitu:
- Selama niatnya dari rumah berangkat ke masjid, maka itulah i'tikaf walaupun berdiam sejenak.

I'tikaf itu sebenarnya adalah memutuskan hubungan dengan makhluk dan berkhalwat dengan Allah.

Jangan sampai kita meninggalkan kewajiban untuk sesuai yang sunnah. Jangan juga terlalu banyak tidur.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan." (QS. As-Sajdah : 16)

4. Memperpanjang atau memperlama shalat Tarawih

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

“Barangsiapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain)

Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Nabi ﷺ tidak pernah lebih dari 11 Rakaat. Hadits yang menyebutkan Nabi ﷺ melakukan shalat Tarawih 20 Rakaat adalah hadits Palsu. Lalu riwayat yang melakukan Tarawih 23 Rakaat haditsnya adalah lemah.

5. Membaca dzikir 
Di antara dzikir yang pernah ditanyakan oleh Aisyah adalah dzikir berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi No. 3513 dan Ibnu Majah No. 3850)

6. Membayar Zakat Fitnah
Jangan sampai terlewat membayar Zakat Fitnah. Semakin dekat dengan waktu I'd, maka itu yang lebih afdhol. Wajib berzakat fitrah dengan makanan pokok.

Lailatul Qadr adalah pembahasan yang sangat luas. Carilah Lailatul Qadr berdasarkan hadits Nabi ﷺ pada 10 hari terakhir Ramadhan di malam-malam ganjil.

Berkaitan dengan 10 hari terakhir, Rasulullah ﷺ pernah ditanya, "Apakah amal yang paling afdhol?"

تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini Nabawi selama sebulan penuh." (HR. Thabrani)

Jangan pernah menghitung-hitung pemberian kita kepada orang lain. Berikan yang terbaik di sisi Allah sesuai dengan kemampuan kita.