Sunday, 23 August 2026

Kajian Ahad: Truth Allah, Then Trust the Process // Ustadz Fatahillah Aly hafizhahullah

Kajian Ahad
Trust Allah, Then Trust the Process
Ustadz Fatahillah Aly hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Ahad, 10 Rabiul Awwal 1448 / 23 Agustus 2026

Alhamdulillah. Atas izin Allah, kita bisa berkumpul kembali di rumah Allah untuk mempelajari agama yang menjadi kebanggaan seorang Muslim. Satu-satunya agama yang Allah ridhoi adalah Islam.

ٱلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيتُ لَكُمُ ٱلْإِسْلَٰمَ دِينًا ۚ 
"Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agama bagimu." (QS. Al Maidah: 3)

Ini adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Agama yang sangat sempurna. Agama yang datang dengan membawa solusi bagi setiap permasalahan kita. Seringkali orang mencari solusi di luar agama Islam, kadang hanya menyembuhkan sesaat, tetapi seringkali kondisi buruk itu kembali lagi. Solusi paling nyata adalah kembali kepada solusi yang telah Allah berikan kepada kita semua, yaitu Alquran. Namun kita perlu sedikit ta'ammul, yaitu merenungi, mentaddaburi, dan melihat penjelasan para ulama. Juga tentu saja kita melihat kepada hadits-hadits Nabi ﷺ yang bisa menjadi solusi bagi kehidupan.

Yang menjadi obat utama dalam hidup adalah tawakkal dan yakin kepada Allah.

Dalam ekonomi saat ini, banyak yang mengeluh dengan takdir, banyak yang mengeluh dengan ekonomi sekarang. Tetapi sebagai seorang Muslim, kita tidak bisa mengeluh secara terus menerus.

Menurut Ibnul Qayyim rahimahullah di dalam kitab Madarijus Salikin, mengeluh terbagi menjadi 2:
1. Mengeluh kepada Allah, ini dibolehkan di dalam syariat.

Setiap masalah yang kita hadapi di kehidupan sehari-hari, Allah ingin kita mengeluh kepadaNya, bukan mengeluh dalam artian menolak dan menyesali, tetapi mengeluh untuk menjelaskan kondisi kita.

Sebagaimana ketika Nabi Ya'qub merasa sedih ketika Yusuf dan Benjamin, anak-anaknya pergi meninggalkan beliau. Itu kesedihan di atas kesedihan. Sehingga karena seringnya menangis, mata nabi Ya'qub menjadi buta. Namun Nabi Ya'qub hanya mengeluhkan kesedihannya kepada Allah.

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya". (QS. Yusuf : 86)

Kesedihan kita tidak perlu semua orang tahu, cukuplah Allah yang tahu. Ketika kita berharap kepada manusia, tetap mereka justru menambah masalah. Satu-satunya tempat curhat yang tidak akan pernah mengkhianati kita adalah hanya curhat kepada Allah.

2. Mengeluh terhadap takdir Allah, ini diharamkan di dalam syariat.

Ini adalah mengeluh karena tidak ridho dengan Allah, karena ridho kepada takdir kepada Allah adalah kewajiban.



Saturday, 8 August 2026

Kajian Sabtu: Jadi Susah Menerima Sunnah // Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah

Kajian Sabtu
Jadi Susah Menerima Sunnah (bagian 2)
Oleh: Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah
Masjid Baitul Huda, Komplek Bukit Kencana, Pondok Gede, Bekasi
Sabtu, 25 Shafar 1448 / 8 Agustus 2026

Di Pertemuan pertama, Sunnah Nabi ﷺ mencakup 3 hal
1. Perkataan beliau (aqwal)
Contoh: "Makanlah dengan tangan kanan"

2. Perbuatan beliau
Contoh: Cara beliau shalat

3. Ketetapan beliau (taqrir)
Contoh: beliau melihat sandal Bilal bin Rabbah di surga

Kenapa kita harus mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, karena sebagian dari kita alergi ketika mendengar kata Sunnah Nabi ﷺ?
1. Mengikuti Sunnah adalah bukti cinta kepada Allah
2. Perintah Allah
3. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ adalah jalan menuju surga
4. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ mau masuk surga
5. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu sudah jelas pahalanya
6. Menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ itu seolah mengatakan bahwa Nabi ﷺ berkhianat
7. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu lebih simple, tinggal ikuti saja

Kenapa sebagian orang sulit mengikuti Sunnah Nabi ﷺ ada 2 versi,yaitu:
• Versi Umat
1. Mempertahankan adat istiadat
• Abu Thalib yang tidak mau bersyahadat
• Makan-makan di acara kematian

Adat istiadat terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Sejalan dengan syariat, itu boleh
✓ Istri salam kepada suami
✓ Sungkeman kepada orang tua tanpa harus bersujud
2. Bertentangan dengan syariat, itu tidak boleh

2. Duniawi lebih kuat
Mengikuti aturan dunia yang lebih kuat daripada mengikuti ajaran agama
• Kredit rumah secara riba

3. Kebiasaan sejak lama
• Merokok
• Salaman dengan yang bukan mahram

4. Khawatir bertentangan dengan keluarga, tetangga, teman, dan lain-lain
Ketika kita mengikuti Sunnah Nabi ﷺ sedangkan lingkungan kita belum menjalankan Sunnah, maka akan terjadi cekcok atau debat.

5. Minim ilmu agama
Karena minim ilmu agama, jarang belajar, datang ke pengajian yang tidak menambah ilmu, akhirnya kita tidak menjalankan Sunnah.

Kita belajar tapi ilmu tidak bertambah, itu sebabnya orang awam tidak memahami agama dengan benar, sehingga dia bingung ketika bertemu dengan ajaran Islam yang benar.

6. Logika yang keliru
Sebagian orang dalam beragama selalu menggunakan logika namun logika yang tidak tepat. Seperti ketika orang datang ke kuburan meminta sesuatu.

7. Fanatisme golongan
Fanatisme ini dibentuk oleh sebagian tokoh dengan doktrin 'apapun kata guru harus diikuti' atau mereka mengaku sebagai keturunan Nabi ﷺ.

Fanatisme muncul itu karena orang-orang menganggap apa yang disampaikan itu pasti benar.

Karena Fanatisme dibentuk, bahwa kalau mijitin Kyai adalah bakti, pengabdian atau rasa hormat sehingga menghilangkan akal.

8. Adanya syubhat (dalih pembenaran, kerancuan)
Syubhat ini biasanya diciptakan oleh guru-guru yang berisi sesuatu yang membuat orang benci dengan Sunnah.

Contoh syubhat yang sering disampaikan kepada orang-orang yang menyampaikan Sunnah:
- Klaim masuk surga sendirian
- Salafi Wahabi
- Orang cingkrang
- Ninja atau akhwat bercadar
- Suka mengkafirkan sesama Muslim

• Versi Da'i/Ustadz/Kyai
1. Sudah ditokohkan
Kalau seseorang sudah ditokohkan dan terlanjur mengajarkan ilmu agama yang tidak sesuai dengan sunnah, maka dia akan susah menerima Sunnah.

2. Dapur mengepul
Demi menyenangkan hati umat, para dai rela menyampaikan sesuatu yang disukai masyarakat walau menyelisihi Sunnah

3. Khawatir harus belajar lagi
Selama ini terbiasa mengajar dan apa yang keluar hanya keluar dari otak, mengarang sendiri, menggunakan perasaan atau logika semata.

4. Malas menelusuri dalil
Kajian Sunnah agak ribet, karena harus menggunakan dalil dalam berbicara. Sementara dalam kajian umum boleh menggunakan perasaan bahkan menggunakan mimpi.

5. Ada kedengkian
Kalau ada kajian yang ramai, mereka akan mencegah atau bahkan membubarkan kajian tersebut


• Versi yang sudah belajar sunnah
1. Dakwahnya kurang simpatik, keras dan kasar, tidak mengerti tempat dan waktu

• Salah waktu
Ketika kita mau mendakwahkan orang seputar kematian tetap sedang ada acara kematian, lalu kita sampaikan bahwa berkumpul makan-makan di acara kematian maka itu sama dengan meratapi kematian.

• Salah tempat
Ketika kita bicara hukum seputar keluarga tetapi kita menyampaikan di pemakaman. Ini adalah salah tempat.

2. Melakukan Mudahanah tetapi tidak melakukan mudarah
Ketika ada 2 Ustadz yang sama-sama melakukan 3S (Senyum, Sapa, Salam)

Mudahanah secara bahasa adalah mashdar dari داهنَ – يداهن yang artinya: menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Secara istilah, mudahanah artinya menampakkan keridhaan kepada kemaksiatan tanpa ada pengingkaran, demi kepentingan duniawi.

Mudahanah terlarang dalam Islam.

Mudarah secara bahasa adalah mashdar dari دارى – يُداري /daaraa – yudaarii/ yang artinya: bersikap lembut. Secara istilah, mudarah artinya bersikap lembut kepada orang lain dan mengalah darinya agar ia tidak menjauhkan diri sehingga bisa memberi nasehat dan memperbaikinya.

Mudarah dibolehkan atau bahkan terkadang dianjurkan dalam syariat berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.