Saturday, 8 August 2026

Kajian Sabtu: Jadi Susah Menerima Sunnah // Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah

Kajian Sabtu
Jadi Susah Menerima Sunnah (bagian 2)
Oleh: Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah
Masjid Baitul Huda, Komplek Bukit Kencana, Pondok Gede, Bekasi
Sabtu, 25 Shafar 1448 / 8 Agustus 2026

Di Pertemuan pertama, Sunnah Nabi ﷺ mencakup 3 hal
1. Perkataan beliau (aqwal)
Contoh: "Makanlah dengan tangan kanan"

2. Perbuatan beliau
Contoh: Cara beliau shalat

3. Ketetapan beliau (taqrir)
Contoh: beliau melihat sandal Bilal bin Rabbah di surga

Kenapa kita harus mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, karena sebagian dari kita alergi ketika mendengar kata Sunnah Nabi ﷺ?
1. Mengikuti Sunnah adalah bukti cinta kepada Allah
2. Perintah Allah
3. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ adalah jalan menuju surga
4. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ mau masuk surga
5. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu sudah jelas pahalanya
6. Menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ itu seolah mengatakan bahwa Nabi ﷺ berkhianat
7. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu lebih simple, tinggal ikuti saja

Kenapa sebagian orang sulit mengikuti Sunnah Nabi ﷺ ada 2 versi,yaitu:
• Versi Umat
1. Mempertahankan adat istiadat
• Abu Thalib yang tidak mau bersyahadat
• Makan-makan di acara kematian

Adat istiadat terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Sejalan dengan syariat, itu boleh
✓ Istri salam kepada suami
✓ Sungkeman kepada orang tua tanpa harus bersujud
2. Bertentangan dengan syariat, itu tidak boleh

2. Duniawi lebih kuat
Mengikuti aturan dunia yang lebih kuat daripada mengikuti ajaran agama
• Kredit rumah secara riba

3. Kebiasaan sejak lama
• Merokok
• Salaman dengan yang bukan mahram

4. Khawatir bertentangan dengan keluarga, tetangga, teman, dan lain-lain
Ketika kita mengikuti Sunnah Nabi ﷺ sedangkan lingkungan kita belum menjalankan Sunnah, maka akan terjadi cekcok atau debat.

5. Minim ilmu agama
Karena minim ilmu agama, jarang belajar, datang ke pengajian yang tidak menambah ilmu, akhirnya kita tidak menjalankan Sunnah.

Kita belajar tapi ilmu tidak bertambah, itu sebabnya orang awam tidak memahami agama dengan benar, sehingga dia bingung ketika bertemu dengan ajaran Islam yang benar.

6. Logika yang keliru
Sebagian orang dalam beragama selalu menggunakan logika namun logika yang tidak tepat. Seperti ketika orang datang ke kuburan meminta sesuatu.

7. Fanatisme golongan
Fanatisme ini dibentuk oleh sebagian tokoh dengan doktrin 'apapun kata guru harus diikuti' atau mereka mengaku sebagai keturunan Nabi ﷺ.

Fanatisme muncul itu karena orang-orang menganggap apa yang disampaikan itu pasti benar.

Karena Fanatisme dibentuk, bahwa kalau mijitin Kyai adalah bakti, pengabdian atau rasa hormat sehingga menghilangkan akal.

8. Adanya syubhat (dalih pembenaran, kerancuan)
Syubhat ini biasanya diciptakan oleh guru-guru yang berisi sesuatu yang membuat orang benci dengan Sunnah.

Contoh syubhat yang sering disampaikan kepada orang-orang yang menyampaikan Sunnah:
- Klaim masuk surga sendirian
- Salafi Wahabi
- Orang cingkrang
- Ninja atau akhwat bercadar
- Suka mengkafirkan sesama Muslim

• Versi Da'i/Ustadz/Kyai
1. Sudah ditokohkan
Kalau seseorang sudah ditokohkan dan terlanjur mengajarkan ilmu agama yang tidak sesuai dengan sunnah, maka dia akan susah menerima Sunnah.

2. Dapur mengepul
Demi menyenangkan hati umat, para dai rela menyampaikan sesuatu yang disukai masyarakat walau menyelisihi Sunnah

3. Khawatir harus belajar lagi
Selama ini terbiasa mengajar dan apa yang keluar hanya keluar dari otak, mengarang sendiri, menggunakan perasaan atau logika semata.

4. Malas menelusuri dalil
Kajian Sunnah agak ribet, karena harus menggunakan dalil dalam berbicara. Sementara dalam kajian umum boleh menggunakan perasaan bahkan menggunakan mimpi.

5. Ada kedengkian
Kalau ada kajian yang ramai, mereka akan mencegah atau bahkan membubarkan kajian tersebut


• Versi yang sudah belajar sunnah
1. Dakwahnya kurang simpatik, keras dan kasar, tidak mengerti tempat dan waktu

• Salah waktu
Ketika kita mau mendakwahkan orang seputar kematian tetap sedang ada acara kematian, lalu kita sampaikan bahwa berkumpul makan-makan di acara kematian maka itu sama dengan meratapi kematian.

• Salah tempat
Ketika kita bicara hukum seputar keluarga tetapi kita menyampaikan di pemakaman. Ini adalah salah tempat.

2. Melakukan Mudahanah tetapi tidak melakukan mudarah
Ketika ada 2 Ustadz yang sama-sama melakukan 3S (Senyum, Sapa, Salam)

Mudahanah secara bahasa adalah mashdar dari داهنَ – يداهن yang artinya: menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Secara istilah, mudahanah artinya menampakkan keridhaan kepada kemaksiatan tanpa ada pengingkaran, demi kepentingan duniawi.

Mudahanah terlarang dalam Islam.

Mudarah secara bahasa adalah mashdar dari دارى – يُداري /daaraa – yudaarii/ yang artinya: bersikap lembut. Secara istilah, mudarah artinya bersikap lembut kepada orang lain dan mengalah darinya agar ia tidak menjauhkan diri sehingga bisa memberi nasehat dan memperbaikinya.

Mudarah dibolehkan atau bahkan terkadang dianjurkan dalam syariat berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.



Saturday, 25 July 2026

Kajian Sabtu: Di Ujung Ketidakpastian, Ada Harapan // Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah


Kajian Sabtu
Di Ujung Ketidakpastian, Ada Harapan
Oleh: Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah
Masjid Baiturrahman, Pondok Pinang, Jakarta Selatan
Sabtu, 11 Shafar 1448 / 25 Juli 2026

Semua orang yang saling mengasihi di dunia akan saling bermusuhan di hari kiamat, kecuali orang-orang yang bertaqwa.

Nabi telah mengajarkan kita bagaimana menghadapi permasalahan dalam hidup ini. Kita tidak akan selamat dalam hidup ini kecuali meniti jalannya Nabi Muhammad. 

Kita kalau melihat sesuatu, lihatlah dengan kacamata yang indah.

Allah menjadikan hidup ini sebagai ujian, bukan tempat bersenang-senang. Sebagian kita dengan fasilitas yang diberikan ternyata diperbudak dengan hawa nafsu. 

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَٰٓئِكَةِ إِنِّى جَاعِلٌ فِى ٱلْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوٓا۟ أَتَجْعَلُ فِيهَا مَن يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ ٱلدِّمَآءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّىٓ أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Ingatlah ketika Rabbmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al Baqarah : 30) 

Allah menyebut orang-orang yang hadir di Masjid untuk belajar. Kita harus punya keyakinan bahwa Allah lebih tahu yang terbaik untuk kita. Allah tidak pernah ingkar janji.

إِنَّ ٱللَّهَ عِندَهُۥ عِلْمُ ٱلسَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ ٱلْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِى ٱلْأَرْحَامِ ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌ مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا ۖ وَمَا تَدْرِى نَفْسٌۢ بِأَىِّ أَرْضٍ تَمُوتُ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۢ

"Sesungguhnya Allah, hanya pada sisiNya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." (QS. Luqman : 34)

Berapa banyak orang yang sudah mempersiapkan diri, tapi ternyata Allah berkehendak lain. Itulah mengapa ketika kita mau melalukan sesuatu, kita ucapkan Insyaa Allah. Allah sudah membuat kepastian, bahwa tidak ada yang tahu apa yang terjadi esok hari.

Ketidakpastian memiliki banyak rupa. Ada yang takut diPHK, ada yang takut diceraikan oleh suaminya, ada yang takut digugat cerai oleh istrinya, banyak jenisnya. 

Akan datang berita yang engkau belum siap menerimanya.

Akan datang kepadamu informasi yang sebelumnya engkau tidak tahu. Apa sikap kita? Menerima takdir Allah. 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." (QS. Al Baqarah : 155) 

Sebagian wanita ketika menikah, yang biasanya dia lihat adalah harta suaminya. Dia lupa kalau harta suaminya bisa berkurang, seharusnya yang dia lihat adalah takdir Allah dan kita harus siap. 

Allah hendak menguji hamba-hambaNya, ketika diberikan musibah siapa yang mengucapkan innaa lillahi wa inna ilayhi raaji'uun dan kembali kepada Allah.

Nikmat Allah jauh lebih banyak daripada musibah yang diberikan. Seringkali musibah itu datang karena kita kurang bersyukur. 

لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِى لَشَدِيدٌ

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya adzabKu sangat pedih" (QS. Ibrahim : 7) 

Takdir kita sudah ditentukan 50.000 tahun sebelum diciptakannya langit dan bumi

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِى ٱلْأَرْضِ وَلَا فِىٓ أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِى كِتَٰبٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى ٱللَّهِ يَسِيرٌ

"Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al Hadid : 22) 

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا۟ عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا۟ بِمَآ ءَاتَىٰكُمْ ۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS. Al Hadid : 23) 

Jangan terlalu dalam ketika kita kehilangan dunia. Sedihnya seperlunya saja. Seharusnya kita sedih ketika kita melewatkan 2 rakaat sebelum Subuh. 

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيه

“Dua rakaat sunnah Fajar lebih baik daripada dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim No. 725)

Jangan terlalu dalam memandang dunia. Jangan terlalu bersedih hati. Jangan juga terlalu gembira. Karena semuanya adalah karena takdir, bukan karena usaha. Usaha bisa ditiru, tapi takdir tidak bisa ditiru.

Kalau pemberian rezeki itu karena keshalihan, maka yang berada di shaf pertama adalah orang-orang yang banyak hutang, tapi ternyata pemberian itu karena takdir. 

Di balik semua masalah, pasti selalu ada hikmah, sebagaimana ketika Aisyah radhiyallahu 'anha difitnah selingkuh. 

إِنَّ ٱلَّذِينَ جَآءُو بِٱلْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ ٱمْرِئٍ مِّنْهُم مَّا ٱكْتَسَبَ مِنَ ٱلْإِثْمِ ۚ وَٱلَّذِى تَوَلَّىٰ كِبْرَهُۥ مِنْهُمْ لَهُۥ عَذَابٌ عَظِيمٌ

"Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar." (QS. An Nuur : 11) 

Seringkali kita tidak menyadari bahwa kita hidup bersama orang munafiq, musuh dalam selimut. 

Kita terlalu sering percaya dengan diri kita, dengan pilihan kita. Kita tidak percaya dengan pilihan Allah, padahal pilihan Allah adalah yang terbaik. 

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216) 

فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّهِ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepadaNya.” (QS. Ali Imran: 159)

Kadangkali kita ingin mengeluh terhadap kondisi kita, apakah kita mengeluh kepada Allah? Kita terlalu banyak ngomong tanpa meminta kepada Allah. 

Bagaimana ketika Nabi Yaqub 'alayhissalam mengalami ketidakpastian tentang apakah Nabi Yusuf 'alayhissalam masih hidup atau tidak. 

قَالَ إِنَّمَآ أَشْكُوا۟ بَثِّى وَحُزْنِىٓ إِلَى ٱللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

"Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada mengetahuinya". (QS. Yusuf : 36)