Thursday, 2 April 2026

Kajian Kamis: Jangan Mencari Jalan Selain Jalannya Rasulullah ﷺ (Tafsir Surah An-Nisaa: 115) // Ustadz Abdullah Taslim hafizhahullah

Kajian Kamis
Jangan Mencari Jalan Selain Jalannya Rasulullah ﷺ (Tafsir Surah An-Nisaa : 155)
Oleh: Ustadz Abdullah Taslim hafizhahullah
Masjid Al Hikmah, Pondok Labu, Jakarta Selatan
Selasa, 14 Syawal 1447 / 2 April 2026

Dalam sebuah Hadits disebutkan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ خَرَجَ مُعَاوِيَةُ عَلَى حَلْقَةٍ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَمَا كَانَ أَحَدٌ بِمَنْزِلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقَلَّ عَنْهُ حَدِيثًا مِنِّي وَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ مَا أَجْلَسَكُمْ قَالُوا جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا قَالَ آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ قَالُوا وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ

Dari Abu Sa’id Al Khudri, dia berkata : "Mu’awiyah keluar menemui satu halaqah (kelompok orang yang duduk berkeliling) di dalam masjid, lalu dia bertanya,
”Apa yang menyebabkan engkau duduk?”

Mereka menjawab,
”Kami duduk berdzikir kepada Allah.”

Dia bertanya lagi,
”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?”

Mereka menjawab,
”Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?”

Dia berkata,
”Sesungguhnya aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong) kepadamu. Tidaklah ada seorangpun yang memiliki kedudukan seperti aku dari Rasulullah ﷺ, lebih sedikit haditsnya dariku. Dan sesungguhnya, Rasulullah ﷺ pernah keluar menemui satu halaqah dari para sahabat beliau. Kemudian beliau bertanya,’ Apa yang menyebabkan engkau duduk?’. "Mereka menjawab, "Kami duduk berdzikir kepada Allah.” Beliau bertanya lagi, "Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan engkau duduk, kecuali hanya itu?”

Mereka menjawab,
"Demi, Allah. Tidak ada yang menyebabkan kami duduk, kecuali hanya itu?”

Beliau ﷺ bersabda,
”Sesungguhnya, aku tidaklah meminta engkau bersumpah karena sangkaan (bohong) kepadamu. Akan tetapi Jibril telah mendatangiku, lalu memberitahukan kepadaku, bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala membanggakanmu kepada para malaikat.” (HR Muslim No. 2701)

Orang yang mensyukuri nikmat Allah, mereka akan dipuji dan dicintai oleh Allah, bahkan Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat.

Diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah sebesar-besar nikmat yang Allah limpahkan kepada seluruh manusia, khususnya orang-orang beriman.

لَقَدْ مَنَّ ٱللَّهُ عَلَى ٱلْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِهِۦ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا۟ مِن قَبْلُ لَفِى ضَلَٰلٍ مُّبِينٍ

"Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Ali Imran : 164)

Sebelum Nabi Muhammad ﷺ diutus, semua manusia berada di jalan kegelapan dan kesesatan. Kita sebagai umat Islam mensyukuri nikmat ini dengan menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai satu-satunya panutan dalam beragama, dalam mentauhidkan Allah, dan dalam seluruh ibadah di dalam agama. Ini adalah ciri iman yang sempurna.

Dari ‘Abbas bin ‘Abdil Muththalib radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

ذَاقَ طَعْمَ الإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالإِسْلامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُوْلاً

“Akan merasakan kelezatan/kemanisan iman, orang yang ridho kepada Allah sebagai Rabbnya dan Islam sebagai agamanya serta (nabi) Muhammad sebagai rasulnya” (HR. Muslim No. 34)


Ayat yang menyebutkan tentang taat kepada Allah dan RasulNya ada sekitar lebih dari 30 ayat. Seseorang tidak akan bisa mengikuti petunjuk Allah tanpa mengikuti RasulNya.

Siapa taat kepada Rasulullah, maka dia taat kepada Allah.

Ada ayat yang disebut sebagai Ayyatul Imtihan, yaitu ujian bagi yang mengaku mencintai Allah dan RasulNya.

قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Ali Imran : 31)

Bukan yang menjadi patokan bagaimana kamu mencintai, tapi yang menjadi ukuran adalah bagaimana Allah mencintaimu. Bahkan ada orang-orang yang menyimpang ada yang mengaku dicintai Allah, bahkan mengaku sebagai wali-wali Allah.

Imam Ibnul Katsir berkata tentang ayat ini:
"Ayat yang mulia ini merupakan pemutus bagi orang yang mengaku mencintai Allah, tapi dia tidak mengikuti jalan yang ditempuh oleh Allah, maka dia diputuskan sebagai pendusta."

Landasan utama dalam Islam adalah mengucapkan dua kalimat syahadat dan Rukun Islam yang lainnya. Dua kalimat bermakna seluruh Islam secara keseluruhan.

Makna syahadat أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ dalam beriman kepada Nabi Muhammad ﷺ mencakup 4 perkara
1. Wajib mentaati semua yang diperintahkan oleh Nabi Muhammad ﷺ 
2. Wajib membenarkan semua yang beliau beritakan
3. Wajib menjauhi semua yang dilarang Dan dicela oleh Nabi Muhammad ﷺ 
4. Tidak boleh beribadah kepada Allah kecuali sesuai dengan syariat yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad ﷺ 

Di sini ada keharusan mengikuti satu jalan saja, yaitu jalan yang ditempuh oleh Rasulullah ﷺ. Menyimpang dari jalan beliau, berarti kehancuran untuk seseorang.

لَّا تَجْعَلُوا۟ دُعَآءَ ٱلرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَآءِ بَعْضِكُم بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ ٱلَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِۦٓ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih." (QS. An Nuur : 63)

Menyelisihi jalan yang ditempuh oleh Nabi Muhammad ﷺ dalam beragama, maka hendaknya seseorang takut akan ditimpa keburukan dan kesesatan di dalam hatinya di dunia, atau dia akan diberikan hukuman di akhirat nanti.

بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

"Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Alquran, agar kamu menerangkan pada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan" (QS. An Nahl : 44)

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ ٱلْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِۦ جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

"Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali." (QS. An Nisaa : 115)

Islam hanya memiliki satu jalan, artinya Islam adalah satu-satunya yang pernah ditempuh oleh Rasulullah ﷺ. Maka orang-orang setelah itu, yang mengikuti jalan yang ditempuh oleh beliau, maka mereka selamat.

وَٱلسَّٰبِقُونَ ٱلْأَوَّلُونَ مِنَ ٱلْمُهَٰجِرِينَ وَٱلْأَنصَارِ وَٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُم بِإِحْسَٰنٍ رَّضِىَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا۟ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّٰتٍ تَجْرِى تَحْتَهَا ٱلْأَنْهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَآ أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ ٱلْفَوْزُ ٱلْعَظِيمُ

"Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah : 100)

Banyak yang mengatakan dengan keliru bahwasanya banyak jalan kebaikan. Karena kebenaran hanya satu, yaitu apa yang dibawakan oleh Rasulullah ﷺ, sedangkan penyimpangan itu banyak jenisnya.

ٱللَّهُ وَلِىُّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ يُخْرِجُهُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِ ۖ وَٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَوْلِيَآؤُهُمُ ٱلطَّٰغُوتُ يُخْرِجُونَهُم مِّنَ ٱلنُّورِ إِلَى ٱلظُّلُمَٰتِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ أَصْحَٰبُ ٱلنَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَٰلِدُونَ

"Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya." (QS. Al Baqarah : 257)

Jalan yang lurus hanya satu, yang kemudian disebutkan sebagai shirothol mustaqiim.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

"Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertaqwa." (QS. Al An'am : 153)

Suatu saat Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkisah,

خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ثُمَّ قَالَ هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ثُمَّ قَالَ هذه سبل و عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ثُمَّ قَرَأَ {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

“Rasulullah ﷺ membuat sebuah garis lurus bagi kami, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis lain pada sisi kiri dan kanan garis tersebut, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang banyak). Pada setiap jalan ada syetan yang mengajak kepada jalan itu,’ kemudian beliau membaca,

{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَتَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalanNya’” ([QS. Al An’am: 153] Hadits shahih diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lainnya)

Allah memudahkan kita untuk meniti jalan keselamatan dengan hanya merujuk kepada Alquran dan Hadits Nabi ﷺ dengan menghadirkan para ulama yang selalu meneliti penjelasan tentang Alquran dan Hadits. Kita tidak perlu mencari yang lain.

Itulah kenapa kita diperintahkan untuk selalu mempelajari Alquran dan Hadits Nabi ﷺ sehingga kita bisa meniti jalan kebenaran yang lurus.

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، وَقَالُوْا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Dari Anas Radhiyallahu anhu ia berkata,
“Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah Beliau ﷺ. Lalu setelah mereka diberitahukan (tentang ibadah Beliau ﷺ), mereka menganggap ibadah Beliau ﷺ itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi ﷺ, Beliau ﷺ telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian, Rasulullah ﷺ mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepadaNya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari No. 5063 dan Muslim No. 1401)

Adz-Dzahabi rahimahullah mengatakan termasuk dalam dosa besar adalah mengingkari hadits ini.

Bukan hanya orang yang malas beribadah, namun yang berlebihan juga menyimpang. Penyimpangan adalah anti terhadap Islam dan ada juga yang berlebihan dalam ibadah. Beragama harus pas di dalam Islam, tidak malas dan tidak pula berlebihan.

Di antara poin dari Hadits tersebut adalah:
1. Ada yang terlalu bersemangat di dalam beribadah, tapi ternyata ini menyimpang

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata yang baik) di hadapan penguasa yang dzalim.” (HR. Abu Daud no. 4344, Tirmidzi no. 2174, Ibnu Majah no. 4011

2. Amal shalih bukanlah dinilai dari semangat dan keseriusan manusia. Yang terbaik adalah mengikuti contoh dan petunjuk Nabi ﷺ, karena Allah lebih mengetahui kebutuhan hamba-hambaNya.

Dari Abu Juhaifah Wahb bin ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mempersaudarakan antara Salman dan Abu Darda’. Suatu ketika, Salman berkunjung ke rumah Abu Darda’ dan melihat Ummu Darda’ (istri Abu Darda’) dalam keadaan berpakaian lusuh. Salman bertanya kepadanya, ‘Apa yang terjadi padamu?’ Ummu Darda’ menjawab, ‘Saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak lagi mempedulikan urusan dunia.’

Tidak lama kemudian, Abu Darda’ datang dan menyiapkan makanan untuk Salman. Ketika makanan siap, Abu Darda’ berkata, ‘Makanlah, karena saya sedang berpuasa.’ Salman menjawab, ‘Saya tidak akan makan sebelum engkau juga makan.’ Maka Abu Darda’ pun makan.

Pada malam harinya, Abu Darda’ bangun untuk melaksanakan shalat malam. Namun Salman berkata, ‘Tidurlah.’ Abu Darda’ pun kembali tidur. Ketika ia bangun lagi untuk shalat malam, Salman kembali berkata, ‘Tidurlah.’ Hingga saat menjelang akhir malam, Salman berkata, ‘Sekarang bangunlah,’ lalu mereka berdua melaksanakan shalat bersama.

Setelah selesai, Salman memberikan nasihat kepada Abu Darda’,

إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، وَلأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا ، فَأَعْطِ كُلَّ ذِى حَقٍّ حَقَّهُ

‘Sesungguhnya, Rabbmu memiliki hak atasmu, dirimu juga memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka, tunaikanlah hak masing-masing.’

Abu Darda’ kemudian mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan kejadian tersebut. Nabi pun bersabda, ‘Salman benar.'” (HR. Bukhari no. 1968)

3. Niat yang baik tidak cukup untuk menjadikan sesuatu sebuah amalan yang baik.

Islam selalu mengajarkan bahwasanya niat yang baik harus diiringi dengan perbuatan yang baik, dan yang pasti harus sesuai dengan contoh dan petunjuk Nabi ﷺ.
 
Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh ‘Umar bin Al-Khattab radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda,

إنَّمَا الأعمَال بالنِّيَّاتِ وإِنَّما لِكُلِّ امريءٍ ما نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُولِهِ فهِجْرَتُهُ إلى اللهِ ورَسُوْلِهِ ومَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُها أو امرأةٍ يَنْكِحُهَا فهِجْرَتُهُ إلى ما هَاجَرَ إليهِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari No. 1 dan Muslim No. 1907)

Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari No. 20 dan Muslim No. 1718)

Tidak ada jalan keselamatan kecuali dengan mengikuti petunjuk dan contoh dari Rasulullah ﷺ dan bagaimana para Sahabat radhiyallahu 'anhuma melakukannya.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam tafsirnya berkata,
”Dan ini disebabkan, karena jalan yang mengantarkan (seseorang) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala hanyalah satu. Yaitu sesuatu yang dengannya, Allah mengutus para rasulNya dan menurunkan kitab-kitabNya. Tiada seorangpun yang dapat sampai kepadaNya, kecuali melalui jalan ini. Seandainya manusia datang dengan menempuh semua jalan, lalu mendatangi setiap pintu dan meminta agar dibukakan, niscaya seluruh jalan tertutup dan terkunci buat mereka; terkecuali melalui jalan yang satu ini. Karena jalan inilah, yang berhubungan dengan Allah dan bisa mengantarkan kepadaNya." (At-Tafsir Al Qayyim)

Saturday, 14 March 2026

Kajian I'tikaf Malam 25: Tadabbur Alquran // Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah

Kajian I'tikaf Malam 25 Ramadhan 1447
Tadabbur Alquran
Oleh: Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Sabtu, 25 Ramadhan 1447 / 14 Maret 2026
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan

Orang-orang yang suka bermaksiat, mereka merasakan kelezatan. Begitupun sebaliknya, mereka yang berada di atas ketaatan, mereka pun merasakan kelezatan. Itu sebabnya Allah menjadikan Alquran ada kelezatan bagi yang membacanya.

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

"Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar" (QS. Al Isra' : 9)

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)

Setiap orang yang ingin mentadabburi Alquran dan menghapal Alquran, Allah mudahkan semua jalan bagi mereka.

Menghapal Alquran itu hendaknya memiliki hapalan surah sesuai dengan usia kita. Jika usia kita 40 tahun, kita harus memiliki hapalan 40 surah.

Kaum Salaf menghapal Alquran. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang menjaga Alquran.

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan." (QS. Al Qadr : 1)

Dengan Alquran, semuanya menjadi yang terbaik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab Alquran ini beberapa kaum dan juga dengan kitab Alquran ini Allah merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim)

Kalau seseorang ingin diangkat derajatnya oleh Allah, maka hendaknya dia membaca Alquran.

Utsman bin Affan adalah Sahabat yang mengkhatamkan Alquran 1 Rakaat shalat, beliau berkata:
"Sekiranya hati kita ini bersih, tidaklah ia akan jemu (bosan) membaca Kalamullah (Alquran)"

Namun ketika kita memiliki hapalan Alquran, tapi kita tidak memiliki iman, maka itu tidak akan bermanfaat.

Kalau kita ingin membaca dengan benar, maka ikuti bagaimana Rasulullah ﷺ membacanya.

1. Membacanya dengan tartil
Allah perintahkan kepada kita membaca Alquran dengan tartil.

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

"Dan bacalah Alquran itu dengan tartil." (QS. Al-Muzammil: 4)

Guru Alquran ada 2, yaitu:
1. Guru amanah, yaitu dia tidak akan memberikan persaksian kecuali itu benar-benar sudah teruji. Dia tidak akan memberikan sanad sampai orang itu benar-benar pantas mendapatkannya.

2. Guru tidak amanah, yaitu guru yang mengobral sanadnya. Sanadnya diperjualbelikan.

Kalau kita ingin belajar Alquran, maka belajarlah dari guru yang amanah.

2. Bacalah dengan setiap satu ayat.

3. Membaca dengan benar dan bagus
Orang yang mentadabburi Alquran, dia tidak akan mencapai tadabbur yang maksimal sampai ia memiliki bacaan yang bagus

Orang-orang suka memurojaah bacaan Alquran hingga mutqin, dia akan memiliki bacaan yang bagus.

 مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا 

Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
“Barangsiapa tidak memperindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari kami.” (HR. Abu Daud)

Jangan pernah sepelekan mempelajari bagusnya membaca Alquran.

Tadabbur terkadang bisa dilakukan dengan satu ayat kemudian diulang terus menerus.

Milikilah target minimal kita memiliki hapalan 1 Juz tapi berkualitas, terutama seperti kuatnya bacaan Al Fatihah. Tidak ada waktu yang lebih afdhol dalam mentadabburi Alquran kecuali dalam shalat.

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ adalah beliau senang mendengarkan Alquran dari para Sahabat.

4. Hendaknya menghadirkan keyakinan bahwa dia akan mendapatkan kebaikan dan pahala ketika membaca Alquran 

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)

Manusia sangat tamak kepada dunia, maka kita butuh iman. Dengan iman, maka kita akan tamak dengan amal shalih.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

5. Sempurnakan 4 kaidah dalam membaca Alquran
Membaca Alquran dengan tartil mencakup 4 pokok bahasan, di mana seseorang dikatakan benar dalam membaca Alquran yaitu:
1. Bisa membedakan mana yang 2 harakat, 4, 5, atau 6 harakat.

Banyak imam masjid yang melakukan kesalahan dalam membaca Alquran. Hendaknya seseorang tidak bermudah-mudahan dalam tajwid.

Hendaknya mereka membaca Alquran sesuai apa dengan yang diturunkan.

Banyak juga yang membaca huruf muqotho'ah seperti الم، كهيعص، حم، dan yang lainnya, itu bisa terjadi banyak kesalahan.

2. Ketika membaca Al Fatihah, harus memerhatikan makharijul huruf dan sifatul huruf, yaitu tempat keluarnya huruf dan sifat-sifat huruf.

Tajwid adalah praktik, bukan teori yang menggunakan papan tulis. Jika mempelajari tajwid dengan teori, maka itu akan menyulitkan kaum Muslimin. Indonesia ini banyak teori, membuat metode lalu dijual di sekolah.

Qiroat yaitu mengambil dari orang yang lebih dulu mempelajarinya, kita belajar dari mereka. Yang penting adalah kita bisa mempraktikkannya, bukan teorinya.

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)

فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al Qiyamah : 18)

Yang terpenting juga kita belajar dengan guru yang amanah, tidak perlu bersanad. Banyak guru di sini yang justru menjual sanadnya dan tidak amanah. Jangan tertipu dengan sanad. Sanad bukan tujuan.

Ketika seseorang membaca Al Fatihah, minimal tajwidnya tepat. Ketika huruf yang keluar mengubah huruf bacaannya, maka ini termasuk kesalahan yang fatal. Jangan sampai huruf berubah terlalu jauh.

Berkaitan dengan masalah huruf, kalau tidak jeli, maka bunyinya bisa berubah seperti huruf syafatain و، ب، ف dan م.

Maka tidak bisa sembarangan seseorang bisa menjadi imam dalam shalat, begitupun dengan yang berdiri di belakang imam.

Hendaklah yang di belakang imam adalah orang yang berilmu.

Dari Abu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasanya mengusap pundak-pundak (untuk meluruskan) kami ketika hendak shalat, beliau bersabda, “Luruskan dan jangan berselisih niscaya hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada di dekatku orang orang yang berilmu dan berakal kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Muslim)

3. Perhatikan ghunnah dan tidak ghunnah
Ghunnah memiliki bunyi yang beda semisal ن bertemu dengan س atau ن bertemu dengan ق.

Kalau ada orang yang bisa membedakan yang dengung dengan tidak dengung, maka itu sudah bagus di awal. Harus bisa membedakan antara dengan yang dengung dan tidak dengung, walaupun secara kesempurnaan memiliki dengung yang berbeda.

4. Ucapkan huruf dan harakat dengan jelas
Kita harus bisa mengucapkan huruf dengan jelas seperti ketika mengucapkan fathah, kasrah, dan dhommah.

Maka itu, ngaji tidak boleh malu-malu.

Sebagian orang, karena malas menggerakkan mulutnya, bacaannya tidak keluar dengan jelas ketika membaca Alquran. Itu karena rasa malas atau setengah hati. Membaca Alquran harus sempurna dalam bacaannya.

Ketika kita bisa membaca dengan 4 poin ini, insyaa Allah tajwid umumnya sudah dapat. Maka kita sudah bisa membaca dengan baik.

Semangatlah dalam membaca Alquran. Belajar dari guru-guru yang amanah. Biasakan juga untuk mendengarkan murottal.

Memperbagus ngaji bukan hanya untuk terdengar indah saja, tapi harus bisa merasuk ke dalam hati.