Tadabbur Alquran
Oleh: Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Sabtu, 25 Ramadhan 1447 / 14 Maret 2026
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Orang-orang yang suka bermaksiat, mereka merasakan kelezatan. Begitupun sebaliknya, mereka yang berada di atas ketaatan, mereka pun merasakan kelezatan. Itu sebabnya Allah menjadikan Alquran ada kelezatan bagi yang membacanya.
إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا
"Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar" (QS. Al Isra' : 9)
مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ
"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)
Setiap orang yang ingin mentadabburi Alquran dan menghapal Alquran, Allah mudahkan semua jalan bagi mereka.
Menghapal Alquran itu hendaknya memiliki hapalan surah sesuai dengan usia kita. Jika usia kita 40 tahun, kita harus memiliki hapalan 40 surah.
Kaum Salaf menghapal Alquran. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang menjaga Alquran.
إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ
"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan." (QS. Al Qadr : 1)
Dengan Alquran, semuanya menjadi yang terbaik.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ
“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab Alquran ini beberapa kaum dan juga dengan kitab Alquran ini Allah merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim)
Kalau seseorang ingin diangkat derajatnya oleh Allah, maka hendaknya dia membaca Alquran.
Utsman bin Affan adalah Sahabat yang mengkhatamkan Alquran 1 Rakaat shalat, beliau berkata:
"Sekiranya hati kita ini bersih, tidaklah ia akan jemu (bosan) membaca Kalamullah (Alquran)"
Namun ketika kita memiliki hapalan Alquran, tapi kita tidak memiliki iman, maka itu tidak akan bermanfaat.
Kalau kita ingin membaca dengan benar, maka ikuti bagaimana Rasulullah ﷺ membacanya.
1. Membacanya dengan tartil
Allah perintahkan kepada kita membaca Alquran dengan tartil.
وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا
"Dan bacalah Alquran itu dengan tartil." (QS. Al-Muzammil: 4)
Guru Alquran ada 2, yaitu:
1. Guru amanah, yaitu dia tidak akan memberikan persaksian kecuali itu benar-benar sudah teruji. Dia tidak akan memberikan sanad sampai orang itu benar-benar pantas mendapatkannya.
2. Guru tidak amanah, yaitu guru yang mengobral sanadnya. Sanadnya diperjualbelikan.
Kalau kita ingin belajar Alquran, maka belajarlah dari guru yang amanah.
2. Bacalah dengan setiap satu ayat.
3. Membaca dengan benar dan bagus
Orang yang mentadabburi Alquran, dia tidak akan mencapai tadabbur yang maksimal sampai ia memiliki bacaan yang bagus
Orang-orang suka memurojaah bacaan Alquran hingga mutqin, dia akan memiliki bacaan yang bagus.
مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا
Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
“Barangsiapa tidak memperindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari kami.” (HR. Abu Daud)
Jangan pernah sepelekan mempelajari bagusnya membaca Alquran.
Tadabbur terkadang bisa dilakukan dengan satu ayat kemudian diulang terus menerus.
Milikilah target minimal kita memiliki hapalan 1 Juz tapi berkualitas, terutama seperti kuatnya bacaan Al Fatihah. Tidak ada waktu yang lebih afdhol dalam mentadabburi Alquran kecuali dalam shalat.
Di antara kebiasaan Nabi ﷺ adalah beliau senang mendengarkan Alquran dari para Sahabat.
4. Hendaknya menghadirkan keyakinan bahwa dia akan mendapatkan kebaikan dan pahala ketika membaca Alquran
Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ
“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)
Manusia sangat tamak kepada dunia, maka kita butuh iman. Dengan iman, maka kita akan tamak dengan amal shalih.
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)
5. Sempurnakan 4 kaidah dalam membaca Alquran
Membaca Alquran dengan tartil mencakup 4 pokok bahasan, di mana seseorang dikatakan benar dalam membaca Alquran yaitu:
1. Bisa membedakan mana yang 2 harakat, 4, 5, atau 6 harakat.
Banyak imam masjid yang melakukan kesalahan dalam membaca Alquran. Hendaknya seseorang tidak bermudah-mudahan dalam tajwid.
Hendaknya mereka membaca Alquran sesuai apa dengan yang diturunkan.
Banyak juga yang membaca huruf muqotho'ah seperti الم، كهيعص، حم، dan yang lainnya, itu bisa terjadi banyak kesalahan.
2. Ketika membaca Al Fatihah, harus memerhatikan makharijul huruf dan sifatul huruf, yaitu tempat keluarnya huruf dan sifat-sifat huruf.
Tajwid adalah praktik, bukan teori yang menggunakan papan tulis. Jika mempelajari tajwid dengan teori, maka itu akan menyulitkan kaum Muslimin. Indonesia ini banyak teori, membuat metode lalu dijual di sekolah.
Qiroat yaitu mengambil dari orang yang lebih dulu mempelajarinya, kita belajar dari mereka. Yang penting adalah kita bisa mempraktikkannya, bukan teorinya.
مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ
"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)
فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ
"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al Qiyamah : 18)
Yang terpenting juga kita belajar dengan guru yang amanah, tidak perlu bersanad. Banyak guru di sini yang justru menjual sanadnya dan tidak amanah. Jangan tertipu dengan sanad. Sanad bukan tujuan.
Ketika seseorang membaca Al Fatihah, minimal tajwidnya tepat. Ketika huruf yang keluar mengubah huruf bacaannya, maka ini termasuk kesalahan yang fatal. Jangan sampai huruf berubah terlalu jauh.
Berkaitan dengan masalah huruf, kalau tidak jeli, maka bunyinya bisa berubah seperti huruf syafatain و، ب، ف dan م.
Maka tidak bisa sembarangan seseorang bisa menjadi imam dalam shalat, begitupun dengan yang berdiri di belakang imam.
Hendaklah yang di belakang imam adalah orang yang berilmu.
Dari Abu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasanya mengusap pundak-pundak (untuk meluruskan) kami ketika hendak shalat, beliau bersabda, “Luruskan dan jangan berselisih niscaya hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada di dekatku orang orang yang berilmu dan berakal kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Muslim)
3. Perhatikan ghunnah dan tidak ghunnah
Ghunnah memiliki bunyi yang beda semisal ن bertemu dengan س atau ن bertemu dengan ق.
Kalau ada orang yang bisa membedakan yang dengung dengan tidak dengung, maka itu sudah bagus di awal. Harus bisa membedakan antara dengan yang dengung dan tidak dengung, walaupun secara kesempurnaan memiliki dengung yang berbeda.
4. Ucapkan huruf dan harakat dengan jelas
Kita harus bisa mengucapkan huruf dengan jelas seperti ketika mengucapkan fathah, kasrah, dan dhommah.
Maka itu, ngaji tidak boleh malu-malu.
Sebagian orang, karena malas menggerakkan mulutnya, bacaannya tidak keluar dengan jelas ketika membaca Alquran. Itu karena rasa malas atau setengah hati. Membaca Alquran harus sempurna dalam bacaannya.
Ketika kita bisa membaca dengan 4 poin ini, insyaa Allah tajwid umumnya sudah dapat. Maka kita sudah bisa membaca dengan baik.
Semangatlah dalam membaca Alquran. Belajar dari guru-guru yang amanah. Biasakan juga untuk mendengarkan murottal.
Memperbagus ngaji bukan hanya untuk terdengar indah saja, tapi harus bisa merasuk ke dalam hati.