Saturday, 21 February 2026

Kajian Sabtu: Saatnya All Out - Rahasia Rasulullah ﷺ di 10 Hari Terakhir // Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah

Kajian Sabtu
Saatnya All Out! Rahasia Rasulullah ﷺ di 10 Hari Terakhir
Oleh: Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Ajwad Resto Kebayoran, Jakarta Selatan
Sabtu, 3 Ramadhan 1447 / 21 Feb 2026

Dari Mu’awiyah radhiallahu’anhu, beliau berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَن يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْه في الدينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya, niscaya Allah akan jadikan ia faham dalam agama” (Muttafaqun ‘alaihi).

Ibnul Jauzi rahimahullah pernah menggambarkan kerinduan luar biasa penghuni kubur akan keutamaan bulan Ramadhan. Beliau berkata, "Demi Allah, seandainya ditanyakan kepada penghuni kubur: 'Berangan-anganlah!', tentunya mereka pasti akan berangan-angan sehari saja pada bulan Ramadhan" (At-Tabshirah 2/78)

Kalau sudah belajar Tauhid, tidak ada sesuatu yang lebih membahagiakan selain kita tahu bahwa Allah mengampuni dosa-dosa kita.

Bertaubat bukanlah perkara mudah. Ia membutuhkan perjuangan, pengorbanan, kesabaran, dan proses yang tidak sebentar, bukan sesuatu yang bisa selesai dalam satu atau dua hari saja. Ini tercermin dari kisah tiga sahabat Nabi ﷺ: Ka’ab bin Malik, Murarah bin Rabi’ Al-Amiri, dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.

Rasulullah ﷺ kemudian memerintahkan agar ketiganya diboikot oleh seluruh kaum Muslimin. Tidak ada yang boleh menyapa, berbicara, atau berinteraksi dengan mereka. Madinah terasa asing. Ka’ab tetap salat berjamaah, tapi seakan tak terlihat. Murarah dan Hilal bahkan hanya berdiam diri di rumah, menangis setiap hari.

Suatu hari, Ka’ab menerima surat dari Raja Ghassan yang mengajaknya bergabung ke wilayahnya. Ini godaan besar. Tapi Ka’ab langsung membakar surat itu. Ia sadar ini ujian dari Allah ﷻ.
 
Setelah 40 hari, datang perintah tambahan dari Rasulullah ﷺ: mereka harus berpisah dari istri mereka. Ka’ab bertanya, “Apakah aku harus menceraikannya?” Utusan menjawab, “Tidak, tapi jangan mendekatinya.” Maka Ka’ab meminta istrinya kembali ke rumah orang tuanya. Hilal pun melakukan hal yang sama, tetapi istrinya meminta izin kepada Rasulullah ﷺ untuk tetap merawat suaminya yang sudah tua dan lemah. Nabi ﷺ mengizinkan. Hilal terus menangis setiap hari, bukan karena dunia, tapi karena takut kepada Allah ﷻ.

Akhirnya, pada hari ke-50, datanglah kabar gembira: Allah telah menerima taubat mereka bertiga. Allah ﷻ berfirman,

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

“Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan tobat mereka), hingga apabila bumi terasa sempit bfagi mereka, padahal bumi itu luas, dan jiwa mereka pun terasa sempit, serta mereka yakin bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah selain kepadaNya. Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (QS At-Taubah: 118)

Untuk mendapatkan Lailatul Qadr harus disertakan dengan kesungguhan sejak awal hingga akhir Ramadhan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

ﻭَ ﻟِﻠَّﻪِ ﻋُﺘَﻘَﺎﺀُ ﻣِﻦَ ﺍﻟﻨَّﺎﺭِ، ﻭَ ﺫَﻟِﻚَ ﻛُﻞَّ ﻟَﻴْﻠَﺔٍ

“Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka, yang demikian itu terjadi pada setiap malam.” (HR. At-Tirmidzi)

Seandainya di malam pertama masih beribadah sekadarnya, puasa tapi masih berdusta, puasa tapi masih bolong tarawihnya, maka jangan putus asa untuk mendapatkan ampunan Allah. Kita harus selalu berharap dengan ampunan Allah di setiap malam bulan Ramadhan.

Jangan sampai kita menjadi orang yang diaamiinkan Rasulullah ﷺ.

Ada tiga kelompok orang yang dido‘akan dengan kejelekan oleh Jibril dan diaamiinkan oleh Rasulullah ﷺ, mereka itu adalah:
1. Orang yang mendapati bulan Ramadhan tetapi dia tidak diampuni (setelah keluar darinya).
2. Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, tetapi ia masuk ke dalam Neraka.
3. Orang yang disebutkan di hadapannya nama Nabi ﷺ, tetapi ia tidak bershalawat kepadanya.

Al-Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Malik bin al-Huwairits radhiyallahu 'anhu, beliau berkata.

صعِد رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم المنبرَ فلمَّا رقِي عَتبةً قال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً أخرى فقال: ( آمينَ ) ثمَّ رقي عتبةً ثالثةً فقال: ( آمينَ ) ثمَّ قال: ( أتاني جبريلُ فقال: يا محمَّدُ مَن أدرَك رمضانَ فلم يُغفَرْ له فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ قال: ومَن أدرَك والديه أو أحدَهما فدخَل النَّارَ فأبعَده اللهُ قُلْتُ: آمينَ فقال: ومَن ذُكِرْتَ عندَه فلم يُصَلِّ عليكَ فأبعَده اللهُ، قُلْ: آمينَ، فقُلْتُ: آمينَ 

“Rasulullah ﷺ naik ke atas mimbar, ketika beliau naik ke atas tangga, beliau berkata ‘Aamiin,’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat kedua) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau naik lagi ke atas tangga (tingkat ketiga) dan berkata, ‘Aamiin’ lalu beliau berkata, ‘Jibril datang kepadaku dan berkata, ‘Wahai Muhammad, siapa saja yang mendapati bulan Ramadhan dan dia tidak diampuni, maka Allah akan melaknatnya.’ Lalu aku (Rasulullah ﷺ) berkata: ‘Aamiin.’”

Jibril berkata lagi, ‘Dan siapa saja yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu dia masuk ke dalam Neraka, maka Allah akan menjauhkannya dari rahmatNya.’ Aku katakan, ‘Aamiin.’

Jibril berkata lagi, ‘Siapa saja yang ketika namamu disebutkan, lalu ia tidak bershalawat kepadamu, maka Allah akan melaknatnya, katakanlah aamiin, lalu aku katakan, ‘Aamiin.’ (HR. Ath-Thabrani)

Dari semua hari bulan Ramadhan, 10 hari terakhir adalah yang paling utama.
Amalan
1. Jangan lupa berpuasa dengan niat yang ikhlas 
Jangan sekadar puasa, karena ada orang yang berpuasa hanya menahan lapar dan haus.

Imam Rajab berkata,
"Tingkatan puasa paling rendah adalah menahan lapar dan haus"

Jangan merasa sukses dengan itu, tetapi kita harus naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Rasulullah ﷺ bersabda:

من لم يدَعْ قولَ الزُّورِ والعملَ بِهِ ، فليسَ للَّهِ حاجةٌ بأن يدَعَ طعامَهُ وشرابَهُ

“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, melakukan kedustaan serta berbuat buruk, maka Allah Ta’ala tidak butuh ia meninggalkan makannya dan minumnya.” (HR. Bukhari)

Dari Sahl bin Sa’ad Radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ bersabda:

عن سهل بن سعد رضي الله عنه عن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «فِي الجَنَّةِ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابٍ، فِيْهَا بَابٌ يُسَمَّى الرَّيَّانَ لا يَدْخُلُهُ إلَّا الصَّائِمُونَ. متفق عليه

“Di surga itu ada delapan pintu. Di antaranya ada satu pintu yang dinamakan ar-Rayyan, tidak bisa memasukinya kecuali orang-orang yang puasa.” (Muttafaqun ‘alaih).

Semakin kita mendekat kepada Allah, maka kita akan semakin diuji. Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi pernah bertaqwa.

2. Fokuslah untuk banyak memperbanyak membaca Alquran

Kalau seseorang mengetahui bahwa Ramadhan itu bernilai, maka dia tidak akan main-main.

Bulan Ramadhan ini adalah bulannya Alquran.

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." (QS. Al Baqarah : 185)

Kalau kita belajar agama tapi belum pada sampai kesimpulan antara benar-salah, halal-haram, sunnah-bid'ah, maka kita belum benar belajarnya. Seseorang yang belajar agama harus bisa membedakan semuanya.

Alquran memiliki banyak keutamaan. Alquran terdiri dari 604 halaman, 15 baris, dan 6236 ayat.

Ketika Nabi ﷺ membaca Alquran, beliau menyebutkan setiap hurufnya.

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ وَالحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا , لاَ أَقُوْلُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيْمٌ حَرْفٌ”

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka baginya satu kebaikan. Satu kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif laam miim itu satu huruf, tetapi aliif itu satu huruf, laam itu satu huruf, dan miim itu satu huruf.” (HR. Tirmidzi No. 2910)

Kita harus memiliki sifat tamak terhadap setiap huruf yang kita baca dari Alquran.

Orang yang hapal Alquran dimuliakan oleh Nabi ﷺ di dalam hidup dan matinya.

Praktik membaca Alquran secara berjamaah Tundalah sesuai sunnah, karena tidak pernah ada di zaman Rasulullah ﷺ.

Khatam Alquran adalah membaca dari awal Al Fatihah hingga An-Naas sendirian, bukan dibagi menjadi beberapa orang yang membaca setiap juznya.

Tidak ada kitab yang paling mudah untuk dipelajari kecuali Alquran.

Allah Ta'ala berfirman:

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْءَانَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ

"Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran" (QS. al-Qamar : 17)

Ada 2 pahala yang didapatkan oleh orang yang belajar membaca Alquran:
1. Pahala untuk mempelajarinya; dan
2. Pahala membaca Alquran

Tidak ada kata terlambat bagi seseorang yang ingin memperbaiki agamanya karena Allah.

3. I'tikaf
I'tikaf di Masjid Nabawi lebih afdhol daripada i'tikaf di Masjidil Haram, karena Nabi ﷺ beri'tikaf di Masjid Nabawi.

Kalau tidak ada dalil khusus yang menyebutkan suatu ibadah, maka kita jangan bermudah-mudahan dalam menyimpulkan suatu ibadah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
"Jika tidak ada dalil khusus terhadap ibadah, maka afdholnya dikembalikan kepada maslahat masing-masing orang."

Nabi ﷺ selalu melakukan i'tikaf.

Wanita lebih afdhol i'tikaf di masjid atau di rumah? Maka jawabannya adalah tergantung maslahatnya dan mendahulukan yang wajib daripada yang sunnah.

Namun ketika shalat Tarawih, maka wanita lebih afdhol melakukannya di rumah, tapi jangan larang mereka ke masjid.

Semua orang pasti mendapatkan malam Lailatul Qadr, tapi pertanyaannya, ketika Lailatul Qadr itu turun, kita sedang apa? Ada yang bersungguh-sungguh beribadah, ada yang lalai, ada yang membaca Alquran, dan sebagainya.

Ketika kita i'tikaf, para ulama berbeda pendapat, yaitu:
- Sebagian ulama berpendapat harus full, mencontoh Nabi ﷺ.
- Sebagian ulama lainnya berpendapat cukup mengambil malamnya saja.

Pendapat yang lebih kuat -insyaa Allah- adalah pendapat ketiga, yaitu:
- Selama niatnya dari rumah berangkat ke masjid, maka itulah i'tikaf walaupun berdiam sejenak.

I'tikaf itu sebenarnya adalah memutuskan hubungan dengan makhluk dan berkhalwat dengan Allah.

Jangan sampai kita meninggalkan kewajiban untuk sesuai yang sunnah. Jangan juga terlalu banyak tidur.

تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ ٱلْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

"Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan." (QS. As-Sajdah : 16)

4. Memperpanjang atau memperlama shalat Tarawih

Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ مَعَ اْلإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَة

“Barangsiapa qiyamul lail bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya (pahala) qiyam satu malam (penuh).” (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah, Nasa’i, dan lain-lain)

Shalat Tarawih yang dilakukan oleh Nabi ﷺ tidak pernah lebih dari 11 Rakaat. Hadits yang menyebutkan Nabi ﷺ melakukan shalat Tarawih 20 Rakaat adalah hadits Palsu. Lalu riwayat yang melakukan Tarawih 23 Rakaat haditsnya adalah lemah.

5. Membaca dzikir 
Di antara dzikir yang pernah ditanyakan oleh Aisyah adalah dzikir berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata, “Aku pernah bertanya pada Rasulullah ﷺ, yaitu jika saja ada suatu hari yang aku tahu bahwa malam tersebut adalah Lailatul Qadr, lantas apa doa yang mesti kuucapkan?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Berdoalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu’anni (Ya Allah, Engkau Maha Memberikan Maaf dan Engkau suka memberikan maaf—menghapus kesalahan–, karenanya maafkanlah aku—hapuslah dosa-dosaku–).” (HR. Tirmidzi No. 3513 dan Ibnu Majah No. 3850)

6. Membayar Zakat Fitnah
Jangan sampai terlewat membayar Zakat Fitnah. Semakin dekat dengan waktu I'd, maka itu yang lebih afdhol. Wajib berzakat fitrah dengan makanan pokok.

Lailatul Qadr adalah pembahasan yang sangat luas. Carilah Lailatul Qadr berdasarkan hadits Nabi ﷺ pada 10 hari terakhir Ramadhan di malam-malam ganjil.

Berkaitan dengan 10 hari terakhir, Rasulullah ﷺ pernah ditanya, "Apakah amal yang paling afdhol?"

تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

"Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini Nabawi selama sebulan penuh." (HR. Thabrani)

Jangan pernah menghitung-hitung pemberian kita kepada orang lain. Berikan yang terbaik di sisi Allah sesuai dengan kemampuan kita.

Tuesday, 17 February 2026

Kajian Selasa: Bayangan Kemuliaan // Ustadz Subhan Bawazier hafizhahullah

Kajian Selasa
Bayangan Kemuliaan
Oleh: Ustadz Subhan Bawazier hafizhahullah
Masjid Al Ibadah, Kemang Selatan, Jakarta Selatan
Selasa, 29 Sya'ban 1447 / 17 Feb 2026

Surga adalah tempat yang paling tinggi, tempat di mana Allah mengumpulkan orang-orang shalih. Kita tidak akan sampai ke surga kalau tidak mendaki jalannya yang benar.

وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَٰلِدِينَ

"Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". (QS. Az Zumar : 73)

Setiap orang akan dimasukkan ke dalam surga secara berkelompok, semisal orang-orang yang bersedekah akan masuk ke dalam surga dengan kelompoknya, begitupun dengan mereka yang shalat, puasa, dan amal shalih lainnya secara umum.

Di akhirat nanti tidak ada alternatif tempat ketiga. Hanya ada dua tempat, yaitu surga dan neraka. Kalau mau masuk surga, maka perbanyak amal shalih.

Rasulullah ﷺ bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :   كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى ، قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَأْبَى ؟ قَالَ : مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Semua umatku akan masuk surga kecuali yang enggan", para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Siapakah yang enggan?” Beliau ﷺ menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya ia akan masuk surga, dan siapa yang bermaksiat kepadaku maka dia enggan (untuk masuk surga).” (HR. Bukhari dalam shahihnya Kitab al-I’tisham Bil Kitab Wa as-Sunnah, Bab al-Iqtida’ Bi Sunani Rasulillah No. 7280, al-Imam Ahmad dalam musnadnya No. 8728, dan al-Imam al-Hakim dalam al- Mustadrak, Kitab al-Iman No. 182)

وَقَالُوا۟ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى صَدَقَنَا وَعْدَهُۥ وَأَوْرَثَنَا ٱلْأَرْضَ نَتَبَوَّأُ مِنَ ٱلْجَنَّةِ حَيْثُ نَشَآءُ ۖ فَنِعْمَ أَجْرُ ٱلْعَٰمِلِينَ

"Dan mereka mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya kepada kami dan telah (memberi) kepada kami tempat ini sedang kami (diperkenankan) menempati tempat dalam surga di mana saja yang kami kehendaki; maka surga itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal". (QS. Az Zumar : 74)

Di hati ada iman. Di hati pun ada niat. Maka kita tidak akan bisa beriman tanpa niat.

Banyak tempat di surga. Di manapun kita berada, walau hanya di pinggir surga, sudah cukup membuat kita bersyukur.

Kalau mau ke surga, beramal-lah sesuai dengan apa yang Allah firmankan, Nabi ﷺ sabdakan, dan Sahabat lakukan.

إِنَّ ٱلْمُتَّقِينَ فِى جَنَّٰتٍ وَنَهَرٍ
فِى مَقْعَدِ صِدْقٍ عِندَ مَلِيكٍ مُّقْتَدِرٍۭ

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Rabb Yang Berkuasa." (QS. Al Qamar : 54-55)

وَعَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – :  لَقِيْتُ إبْرَاهِيمَ لَيلَةَ أُسْرِيَ بِي ، فَقَالَ : يَا مُحَمّدُ أَقْرِىءْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلاَمَ ، وَأَخْبِرْهُمْ أنَّ الجَنَّةَ طَيَّبَةُ التُّرْبَةِ ، عَذْبَةُ الماءِ ، وأنَّهَا قِيعَانٌ وأنَّ غِرَاسَهَا : سُبْحَانَ اللهِ ، والحَمْدُ للهِ ، وَلاَ إلهَ إِلاَّ اللهُ ، واللهُ أكْبَرُ  .

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Aku bertemu Ibrahim pada malam aku diperjalankan (Isra’ Mi’raj). Ibrahim berkata, ‘Wahai Muhammad, bacakan salam dariku untuk umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa surga itu tanahnya harum, airnya segar, tanahnya luas/ lapang, dan tanamannya adalah Subhanallah walhamdulillah wa laa ilahaa ilaallah wallahu akbar‘ (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar).’” (HR. Tirmidzi)

Seharusnya kita tidak berlebihan dalam kehidupan, sehingga kita tidak menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Sebentar lagi Ramadhan, maka perbanyaklah membaca Alquran. Ambil nikmat dari Allah melalui Alquran.

إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي مَقَامٍ أَمِينٍ (51) فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (52) يَلْبَسُونَ مِنْ سُنْدُسٍ وَإِسْتَبْرَقٍ مُتَقَابِلِينَ (53) كَذَلِكَ وَزَوَّجْنَاهُمْ بِحُورٍ عِينٍ (54) يَدْعُونَ فِيهَا بِكُلِّ فَاكِهَةٍ آَمِنِينَ (55)

"Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada dalam tempat yang aman, (yaitu) di dalam taman-taman dan mata-air-mata-air; mereka memakai sutera yang halus dan sutera yang tebal, (duduk) berhadap-hadapan, demikianlah. Dan Kami berikan kepada mereka bidadari. Di dalamnya mereka meminta segala macam buah-buahan dengan aman (dari segala kekhawatiran)." (QS. Ad-Dukhan : 51-55)

Di dalam surga ada malaikat-malaikat yang membawa air.

Bagi laki-laki yang berada di surga, Allah akan nikahkan dengan bidadari bermata indah. Wanita shalihah memimpin bidadari surga, sehingga kalau Allah menikahkan laki-laki dengan bidadari, maka pemimpin bidadari dari istrinya adalah wanita yang paling cantik.

Di dalam surga semua isinya adalah kebaikan dan keindahan. Tidak ada hawa nafsu, tidak ada buang hajat. Surga disiapkan untuk orang yang diampuni dan diberikan kebaikan yang lebih besar dari apa yang dilakukan.

Kedamaian bisa terasa melalui apa yang Allah sebutkan di atas.

مَّثَلُ ٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى وُعِدَ ٱلْمُتَّقُونَ ۖ فِيهَآ أَنْهَٰرٌ مِّن مَّآءٍ غَيْرِ ءَاسِنٍ وَأَنْهَٰرٌ مِّن لَّبَنٍ لَّمْ يَتَغَيَّرْ طَعْمُهُۥ وَأَنْهَٰرٌ مِّنْ خَمْرٍ لَّذَّةٍ لِّلشَّٰرِبِينَ وَأَنْهَٰرٌ مِّنْ عَسَلٍ مُّصَفًّى ۖ وَلَهُمْ فِيهَا مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ وَمَغْفِرَةٌ مِّن رَّبِّهِمْ ۖ كَمَنْ هُوَ خَٰلِدٌ فِى ٱلنَّارِ وَسُقُوا۟ مَآءً حَمِيمًا فَقَطَّعَ أَمْعَآءَهُمْ

"(Apakah) perumpamaan (penghuni) surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka, sama dengan orang yang kekal dalam jahannam dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong ususnya?" (QS. Muhammad : 15)

Semua yang kita lakukan di bumi ini seperti sedang menanam. Tanam yang baik, maka kita akan memanen yang baik. Jika kita tanam yang buruk, maka kita pun akan mendapatkan yang buruk.

"Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian. Mereka berada di atas dipan yang bertahta emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, Dengan membawa gelas, cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir, Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk, dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih, dan daging burung dari apa yang mereka inginkan." (QS. Al Waqi'ah : 10-21)

Kalau makanan di dunia yang disebutkan sebagai makanan surga, maka seharusnya kita senang dengan makanan tersebut. Agar ketika kita masuk ke dalam surga, kita bisa memakan makanan tersebut di dunia dan akhirat.

"Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, Laksana mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan. Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam. Dan golongan kanan, alangkah bahagianya golongan kanan itu. Berada di antara pohon bidara yang tak berduri, dan pohon pisang yang bersusun-susun (buahnya), Dan naungan yang terbentang luas, Dan air yang tercurah, Dan buah-buahan yang banyak, Yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak terlarang mengambilnya. Dan kasur-kasur yang tebal lagi empuk. Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan. Penuh cinta lagi sebaya umurnya. (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan, (yaitu) segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu. Dan segolongan besar pula dari orang-orang yang kemudian." (QS. Al Waqi'ah : 22-40)

Tidak ada rasa cemburu di dalam surga bagi wanita shalihah, karena apapun yang mereka inginkan ada di sana. Di surga tidak ada janda, karena Allah jadikan semuanya perawan.

Dari Mu’azd bin Jabal radhiyallahu 'anhu, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda:

عن معاذ بن جبل رضي الله عنه أن النبي- صلى الله عليه وسلم- قال: «يَدْخُلُ أَهْلُ الجَنَّةِ الجَنَّةَ جُرْداً مُرْداً مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلاثِينَ، أَوْ ثَلاثٍ وَثَلاثِينَ سَنَةً». أخرجه أحمد والترمذي.

“Para penghuni surga masuk surga dalam keadaan tubuh berseri, bercelak, berusia tiga puluh tahun atau tiga puluh tiga tahun.” (HR. Ahmad)

"Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera, di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca, (yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan." (QS. Al Insan : 12-19)

Apapun yang kita miliki, maka nikmatilah supaya itu terasa benar-benar nikmat. Jangan cari sesuatu yang tidak ada. Jadilah orang yang qana'ah. Hidup tenang kalau kita bisa menerima takdir Allah.