Saturday, 14 March 2026

Kajian I'tikaf Malam 25: Tadabbur Alquran // Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah

Kajian I'tikaf Malam 25 Ramadhan 1447
Tadabbur Alquran
Oleh: Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Sabtu, 25 Ramadhan 1447 / 14 Maret 2026
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan

Orang-orang yang suka bermaksiat, mereka merasakan kelezatan. Begitupun sebaliknya, mereka yang berada di atas ketaatan, mereka pun merasakan kelezatan. Itu sebabnya Allah menjadikan Alquran ada kelezatan bagi yang membacanya.

إِنَّ هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ يَهْدِى لِلَّتِى هِىَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

"Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal shalih bahwa bagi mereka ada pahala yang besar" (QS. Al Isra' : 9)

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

"Kami tidak menurunkan Alquran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)

Setiap orang yang ingin mentadabburi Alquran dan menghapal Alquran, Allah mudahkan semua jalan bagi mereka.

Menghapal Alquran itu hendaknya memiliki hapalan surah sesuai dengan usia kita. Jika usia kita 40 tahun, kita harus memiliki hapalan 40 surah.

Kaum Salaf menghapal Alquran. Mereka dikenal sebagai orang-orang yang menjaga Alquran.

إِنَّآ أَنزَلْنَٰهُ فِى لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ

"Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Alquran) pada malam kemuliaan." (QS. Al Qadr : 1)

Dengan Alquran, semuanya menjadi yang terbaik.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إن اللهَ يَرفعُ بهذا الكِتابِ أقْواماً ويَضَعُ به آخَرِينَ

“Sesungguhnya Allah mengangkat dengan kitab Alquran ini beberapa kaum dan juga dengan kitab Alquran ini Allah merendahkan yang lainnya.” (HR. Muslim)

Kalau seseorang ingin diangkat derajatnya oleh Allah, maka hendaknya dia membaca Alquran.

Utsman bin Affan adalah Sahabat yang mengkhatamkan Alquran 1 Rakaat shalat, beliau berkata:
"Sekiranya hati kita ini bersih, tidaklah ia akan jemu (bosan) membaca Kalamullah (Alquran)"

Namun ketika kita memiliki hapalan Alquran, tapi kita tidak memiliki iman, maka itu tidak akan bermanfaat.

Kalau kita ingin membaca dengan benar, maka ikuti bagaimana Rasulullah ﷺ membacanya.

1. Membacanya dengan tartil
Allah perintahkan kepada kita membaca Alquran dengan tartil.

وَرَتِّلِ الْقُرْءَانَ تَرْتِيلا

"Dan bacalah Alquran itu dengan tartil." (QS. Al-Muzammil: 4)

Guru Alquran ada 2, yaitu:
1. Guru amanah, yaitu dia tidak akan memberikan persaksian kecuali itu benar-benar sudah teruji. Dia tidak akan memberikan sanad sampai orang itu benar-benar pantas mendapatkannya.

2. Guru tidak amanah, yaitu guru yang mengobral sanadnya. Sanadnya diperjualbelikan.

Kalau kita ingin belajar Alquran, maka belajarlah dari guru yang amanah.

2. Bacalah dengan setiap satu ayat.

3. Membaca dengan benar dan bagus
Orang yang mentadabburi Alquran, dia tidak akan mencapai tadabbur yang maksimal sampai ia memiliki bacaan yang bagus

Orang-orang suka memurojaah bacaan Alquran hingga mutqin, dia akan memiliki bacaan yang bagus.

 مَنْ لَمْ يَتَغَنَّ بِالقُرْآنِ فَلَيْسَ مِنَّا 

Dari Abu Lubabah Basyir bin ‘Abdul Mundzir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
“Barangsiapa tidak memperindah suaranya ketika membaca Alquran, maka ia bukan dari kami.” (HR. Abu Daud)

Jangan pernah sepelekan mempelajari bagusnya membaca Alquran.

Tadabbur terkadang bisa dilakukan dengan satu ayat kemudian diulang terus menerus.

Milikilah target minimal kita memiliki hapalan 1 Juz tapi berkualitas, terutama seperti kuatnya bacaan Al Fatihah. Tidak ada waktu yang lebih afdhol dalam mentadabburi Alquran kecuali dalam shalat.

Di antara kebiasaan Nabi ﷺ adalah beliau senang mendengarkan Alquran dari para Sahabat.

4. Hendaknya menghadirkan keyakinan bahwa dia akan mendapatkan kebaikan dan pahala ketika membaca Alquran 

Dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi radhiyallahu ’anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)

Manusia sangat tamak kepada dunia, maka kita butuh iman. Dengan iman, maka kita akan tamak dengan amal shalih.

عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
“Siapa yang membaca satu huruf dari Alquran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi)

5. Sempurnakan 4 kaidah dalam membaca Alquran
Membaca Alquran dengan tartil mencakup 4 pokok bahasan, di mana seseorang dikatakan benar dalam membaca Alquran yaitu:
1. Bisa membedakan mana yang 2 harakat, 4, 5, atau 6 harakat.

Banyak imam masjid yang melakukan kesalahan dalam membaca Alquran. Hendaknya seseorang tidak bermudah-mudahan dalam tajwid.

Hendaknya mereka membaca Alquran sesuai apa dengan yang diturunkan.

Banyak juga yang membaca huruf muqotho'ah seperti الم، كهيعص، حم، dan yang lainnya, itu bisa terjadi banyak kesalahan.

2. Ketika membaca Al Fatihah, harus memerhatikan makharijul huruf dan sifatul huruf, yaitu tempat keluarnya huruf dan sifat-sifat huruf.

Tajwid adalah praktik, bukan teori yang menggunakan papan tulis. Jika mempelajari tajwid dengan teori, maka itu akan menyulitkan kaum Muslimin. Indonesia ini banyak teori, membuat metode lalu dijual di sekolah.

Qiroat yaitu mengambil dari orang yang lebih dulu mempelajarinya, kita belajar dari mereka. Yang penting adalah kita bisa mempraktikkannya, bukan teorinya.

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)

فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al Qiyamah : 18)

Yang terpenting juga kita belajar dengan guru yang amanah, tidak perlu bersanad. Banyak guru di sini yang justru menjual sanadnya dan tidak amanah. Jangan tertipu dengan sanad. Sanad bukan tujuan.

Ketika seseorang membaca Al Fatihah, minimal tajwidnya tepat. Ketika huruf yang keluar mengubah huruf bacaannya, maka ini termasuk kesalahan yang fatal. Jangan sampai huruf berubah terlalu jauh.

Berkaitan dengan masalah huruf, kalau tidak jeli, maka bunyinya bisa berubah seperti huruf syafatain و، ب، ف dan م.

Maka tidak bisa sembarangan seseorang bisa menjadi imam dalam shalat, begitupun dengan yang berdiri di belakang imam.

Hendaklah yang di belakang imam adalah orang yang berilmu.

Dari Abu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasanya mengusap pundak-pundak (untuk meluruskan) kami ketika hendak shalat, beliau bersabda, “Luruskan dan jangan berselisih niscaya hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada di dekatku orang orang yang berilmu dan berakal kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Muslim)

3. Perhatikan ghunnah dan tidak ghunnah
Ghunnah memiliki bunyi yang beda semisal ن bertemu dengan س atau ن bertemu dengan ق.

Kalau ada orang yang bisa membedakan yang dengung dengan tidak dengung, maka itu sudah bagus di awal. Harus bisa membedakan antara dengan yang dengung dan tidak dengung, walaupun secara kesempurnaan memiliki dengung yang berbeda.

4. Ucapkan huruf dan harakat dengan jelas
Kita harus bisa mengucapkan huruf dengan jelas seperti ketika mengucapkan fathah, kasrah, dan dhommah.

Maka itu, ngaji tidak boleh malu-malu.

Sebagian orang, karena malas menggerakkan mulutnya, bacaannya tidak keluar dengan jelas ketika membaca Alquran. Itu karena rasa malas atau setengah hati. Membaca Alquran harus sempurna dalam bacaannya.

Ketika kita bisa membaca dengan 4 poin ini, insyaa Allah tajwid umumnya sudah dapat. Maka kita sudah bisa membaca dengan baik.

Semangatlah dalam membaca Alquran. Belajar dari guru-guru yang amanah. Biasakan juga untuk mendengarkan murottal.

Memperbagus ngaji bukan hanya untuk terdengar indah saja, tapi harus bisa merasuk ke dalam hati.

Tuesday, 10 March 2026

Kajian I'tikaf Malam 21: Doa dan Dzikir saat I'tikaf // Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah

Kajian I'tikaf
Doa dan Dzikir saat I'tikaf
Oleh: Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Selasa, 21 Ramadhan 1447 / 10 Maret 2026

Salah satu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita adalah Allah pertemukan kita dengan 10 hari terakhir Ramadhan.

Kalau kita melihat dari shalat wajib yang kita kerjakan, kita telah mendapatkan 3 shalat wajib di sela malam Lailatul Qadr, yaitu Maghrib, Isya, dan Subuh. Belum termasuk dengan Qabliyah dan Ba'diyah, lalu dilanjutkan dengan Tarawih dan Witir bersama imam. Jika ini malam Lailatul Qadr, maka kita seperti beramal selama seribu bulan.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai No. 1605, Tirmidzi No. 806, Ibnu Majah No. 1327, Ahmad dan Tirmidzi)

Di antara amalan yang utama di 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan
1.  Shalat malam
Jangan sampai kita menghidupkan shalat malam tanpa keikhlasan, karena jika tidak ikhlas maka ibadah kita tidak akan diterima. Pastikan ketika kita menjalankan ibadah adalah dengan penuh keimanan, dan puncak dari keimanan adalah keikhlasan. Ketika kita memiliki keikhlasan kepada Allah, maka amalan kita akan diterima, dan buah dari amalan adalah surga.

2. Membaca Alquran
Kita perlu muhasabah dengan bacaan Alquran kita. Apakah bacaan kita sudah benar? Apakah makhraj dan tajwid kita juga sudah benar? Kita introspeksi lagi.

Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Kita yang baru belajar Alquran, maka tidak mengapa jika belum lancar. Itu lebih baik daripada tidak membaca Alquran sama sekali. Teruslah belajar.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Alquran dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Alquran dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Menjaga kebersihan
Kita paham betapa pentingnya kebersihan, maka kita harus bisa menjaganya. Jangan sampai kita dzalim dengan bau dari tubuh kita. Jadilah seorang yang bersih dan wangi.

4. Jangan hanya memikirkan makan
Ketika i'tikaf, kita jangan hanya memikirkan makan. Fokuslah dalam beribadh

5. Perbanyak istighfar
Kita sering bertemu dengan lawan jenis ketika i'tikaf di masjid. Maka kita khawatir itu menjadi fitnah, itu sebabnya kita harus memperbanyak istighfar.

Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." (QS. Adz-Dzariyaat : 18)

Manfaat istighfar:
1. Musibah jauh dari kita, adzab dan siksa tidak akan menghampiri

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. Al Anfal : 33)

2. Keadaan hidup akan baik

Dikisahkan beberapa orang datang mengadukan masalah yang dideritanya kepada Imam Hasan Bashri rahimahullah namun selalu diianjurkan kepada orang yang datang itu untuk beristighar pada Allah.

Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: “Istighfar-lah engkau kepada Allah”.

Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Bashri juga berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar lah engkau kepada Allah”.

Al-Rabi bin al-Sabih, salah satu murid Imam Hasan Al Bashri penasaran bertanya mengapa orang-orang yang berdatangan mengadukan berbagai permasalahan kepada gurunya itu selalu diberikan jawaban yang sama agar beristighfar .

Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengatakan dalam firmanNya di Surat Nuh ayat 10-12; “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Puncak dari kita memperbanyak istighfar adalah Allah memasukkan kita ke dalam surga.

Perbanyak juga membaca sayyidul istighfar.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ 

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan Allahumma anta rabbii laa ilahaa ilaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yahgfiru adz-dzunuuba ilaa anta.(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku menetapi perjanjianMu dan janjiMu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

Beliau ﷺ bersabda:
Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR. Bukhari)

Dzikir pagi dibaca ketika masuk shalat Subuh sampai sebelum waktu Zhuhur.
Dzikir petang dibaca ketika masuk waktu Ashar hingga sebelum waktu Isya.

Istighfar harus dirutinkan. Jangan kepedean kita tidak punya dosa. Terkadang lisan kita masih mudah menyakiti hati orang lain, terkadang kita melihat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dan banyak dosa lain yang kita lakukan. Maka perbanyaklah istighfar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)