Kajian Sabtu
Jadi Susah Menerima Sunnah (bagian 2)
Oleh: Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah
Masjid Baitul Huda, Komplek Bukit Kencana, Pondok Gede, Bekasi
Sabtu, 25 Shafar 1448 / 8 Agustus 2026
Di Pertemuan pertama, Sunnah Nabi ﷺ mencakup 3 hal
1. Perkataan beliau (aqwal)
Contoh: "Makanlah dengan tangan kanan"
2. Perbuatan beliau
Contoh: Cara beliau shalat
3. Ketetapan beliau (taqrir)
Contoh: beliau melihat sandal Bilal bin Rabbah di surga
Kenapa kita harus mengikuti Sunnah Nabi ﷺ, karena sebagian dari kita alergi ketika mendengar kata Sunnah Nabi ﷺ?
1. Mengikuti Sunnah adalah bukti cinta kepada Allah
2. Perintah Allah
3. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ adalah jalan menuju surga
4. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ mau masuk surga
5. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu sudah jelas pahalanya
6. Menyelisihi Sunnah Nabi ﷺ itu seolah mengatakan bahwa Nabi ﷺ berkhianat
7. Mengikuti Sunnah Nabi ﷺ itu lebih simple, tinggal ikuti saja
Kenapa sebagian orang sulit mengikuti Sunnah Nabi ﷺ ada 2 versi,yaitu:
• Versi Umat
1. Mempertahankan adat istiadat
• Abu Thalib yang tidak mau bersyahadat
• Makan-makan di acara kematian
Adat istiadat terbagi menjadi 2, yaitu:
1. Sejalan dengan syariat, itu boleh
✓ Istri salam kepada suami
✓ Sungkeman kepada orang tua tanpa harus bersujud
2. Bertentangan dengan syariat, itu tidak boleh
2. Duniawi lebih kuat
Mengikuti aturan dunia yang lebih kuat daripada mengikuti ajaran agama
• Kredit rumah secara riba
3. Kebiasaan sejak lama
• Merokok
• Salaman dengan yang bukan mahram
4. Khawatir bertentangan dengan keluarga, tetangga, teman, dan lain-lain
Ketika kita mengikuti Sunnah Nabi ﷺ sedangkan lingkungan kita belum menjalankan Sunnah, maka akan terjadi cekcok atau debat.
5. Minim ilmu agama
Karena minim ilmu agama, jarang belajar, datang ke pengajian yang tidak menambah ilmu, akhirnya kita tidak menjalankan Sunnah.
Kita belajar tapi ilmu tidak bertambah, itu sebabnya orang awam tidak memahami agama dengan benar, sehingga dia bingung ketika bertemu dengan ajaran Islam yang benar.
6. Logika yang keliru
Sebagian orang dalam beragama selalu menggunakan logika namun logika yang tidak tepat. Seperti ketika orang datang ke kuburan meminta sesuatu.
7. Fanatisme golongan
Fanatisme ini dibentuk oleh sebagian tokoh dengan doktrin 'apapun kata guru harus diikuti' atau mereka mengaku sebagai keturunan Nabi ﷺ.
Fanatisme muncul itu karena orang-orang menganggap apa yang disampaikan itu pasti benar.
Karena Fanatisme dibentuk, bahwa kalau mijitin Kyai adalah bakti, pengabdian atau rasa hormat sehingga menghilangkan akal.
8. Adanya syubhat (dalih pembenaran, kerancuan)
Syubhat ini biasanya diciptakan oleh guru-guru yang berisi sesuatu yang membuat orang benci dengan Sunnah.
Contoh syubhat yang sering disampaikan kepada orang-orang yang menyampaikan Sunnah:
- Klaim masuk surga sendirian
- Salafi Wahabi
- Orang cingkrang
- Ninja atau akhwat bercadar
- Suka mengkafirkan sesama Muslim
-
• Versi Da'i/Ustadz/Kyai
1. Sudah ditokohkan
Kalau seseorang sudah ditokohkan dan terlanjur mengajarkan ilmu agama yang tidak sesuai dengan sunnah, maka dia akan susah menerima Sunnah.
2. Dapur mengepul
Demi menyenangkan hati umat, para dai rela menyampaikan sesuatu yang disukai masyarakat walau menyelisihi Sunnah
3. Khawatir harus belajar lagi
Selama ini terbiasa mengajar dan apa yang keluar hanya keluar dari otak, mengarang sendiri, menggunakan perasaan atau logika semata.
4. Malas menelusuri dalil
Kajian Sunnah agak ribet, karena harus menggunakan dalil dalam berbicara. Sementara dalam kajian umum boleh menggunakan perasaan bahkan menggunakan mimpi.
5. Ada kedengkian
Kalau ada kajian yang ramai, mereka akan mencegah atau bahkan membubarkan kajian tersebut
• Versi yang sudah belajar sunnah
1. Dakwahnya kurang simpatik, keras dan kasar, tidak mengerti tempat dan waktu
• Salah waktu
Ketika kita mau mendakwahkan orang seputar kematian tetap sedang ada acara kematian, lalu kita sampaikan bahwa berkumpul makan-makan di acara kematian maka itu sama dengan meratapi kematian.
• Salah tempat
Ketika kita bicara hukum seputar keluarga tetapi kita menyampaikan di pemakaman. Ini adalah salah tempat.
2. Melakukan Mudahanah tetapi tidak melakukan mudarah
Ketika ada 2 Ustadz yang sama-sama melakukan 3S (Senyum, Sapa, Salam)
Mudahanah secara bahasa adalah mashdar dari داهنَ – يداهن yang artinya: menampakkan sesuatu yang tidak sesuai dengan hakikatnya. Secara istilah, mudahanah artinya menampakkan keridhaan kepada kemaksiatan tanpa ada pengingkaran, demi kepentingan duniawi.
Mudahanah terlarang dalam Islam.
Mudarah secara bahasa adalah mashdar dari دارى – يُداري /daaraa – yudaarii/ yang artinya: bersikap lembut. Secara istilah, mudarah artinya bersikap lembut kepada orang lain dan mengalah darinya agar ia tidak menjauhkan diri sehingga bisa memberi nasehat dan memperbaikinya.
Mudarah dibolehkan atau bahkan terkadang dianjurkan dalam syariat berdasarkan dalil-dalil yang banyak dari Al-Qur’an dan As-Sunnah.