Wednesday, 8 April 2026

Silsilah Ilmiyyah 9 Bag. 3: Kedudukan Iman dengan Takdir di Dalam Agama Islam

Silsilah Ilmiyyah 9
Beriman Kepada Takdir Allah
 
Halaqah 3
Kedudukan Iman dengan Takdir di Dalam Agama Islam
Oleh: Ustadz Abdullah Roy hafizhahullah

Halaqah yang ke tiga dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Kedudukan Iman dengan Takdir di dalam Agama Islam”.

Iman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.

Di antara yg menunjukkan ketinggian kedudukannya:
1. Beriman dengan takdir termasuk di antara enam Rukun Iman yang harus diimani dan pokok aqidah yang harus diyakini yang tidak sah iman seorang hamba tanpanya.

2. Beriman yang benar dengan takdir Allah yang mencakup: beriman dengan Ilmu Allah, penulisanNya, kehendakNya, dan PenciptaanNya termasuk bagian dari Mentauhidkan Allah di dalam Rububiyah dan sifat-sifatNya, karena Al Qadha (memutuskan) dan Al Qadar (menentukan) adalah termasuk pekerjaan Allah dan pekerjaan Allah adalah termasuk sifat-sifatNya. Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir maka dia bukan seseorang yang mengesakan Allah di dalam RububiyahNya dan ini membawa pengaruh buruk pada Tauhid Uluhiyahnya.

Adapun orang yang beriman dengan Al Qadha dan Al Qadar maka akan terjaga Tauhid RububiyahNya dan Uluhiyahnya.

Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,

” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .

“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143)

Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.

3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.

Berkata Zaid Ibnu Aslam,

القدر قدرة الله عز وجل ، فمن كذب بالقدر؛ فقد جحد قدرة الله عز وجل

“Takdir adalah kemampuan Allah Azza wa Jalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah Azza wa Jalla.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144).

4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, IlmuNya, KehendakNya, dan PenciptaanNya. Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, KehendakNya, dan PenciptaanNya.

5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.

6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.

Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam,

قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ…

“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.” (QS. Hud : 33)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’aāla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,

… ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.” (QS. Ash-Shafaat : 102)

Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,

… قَالَ رَبِّ لَوْ شِئْتَ أَهْلَكْتَهُمْ مِنْ قَبْلُ وَإِيَّايَ ۖ…

“Musa berkata, wahai Rabbku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.” (QS. Al A'raaf : 155)

Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.

7. Di antara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan, dan lain-lain.

Tuesday, 7 April 2026

Silsilah Ilmiyyah 9 Bag. 2: Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ

Silsilah Ilmiyyah 9
Beriman kepada Takdir Allah

Halaqah 2
Dalil Wajibnya Beriman Kepada Takdir Allah ﷻ
Oleh: Ustadz Abdullah Roy hafizhahullah
 
Halaqah yang ke dua dari Silsilah Ilmiyyah Beriman dengan Takdir Allah adalah tentang “Dalil Wajibnya Beriman dengan Takdir Allah”.

Beriman dengan takdir Allah yang baik dan yang buruk adalah termasuk salah satu diantara enam rukun iman yang harus diimani dan telah tetap kewajibannya di dalam Al-Qur’an, As-Sunnah, dan Ijma'.

Dari Alquran, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan segala sesuatu dengan ketentuan.” (QS. Al Qamar : 49)

Dan Allah berfirman,

… وَخَلَقَ كُلَّ شَيْءٍ فَقَدَّرَهُ تَقْدِيرًا
“Dan Dia menciptakan segala sesuatu maka Dia pun menentukan dengan sebenar-benar penentuan.” (QS. Al Furqan : 2)

Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

… ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ قَدَرًا مَقْدُورًا
“Dan perkara Allah adalah ketentuan yang sudah ditakdirkan.” (QS. Al Ahzab : 38)

Adapun dari As-Sunnah maka Rasulullah ﷺ bersabda ketika ditanya oleh Malaikat Jibril alaihissalam tentang iman,

أن تؤ من با لله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الا خر وتؤ من بالقدرخيره وشره

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitabNya, Rasul-RasulNya, Hari Akhir, dan engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim)

Dan beliau ﷺ bersabda,

كُلُّ شَيْءٍ بِقَدَرٍ حَتَّى العَجْزُ والكَيْسُ

“Segala sesuatu dengan takdir sampai ketidak mampuan dan kecerdasan.” (HR. Muslim)

Adapun dari Ijma', maka kaum muslimin telah bersepakat atas wajibnya beriman dengan takdir Allah dan bahwasanya orang yang mengingkari takdir Allah maka dia telah keluar dari agama Islam.

Berkata Abdullah Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma ketika mendengar tentang munculnya orang-orang yang mengingkari takdir dan bahwasanya kejadian terjadi dengan sendirinya tanpa takdir.
 
فَإِذَا لَقِيتَ أُولَئِكَ فَأَخْبِرْهُمْ أَنِّي بَرِيءٌ مِنْهُمْ وَأَنَّهُمْ بُرَآءُ مِنِّي، وَالَّذِي يَحْلِفُ بِهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ، لَوْ أَنَّ لِأَحَدِهِمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا فَأَنْفَقَهُ مَا قَبِلَ اللهُ مِنْهُ حَتَّى يُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ

“Apabila kamu bertemu dengan mereka maka kabarkanlah kepada mereka bahwa aku (Abdullah Ibnu Umar) berlepas diri dari mereka dan mereka pun berlepas diri dariku. Demi Dzat yang Abdullah Ibnu Umar bersumpah denganNya seandainya salah seorang dari mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian menginfakkannya maka Allah tidak akan menerima darinya sampai dia beriman dengan takdir.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Imam Muslim di dalam shahihnya)

Yang demikian karena Allah tidak menerima amalan orang yang kafir dan termasuk kekufuran apabila seseorang mengingkari takdir Allah azza wajalla.

Berkata Al Imam An-Nawawi rahimahullah,
 
وَقَدْ تَظَاهَرَتِ الْأَدِلَّةُ الْقَطْعِيَّاتُ مِنَ الْكِتَابِ وِالسُّنَّةِ وَإِجْمَاعِ الصَّحَابَةِ وَأَهْلِ الْحَلِّ وَالْعَقْدِ مِنَ السَّلَفِ وَالْخَلَفِ عَلَى إِثْبَاتِ قَدَرِ اللَّهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى
 
“Telah banyak dalil-dalil yang jelas tetapnya yang saling menguatkan dari Alquran, As-Sunnah, dan Ijma' Shahabat dan para Ahlul Halli wal Aqdi, (yaitu orang-orang yang punya wewenang dari tokoh-tokoh kaum muslimin) dari kalangan salaf dan kholaf yang menunjukkan atas penetapan takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (Al Minhaj Syarah Shahih Muslim Ibnu Al Hajjaj jilid I hal 155)
 
Dan berkata Ibnu Hajar rahimahullah,
 
و مذهب السلف قاطبة أن الأمورَ كلها بتقدير الله تعالى

“Dan Manhaj seluruh salaf bahwa perkara-perkara semuanya dengan takdir Allah Ta’ala.” (Fathul Baari, jilid 11 hal 478)