Tuesday, 10 March 2026

Kajian I'tikaf: Doa dan Dzikir saat I'tikaf // Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah

Kajian I'tikaf
Doa dan Dzikir saat I'tikaf
Oleh: Ustadz Azhar Khalid bin Seff hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Selasa, 21 Ramadhan 1447 / 10 Maret 2026

Salah satu nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita adalah Allah pertemukan kita dengan 10 hari terakhir Ramadhan.

Kalau kita melihat dari shalat wajib yang kita kerjakan, kita telah mendapatkan 3 shalat wajib di sela malam Lailatul Qadr, yaitu Maghrib, Isya, dan Subuh. Belum termasuk dengan Qabliyah dan Ba'diyah, lalu dilanjutkan dengan Tarawih dan Witir bersama imam. Jika ini malam Lailatul Qadr, maka kita seperti beramal selama seribu bulan.

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengumpulkan keluarga dan para sahabatnya. Lalu beliau bersabda,

إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً

“Barangsiapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. An Nasai No. 1605, Tirmidzi No. 806, Ibnu Majah No. 1327, Ahmad dan Tirmidzi)

Di antara amalan yang utama di 10 hari terakhir Ramadhan adalah dengan
1.  Shalat malam
Jangan sampai kita menghidupkan shalat malam tanpa keikhlasan, karena jika tidak ikhlas maka ibadah kita tidak akan diterima. Pastikan ketika kita menjalankan ibadah adalah dengan penuh keimanan, dan puncak dari keimanan adalah keikhlasan. Ketika kita memiliki keikhlasan kepada Allah, maka amalan kita akan diterima, dan buah dari amalan adalah surga.

2. Membaca Alquran
Kita perlu muhasabah dengan bacaan Alquran kita. Apakah bacaan kita sudah benar? Apakah makhraj dan tajwid kita juga sudah benar? Kita introspeksi lagi.

Dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ اْلقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

"Sebaik-baik kamu adalah orang yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya." (HR. Bukhari)

Kita yang baru belajar Alquran, maka tidak mengapa jika belum lancar. Itu lebih baik daripada tidak membaca Alquran sama sekali. Teruslah belajar.

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, ‘Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

المَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ, وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيْهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang membaca Alquran dan ia mahir dalam membacanya maka ia dikumpulkan bersama para malaikat yang mulia lagi berbakti. Sedangkan orang yang membaca Alquran dan ia masih terbata-bata dan merasa berat dalam membacanya, maka ia mendapat dua pahala.” (Muttafaqun ‘alaih)

3. Menjaga kebersihan
Kita paham betapa pentingnya kebersihan, maka kita harus bisa menjaganya. Jangan sampai kita dzalim dengan bau dari tubuh kita. Jadilah seorang yang bersih dan wangi.

4. Jangan hanya memikirkan makan
Ketika i'tikaf, kita jangan hanya memikirkan makan. Fokuslah dalam beribadh

5. Perbanyak istighfar
Kita sering bertemu dengan lawan jenis ketika i'tikaf di masjid. Maka kita khawatir itu menjadi fitnah, itu sebabnya kita harus memperbanyak istighfar.

Dari Aisyah, beliau radhiyallahu ‘anha berkata,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَىُّ لَيْلَةٍ لَيْلَةُ الْقَدْرِ مَا أَقُولُ فِيهَا قَالَ « قُولِى اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّى »

“Katakan padaku wahai Rasulullah, apa pendapatmu, jika aku mengetahui suatu malam adalah lailatul qadar. Apa yang aku katakan di dalamnya?” Beliau menjawab, “Katakanlah: ‘Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (artinya ‘Ya Allah sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf lagi Maha Mulia yang menyukai permintaan maaf, maafkanlah aku).” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

وَبِٱلْأَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan selalu memohonkan ampunan di waktu pagi sebelum fajar." (QS. Adz-Dzariyaat : 18)

Manfaat istighfar:
1. Musibah jauh dari kita, adzab dan siksa tidak akan menghampiri

وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنتَ فِيهِمْ ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengadzab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun." (QS. Al Anfal : 33)

2. Keadaan hidup akan baik

Dikisahkan beberapa orang datang mengadukan masalah yang dideritanya kepada Imam Hasan Bashri rahimahullah namun selalu diianjurkan kepada orang yang datang itu untuk beristighar pada Allah.

Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: “Istighfar-lah engkau kepada Allah”.

Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Bashri juga berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar-lah engkau kepada Allah“.

Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al-Bashri berkata kepadanya: ”Istighfar lah engkau kepada Allah”.

Al-Rabi bin al-Sabih, salah satu murid Imam Hasan Al Bashri penasaran bertanya mengapa orang-orang yang berdatangan mengadukan berbagai permasalahan kepada gurunya itu selalu diberikan jawaban yang sama agar beristighfar .

Hasan Al-Bashri menjawab: “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah mengatakan dalam firmanNya di Surat Nuh ayat 10-12; “Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Rasulullah ﷺ bersabda,
“Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya, dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (HR. Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad)

Puncak dari kita memperbanyak istighfar adalah Allah memasukkan kita ke dalam surga.

Perbanyak juga membaca sayyidul istighfar.

عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَيِّدُ الْاِسْتِغْفارِ أَنْ يَقُوْلَ الْعَبْدُ : اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ ، لَا إِلٰـهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمتِكَ عَلَيَّ ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ ، فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوْقِنًا بِهَا ، فَمَـاتَ مِنْ يوْمِهِ قَبْل أَنْ يُمْسِيَ ، فَهُو مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهُوَ مُوْقِنٌ بِهَا فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ 

Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya istighfar yang paling baik adalah seseorang hamba mengucapkan Allahumma anta rabbii laa ilahaa ilaa anta khalaqtanii wa ana 'abduka wa ana 'ala 'ahdika wa wa'dika mastatha'tu a'uudzu bika min syarri maa shana'tu abuu'u laka bini'matika 'alayya wa abuu'u bidzanbii faghfirlii fa innahu laa yahgfiru adz-dzunuuba ilaa anta.(Ya Allah, Engkau adalah Rabbku, tidak ada Ilah yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau. Engkau yang menciptakan aku dan aku adalah hambaMu. Aku menetapi perjanjianMu dan janjiMu sesuai dengan kemampuanku. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan perbuatanku, aku mengakui nikmatMu kepadaku dan aku mengakui dosaku kepadaMu, maka ampunilah aku. Sebab tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau).

Beliau ﷺ bersabda:
Barangsiapa mengucapkannya di waktu siang dengan penuh keyakinan lalu meninggal pada hari itu sebelum waktu sore, maka ia termasuk penghuni surga. Barangsiapa membacanya di waktu malam dengan penuh keyakinan lalu meninggal sebelum masuk waktu pagi, maka ia termasuk penghuni surga." (HR. Bukhari)

Dzikir pagi dibaca ketika masuk shalat Subuh sampai sebelum waktu Zhuhur.
Dzikir petang dibaca ketika masuk waktu Ashar hingga sebelum waktu Isya.

Istighfar harus dirutinkan. Jangan kepedean kita tidak punya dosa. Terkadang lisan kita masih mudah menyakiti hati orang lain, terkadang kita melihat sesuatu yang dilarang oleh Allah, dan banyak dosa lain yang kita lakukan. Maka perbanyaklah istighfar.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ أَكْثَرَ مِنْ الِاسْتِغْفَارِ؛ جَعَلَ اللَّهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمٍّ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Barangsiapa memperbanyak istighfar; niscaya Allah memberikan jalan keluar bagi setiap kesedihannya, kelapangan untuk setiap kesempitannya dan rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (HR. Ahmad)

No comments:

Post a Comment