Jangan Memperdebatkan Takdir
Kitab Syarhus Sunnah karya Imam Al Hasan Al Barbahariy
Oleh: Ustadz Mohamad Nursamsul Qamar, Lc hafizhahullah
Jumat, 5 November 2021 / 30 Rabi'ul Awwal 1443 Hijriah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Perbincangan, debat, dan berseteru tentang takdir secara khusus adalah terlarang dalam semua golongan, karena takdir merupakan rahasia Allah dan Allah melarang para Nabi dari berbicara masalah takdir.
Rasulullah pun melarang dari berseteru dalam hal takdir. Para ulama dan orang-orang wara' tidak menyukainya (makruh) dan melarang dari berdebat tentang takdir. Maka wajib bagimu menerima, menetapkan, mengimani, dan meyakini apa saja yang disabdakan oleh Rasulullah dalam beberapa hal dan menahan diri dari selainnya.
Wajib bagi setiap orang untuk mengimani takdir, pasrah terhadapnya, dan tidak berlarut-larut membicarakan atau memikirkannya. Sebab, setiap kali ia berlarut-larut dalam persoalan takdir ini akan berakibat kebimbangan. Maka, wajib pula untuk berhenti dari berlarut-larut membicarakan takdir dan tidak banyak memikirkannya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya ia mendengar Rasulullah bersabda:
"Dan apa saja yang aku larang hendaknya kalian menjauhinya, dan apa saja yang aku perintahkan, kerjakan semampu kalian. Karena sesungguhnya orang-orang sebelum kalian telah binasa karena banyaknya pertanyaan mereka dan perselisihan kepada Nabi-nabi mereka" (HR. Bukhari dan Muslim)
Terkadang Allah membiarkan suatu perkara, bukan karena Allah lupa, tapi sebagai bentuk rahmat kepada kalian.
Seperti dalam haji. Allah membiarkan bahwasanya haji hanya wajib dikerjakan sekali seumur hidup.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Rasulullah pernah berkhutbah di hadapan kami dan bersabda, "Allah telah mewajibkan haji bagi kalian" Lantas Al Aqro' bin Habis radhiyallahu 'anhu berkata, "Apakah haji tersebut wajib setiap tahun?" Lalu Rasulullah kembali bersabda, "Seandainya iya, maka akan kukatakan wajib (setiap tahun). Namun haji hanya wajib sekali. Siapa yang lebih dari sekali, maka itu hanyalah haji yang sunnah" (HR. Abu Daud No. 1721, Ibnu Majah No. 2886, An Nasa'i No. 2621, Ahmad 5:331)
Contoh lain, shalat tarawih.
Tidak ada lagi
Ini sebaik-baik bid'ah
Apa yang dimaksud Umar adalah secara bahasa saja, bukan makna syariat seperti yang dimaksud oleh Rasulullah.
Umar mengetahui bahwasanya tarawih adalah ibadah yang dicintai.
Kalau bukan karena umat Islam ini begitu menghormati Ka'bah, niscaya aku akan kembalikan Ka'bah seperti pada masa Nabi Ibrahim.
Orang-orang yang mendahulukan logika dari dal
2. Mereka meremehkan sifat Allah, karena kaum Qadariyah mengatakan bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu sampai hal itu terjadi.
"Dan ilmu Allah meliputi segala sesuatu
(QS. Al An'am)
Perbedaan ilmu Allah dengan ilmu makhluk bisa dilihat dari 3 sisi:
1. Ilmu makhluk adalah sesuatu yang baru terjadi (hadits)
Seseorang baru mengetahui sesuatu sampai ia mempelajari sesuatu tersebut, baik itu belajar secara umum. Selama dia belum mempelajarinya, dia tidak akan mengetahuinya.
Ilmu Allah adalah azali, tidak didahului oleh ketidaktahuan, sebagaimana wujud Allah tidak diawali dengan ketiadaan.
"Tidaklah kalian diberikan ilmu melainkan sedikit sekali
2. Ilmu makhluk setelah mengetahui sesuatu, masih bisa dihinggapi oleh lupa. Sedangkan ilmu Allah tidak dihinggapi oleh lupa.
Nabi Musa menjelaskan kepada Fira'un ketika ditanya
"Wahai Musa, bagaimana menurutmu tentang umat yang telah berlalu?"
"Ilmu tentang umat terdahulu ada pada Rabbku di dalam kitab yang telah dituliskan, dan Rabbku tidak akan pernah salah dan tidak akan pernah lupa"
3. Ilmu makhluk hanya mengetahui sebatas apa yang dia pelajari. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
"Tidak ada satupun yang menimpa kalian melainkan semuanya telah tercantum di dalam kitab, penulisan takdir sebelum diciptakan"
(QS. Al Hadid)
Rasulullah bersabda
"Allah telah menuliskan takdir sampai akhir 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi"
Tidak ada yang mengetahui takdir kecuali Allah.
Bagaimana dengan Nabi? Apakah beliau mengetahui takdir?
Jika kita ingin berbicara tentang perkara agama, maka harus dibangun di atas dalil.
Jika ada orang yang banyak bicara dengan retorika namun tidak dilandasi dalil, maka tinggalkan ucapannya.
Nabi tidak mengetahui perkara ghaib, termasuk takdir.
Katakan kepada mereka wahai Muhammad "Aku tidak mendatangkan kebaikan atau menolak keburukan untuk diriku. Jika seandainya aku mengetahui perkara ghaib, niscaya aku tidak akan ditimpa keburukan dan hanya akan meraih kebaikan"
QS. Al A'raf
Bagaimana suatu kaum bisa selamat dalam keadaan mereka melukai kepala Nabi dan mematahkan giginya. Ini bukti bahwa Nabi tidak mengetahui perkara ghaib.
"Aku tidak katakan kepada kalian bahwasanya aku memiliki perbendaharaan dari Allah, dan aku tidak mengetahui perkara ghaib. Aku tidak katakan bahwasanya aku malaikat. Yang aku ikuti hanyalah apa yang diwahyukan kepadaku." (QS. Al An'am)
Mereka yang meminta kepada Rasulullah, ini telah bertentangan dengan Alquran. Seperti sebagian kata sufi ekstrem:
"Duhai orang yang menjadi satu-satunya penyelamat di hari kiamat kelak, sesungguhnya di antara kebaikanmu adalah dunia dan seisinya."
Mereka meminta kesembuhan kepada Nabi, padahal Nabi wafat karena sakit.
Manusia terbaik tidak mengetahui perkara ghaib, maka manusia di bawahnya pun tidak mengetahui perkara ghaib.
"
QS. Hud
Nabi Adam tidak mengetahui perkara ghaib. Jika Nabi Adam mengetahui perkara ghaib, maka tidak mungkin dia memakan buah terlarang sehingga dikeluarkan dari surga.
Perdebatan Nabi Musa dengan Nabi Adam
"Engkau Adam yang mengeluarkan kami dari surga dikarenakan dosamu."
"Wahai Musa, apakah engkau akan mencelaku dikarenakan sesuatu yang telah Allah takdirkan sebelum menciptakanku?"
Apakah boleh kita menggunakan dalil takdir dalam perkara maksiat. 2 hal
1. Berdalil dengan takdir untuk membenarkan maksiat
2. Menceritakan tentang takdir yang pernah terjadi dan dia sudah bertobat darinya
Orang-orang yang menggunakan takdir sebagai hujjah dalam perbuatan maksiatnya, maka ini tidak bisa diterima. Haram hukumnya.
Namun ketika seseorang yang pernah berbuat maksiat dan telah bertaubat, maka ini bisa diterima.
"Jangan engkau menjadikan sesembahan lain selain Allah. Jangan durhaka kepada orang tua. Jangan memakan harta anak yatim. Jangan berbuat zina. Jangan membunuh. Jangan berjalan dengan penuh kesombongan di atas muka bumi ini. Semuanya dosanya di sisi Allah adalah makruh"
QS. Al Isra'
Berbeda dalam masalah fiqih, makruh secara syariat dan dalam bahasa Alquran berarti haram.
Penulisan takdir 5
1. Penulisan 50000 tahun
2. Sifatnya satu kali seumur hidup, yaitu ketika janin berusia 3x40 hari
3. Penulisan tahunan, yaitu yang terjadi pada malam Lailatul Qadar
4. Penulisan sehari-hari
Yang bisa berubah adalah yang berada di tangan malaikat, adapun takdir yang berada di sisi Allah tidak akan berubah
"Allah menghapus apa yang dia kehendaki dan di sisiNya ada kitab induk dari apa yang ditetapkan dan dihapus." (QS. Ar-Ra'd)

No comments:
Post a Comment