Kunci Menggapai Keluarga yang Dirindukan Surga
Oleh: Ustadz Nizar Sa'ad Jabal hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Kamis, 5 Rajab 1447 / 25 Des 2025
Kalau kita bicara tentang keluarga yang merindukan kebahagiaan surga, pijakannya hanya satu yaitu memenuhi kriteria yang ditetapkan di pintu surga, bukan ketetapan yang kita buat sendiri.
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ ٱلشَّهَوَٰتِ مِنَ ٱلنِّسَآءِ وَٱلْبَنِينَ وَٱلْقَنَٰطِيرِ ٱلْمُقَنطَرَةِ مِنَ ٱلذَّهَبِ وَٱلْفِضَّةِ وَٱلْخَيْلِ ٱلْمُسَوَّمَةِ وَٱلْأَنْعَٰمِ وَٱلْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَٰعُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا ۖ وَٱللَّهُ عِندَهُۥ حُسْنُ ٱلْمَـَٔابِ
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran : 14)
Syahwat adalah sesuatu yang mendorong manusia untuk melakukan yang bermanfaat. Syahwat diciptakan Allah untuk kebaikan. Sebagaimana Allah ciptakan amarah atau emosi yaitu sebagai manfaat untuk mencegah dirinya dari keburukan.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
"Persamaan manusia dengan binatang yaitu sama-sama memiliki syahwat emosional."
Manusia punya kelebihan dibanding binatang, yaitu kekuatan akal. Akal inilah yang menjadikan manusia sebagai sosok yang mulia. Ketika manusia hanya mengikuti syahwat dan akalnya mengikuti syahwatnya, di situlah muncul setan untuk membakar syahwatnya, dibuat menjadi lepas dari landasannya sehingga membuat manusia dzalim, yaitu keluar dari kebaikan, melampaui batas.
Manusia memandang bahwa kebahagiaan ketika dia bisa memuaskan syahwatnya. Padahal syahwatnya sudah lepas landas dari areanya.
Dunia itu hijau dan manis, maka hendaklah manusia berhati-hati dengan dunia. Jangan sampai kesenangan dunia mnejerumuskan ke dalam kemaksiatan dan melalaikan dari ketaatan kepada Sang Pencipta.
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda,
“Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai khalifah di dunia ini, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu berbuat. Maka jagalah dirimu dari (keburukan) dunia, dan jagalah dirimu dari (keburukan) wanita, karena sesungguhnya penyimpangan pertama kali pada Bani Isrâil terjadi berkaitan dengan wanita." (HR Muslim No. 2742)
Kebahagiaan atau sakinah yang hakiki bukan pada dunia.
Ibnul Qayyim menjelaskan
Ketika menikah, si Fulan akan merasakan sakinah.
Perceraian justru terjadi ketika sudah menikah selamat 10 tahun atau 20 tahun. Karena sakinah diukur dari si manis dan si hijau.
Dunia ini mainan dan mainan itu anak kecil. Kalau sudah menginjak remaja, dia menginginkan lahwun, sesuatu yang sia-sia, kemudian mereka yang beranjak dewasa, maka diserang oleh zina, yaitu keindahan. Ketika menginjak usia 40 tahun, dia akan membanggakan keluarganya, juga tabungan masa tuanya.
أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَٰنَهُۥ عَلَىٰ تَقْوَىٰ مِنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٍ خَيْرٌ أَم مَّنْ أَسَّسَ بُنْيَٰنَهُۥ عَلَىٰ شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَٱنْهَارَ بِهِۦ فِى نَارِ جَهَنَّمَ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلظَّٰلِمِينَ
"Maka apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaanNya itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. Dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang-orang yang dzalim." (QS. At Taubah : 109)
Bangunlah rumah tangga kita dengan keimanan dan ketaqwaan.
وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ ۖ وَإِن يَقُولُوا۟ تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ ۖ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُّسَنَّدَةٌ ۖ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ ۚ هُمُ ٱلْعَدُوُّ فَٱحْذَرْهُمْ ۚ قَٰتَلَهُمُ ٱللَّهُ ۖ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
"Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?" (QS. Al Munafiquun : 4)
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari No. 6439 dan Muslim No. 1048)
Dalam lafazh lain disebutkan,
عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِى خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَقُولُ « لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِىَ وَادِيًا مَلأً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا ، وَلَوْ أُعْطِىَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا ، وَلاَ يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ
Dari Ibnu ‘Abbas bin Sahl bin Sa’ad, ia berkata bahwa ia pernah mendengar Ibnu Az Zubair berkata di Makkah di atas mimbar saat khutbah, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Seandainya manusia diberi satu lembah penuh dengan emas, ia tentu ingin lagi yang kedua. Jika ia diberi yang kedua, ia ingin lagi yang ketiga. Tidak ada yang bisa menghalangi isi perutnya selain tanah. Dan Allah Maha Menerima taubat siapa saja yang mau bertaubat.” (HR. Bukhari No. 6438).
وَأَنكِحُوا۟ ٱلْأَيَٰمَىٰ مِنكُمْ وَٱلصَّٰلِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَآئِكُمْ ۚ إِن يَكُونُوا۟ فُقَرَآءَ يُغْنِهِمُ ٱللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ ۗ وَٱللَّهُ وَٰسِعٌ عَلِيمٌ
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. An Nuur : 32)
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأَرْبَعٍ: لِمَـالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.
“Wanita dinikahi karena empat perkara; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya; maka pilihlah wanita yang taat beragama, niscaya engkau beruntung.” (HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ ingin menceritakan bahwa realita di masyarakat, ketika ingin menikah, maka seseorang melihat dari kecantikan dan hartanya. Maka Rasulullah ﷺ memberikan nasihat untuk memilih agamanya terlebih dahulu.
مَنْ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ
"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (QS. An Nahl : 97)
Ibnu Katsir berkata:
"Bentuk apapun yang membuat hidupmu bahagia akan diberikan oleh Allah, tetapi kita harus beriman dan beramal shalih, yaitu beramal sesuai Alquran dan Sunnah dan hatinya shalih."
قَالَ ٱهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًۢا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّى هُدًى فَمَنِ ٱتَّبَعَ هُدَاىَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ
"Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikut petunjukKu, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka." (QS. Thaha : 123)
Seseorang yang tidak memiliki iman dan amal shalih, maka dia akan salah jalan dan tersesat. Akhirnya terjadi yang berada di masyarakat.
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ
"Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha : 124)
Maka pandanglah pasangan kita dengan iman dan amal shalih.
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ ٱلرَّحْمَٰنِ نُقَيِّضْ لَهُۥ شَيْطَٰنًا فَهُوَ لَهُۥ قَرِينٌ
"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb Yang Maha Pemurah (Alquran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya." (QS. Az-Zukhruf : 36)
Walau seseorang memiliki jabatan yang tinggi atau pendidikan yang sukses, belum tentu ada sakinah dalam keluarga, selama tidak ada iman dan amal shalih.
Kebaikan yang bisa mengantarkan kita ke surga adalah Iman dan amal shalih.
•
Kebahagiaan itu bukan untuk menuntut seseorang melayani kita, tapi kita yang harus bisa melayani untuk bisa menyenangkan orang.
Kalau kita banyak menuntut, ketika kita tidak mendapatkan pelayanan yang baik, maka kita akan banyak protes, dan itu tidak akan mendatangkan kebahagiaan.
Rumus ini ada di dalam Alquran, di mana hidup itu adalah tentang berbuat baik, memberi, bukan menuntut. Hidup adalah memenuhi hak orang, bukan menuntut orang lain memenuhi hak kita, sehingga hubungan akan menjadi baik. Hidup itu tentang menunaikan kewajiban, bukan menuntut orang menunaikan kewajibannya terhadap kita.
إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran." (QS. An Nahl : 90)
Adil adalah kita menunaikan hak orang lain. Sedangkan baik adalah kita yang berbuat kebaikan. Berarti Allah memerintahkan kita untuk menunaikan hak orang lain dan berbuat baik. Jangan berkata yang kotor dan mengucapkan kata-kata yang mendatangkan permusuhan.
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-Baqarah : 195)
Sebagai suami, tunaikan hak istri. Begitupun para istri, maka tunaikanlah kewajiban kepada suami.
Yang paling banyak fitnah adalah perempuan.
Dari Usamah Bin Zaid radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ
“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” (HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740)
Imam Nawawi rahimahullah berkata:
"Perempuan adalah fitnah, dan yang paling besar fitnahnya adalah seorang istri terhadap suaminya." (Syarh Shahih Muslim, 17: 50). Karena ada di antara para istri yang membuat suaminya malah jauh dari Allah.
Jadikan diri kita yang pertama berbuat kebaikan. Jangan menunggu orang lain duluan yang berbuat baik.
ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik"
Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Ketika sedang menggali parit, kami terhalang oleh sebuah batu besar. Kemudian mereka pun mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, “Kami mendapatkan sebuah batu besar di dalam parit.” Beliau berkata, “Aku akan melihatnya.”
Lalu beliau berdiri sementara perutnya diganjal dengan sebuah batu. Sebab sudah tiga hari kami tidak mendapat makanan yang cukup. Kemudian Nabi ﷺ mengambil sebuah palu besar lalu memukulkannya ke atas batu besar tersebut dan batu itu pun hancur berkeping-keping. Aku berkata kepadanya, “Ya Rasulullah, izinkan aku untuk pulang ke rumah.” Kemudian aku pun berkata kepada istriku, “Aku melihat Nabi ﷺ begitu sabar dalam menahan lapar, apakah kamu memiliki sesuatu?” Istriku berkata, “Ya, sedikit gandum dan seekor anak kambing.” Kemudian aku menyembelih anak kambing tersebut dan menumbuk gandum lalu membakarnya.
Kemudian aku datang menemui Nabi ﷺ, sementara adonan pun sudah mulai merekah dan daging pun hampir matang. Aku berkata, “Aku memiliki sedikit makanan, datanglah engkau ya Rasulullah bersama satu atau dua orang lainnya.” Beliau bertanya, “Berapa banyak makanan itu?” Lalu aku pun menyebutkannya. Beliau berkata, “Sungguh banyak lagi baik. Katakan kepada istrimu untuk tidak mengangkat panggangan daging dan roti dari tempat memasak hingga aku datang.” Lalu beliau berkata kepada orang-orang, “Berdirilah kalian semua!” Maka orang-orang Anshar dan Muhajirin pun bangkit. Setelah sampai di rumahnya, ia pun masuk menemui istrinya dan berkata, “Celaka! Rasulullah mengajak semua orang Anshar dan Muhajirin.” Istriku bertanya, “Apakah beliau bertanya kepadamu?” Aku menjawab, “Ya.” Kemudian Rasulullah ﷺ berkata, “Masuklah kalian dan jangan berdesak-desakan.” Lalu beliau memotong roti dan menaburkan daging di atasnya dan memberikannya kepada para sahabatnya. Beliau terus memotong roti dan menyiramkannya hingga semua kenyang, sementara makanan masih tersisa banyak. Beliau berkata, “Makanlah kamu dan hadiahkan kepada orang-orang karena mereka juga lapar.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat Bukhari yang lain disebutkan bahwa jumlah mereka yang ikut makan sebanyak seribu orang.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, beliau berkata, "Seorang Arab Badui pernah memasuki masjid, lantas dia kencing di salah satu sisi masjid. Lalu para sahabat menghardik orang ini. Namun Nabi ﷺ melarang tindakan para sahabat tersebut. Tatkala orang tadi telah menyelesaikan hajatnya, Nabi ﷺ lantas memerintah para sahabat untuk mengambil air, kemudian bekas kencing itu pun disirami." (HR. Bukhari No. 221 dan Muslim No. 284)
Jangan menuntut orang lain untuk berbuat baik. Kitalah yang tersenyum kepada orang lain sebagian kebaikan.
Bagi suami, dia harus berbuat baik terhadap Ibunya, Ibunya, Ibunya, kemudian Ayahnya, setelah itu baru istrinya.
Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiyallahu'anhu, beliau bertanya kepada Nabi ﷺ,
يا رسولَ اللهِ ! مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ : قال : أُمَّكَ ، قُلْتُ : مَنْ أَبَرُّ ؟ قال : أباك ، ثُمَّ الأَقْرَبَ فَالأَقْرَبَ
“Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi ﷺ menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi ﷺ menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi ﷺ menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi ﷺ menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Bukhari)
Bagi istri, maka yang pertama kali berhak mendapatkan kebaikannya adalah suaminya.
Rasulullah ﷺ menjawab:
فَانْظُرِي أَيْنَ أَنْتِ مِنْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ جَنَّتُكِ وَنَارُكِ
“Perhatikanlah bagaimana hubunganmu dengannya karena suamimu (merupakan) Surgamu dan Nerakamu.” (HR. Ibnu Syaibah VI/233, No. 17293)
3 hal yang bisa menghancurkan manusia:
1. Hawa nafsu
2. Pelit
3. Bangga dengan dirinya sendiri (Ujub)
Kesimpulan:
1. Beriman dan beramal shalih
2. Jadilah orang yang adil
3. Jadilah orang yang baik kepada orang lain
4. Berbuat baik kepada orang tua pasangan
No comments:
Post a Comment