Thursday, 25 December 2025

Dauroh Keluarga & Rezeki: Menghadapi Tantangan Keluarga di Zaman Fitnah // Ustadz Ali Hasan Bawazier hafizhahullah

Dauroh Keluarga & Rezeki
Menghadapi Tantangan Keluarga di Zaman Fitnah
Oleh: Ustadz Ali Hasan Bawazier hafizhahullah
Masjid Nurul Iman, Blok M Square, Jakarta Selatan
Kamis, 5 Rajab 1447 / 25 Des 2025

Gaya hidup konsumtif dan pamer menjadi tolok ukur kebahagiaan. Demi untuk memuaskan keinginan seperti makanan viral, banyak yang mengejar hal tersebut, padahal akhirnya adalah sama.

Kita melihat di antara fitnah, rumah tangga yang harusnya menjadi tempat untuk mendidik, tetapi justru malah jadi tempat hiburan keluarga.

Yang menyedihkan, generasi sekarang tumbuh dengan fenomena yang paling ramai atau yang paling lucu. Ini begitu merusak kehidupan setiap orang, bahkan merusak jiwa dan mental.

Bagaimana matinya rasa seseorang, bahkan banyak orang yang tidak bisa mengenali apa yang mereka rasakan, kita seperti orang yang minum dari selang pemadam Kebakaran, sehingga dia tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Semua dipaksa masuk, diterima oleh kita. Apa yang menyebabkan ini semua terjadi?
1. Faktor Eksternal
Dunia digital mencetak yang dangkal, yang terus menerus dimunculkan.

Seorang Muslim seharusnya berbobot, bukan umat yang receh dan remeh. Kita hidup di antara orang-orang yang tidak memiliki tujuan hidup. Apalagi berbicara tentang kemuliaan agama ini, seperti yang disabdakan oleh Nabi ﷺ bahwa Islam itu menguasai dunia.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللَّهَ زَوَى لِي الْأَرْضَ فَرَأَيْتُ مَشَارِقَهَا وَمَغَارِبَهَا

“Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala memperlihatkan bumi untukku, maka aku melihat Timur dan Baratnya, dan sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai yang dilipat untukku darinya.“ (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ mengutus Abdullah bin Khudzaifah As-Sahmi, ia adalah salah satu dari enam utusan yang diutus Rasulullah ﷺ kepada raja-raja, (ia diutus) kepada raja Persia untuk mengajaknya kepada Islam, dan ia membawa sebuah surat untuk raja Persia.

Abdullah berkata: “Maka akupun memberikan surat Rasulullah ﷺ pada raja Persia, kemudian mengambil surat tersebut lalu merobek-robeknya, maka tatkala kabar itu sampai kepada Rasulullah ﷺ dan beliau berdoa, “Ya Allah, robohkanlah kerajaannya”

Kemudian raja Persia tersebut menulis surat kepada seorang gubernurnya di Yaman yang bernama Badzan: “Hendaknya engkau mengutus dua orang yang kuat kepada lelaki ini (yaitu Rasulullah ﷺ) yang berada di Hijaz, lalu sampaikanlah berita tentangnya kepadaku”.

Maka ia pun mengutus dua orang utusannya, dan membekali keduanya dengan sebuah surat (untuk disampaikan kepada Rasulullah ﷺ). Tatkala keduanya tiba di Madinah, merekapun lantas menyerahkan surat kepada Rasulullah ﷺ.

Lalu Rasulullah ﷺ tersenyum, dan mengajak mereka untuk masuk Islam (sedang mereka gemetar ketakutan), dan dalam satu riwayat, tatkala Nabi ﷺ melihat kumis mereka dipintal, sedang rambut di pipi dan jenggot mereka di potong, maka Nabi ﷺ berpaling dari mereka dan berkata: “Celaka kalian. Siapakah yang memerintahkan kalian berbuat seperti ini (yaitu memintal kumis dan mencukur rambut pipi dan jenggot)?”. Mereka berkata, "Yang memerintahkan kami adalah Tuhan kami” (yang mereka maksud adalah Raja Persia)”, maka Nabi ﷺ pun menjawab, "Akan tetapi Rabbku menyuruhku agar aku memelihara jenggotku dan supaya aku memotong kumisku”. Lalu Nabi ﷺ bersabda:
“Kembalilah kalian dan datanglah besok supaya aku kabarkan kepada kalian apa yang aku ingin kabarkan”. Kemudian mereka berdua pun datang pada keesokan harinya, lalu Nabi ﷺ bersabda, “Sampaikanlah pada saudara kalian (Badzan) bahwasanya Rabbku (Allah Subhanahu wa Ta’ala) telah membunuh Tuhannya (yaitu Raja Persia) tadi malam”. Maka merekapun mendapati hal itu sebagaimana yang dikabarkan Rasulullah ﷺ." (Ash-Shahihah, 1429)

Di balik keberaniannya yang luar biasa, Abdullah bin Hudzafah adalah pribadi yang ceria dan memiliki selera humor tinggi. Para sahabat mengenalnya sebagai sosok yang suka bercanda, meskipun dalam situasi sulit sekalipun.

Hal ini terlihat ketika pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin al-Khattab, Abdullah mendapat tugas untuk memimpin pasukan yang bertugas ke wilayah kekuasaan Romawi. Namun, Abdullah beserta 80 orang tentaranya tertawan oleh pasukan Romawi.

Kaisar Romawi yang tertarik pada keteguhan Abdullah mencoba berbagai cara untuk mengubah keyakinannya. Awalnya, sang kaisar menawarkan kebebasan dengan syarat Abdullah bersedia memeluk agama Nasrani. Namun, Abdullah menolak tawaran tersebut dengan tegas.

Kaisar berpikir keras bagaimana menaklukkan Abdullah. Ia kemudian menawarkan separuh kerajaan dan menikahkannya dengan putrinya. Abdullah tetap menolak. Keteguhannya membuat sang kaisar semakin penasaran sekaligus kagum pada komandan Islam di hadapannya tersebut.

Merasa kewalahan, Kaisar Romawi akhirnya memberikan tawaran yang lebih sederhana, yaitu mencium kepalanya sebagai tanda penghormatan dengan imbalan kebebasan bagi dirinya. Abdullah kemudian menjawab, “Baiklah, tetapi aku meminta agar seluruh tawanan Muslim juga dibebaskan.”

Terharu dan terkesan dengan keteguhan Abdullah, Kaisar Romawi setuju. Akhirnya, Kaisar Romawi membebaskan seluruh pasukan Muslim setelah Abdullah bin Hudzafah mencium keningnya.

Kita kehilangan makna tujuan hidup. Mungkin kita bisa menjawab tujuan Allah ciptakan kita, tetapi apakah kita sudah mengimplementasikan itu dalam kehidupan kita. Kita lebih senang melihat seorang artis daripada seorang ulama besar. Kita mengalami krisis identitas keislamannya, bahkan kita malu untuk menunjukkan keislaman kita. Kita lebih senang dibilang mirip artis daripada dibilang mirip Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu.

Di antara yang menjadikan kita krisis identitas dikarenakan lelahnya iman.

Hidup itu diisi dengan amalan terbaik, karena waktu ini akan lewat. Jangan sampai catatan amalan kita hanya diisi dengan tertawa, buang-buang waktu yang tidak bermanfaat.

تَبَٰرَكَ ٱلَّذِى بِيَدِهِ ٱلْمُلْكُ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ

"Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS. Al Mulk : 1-2)

2. Faktor Internal

Kita tidak pernah mengalami zaman di mana manusia mudah jenuh seperti sekarang, karena hidupnya memang kosong. Beda dengan orang yang hidupnya diisi dengan hal yang bermanfaat seperti membaca kitab.

Kita tidak dituntut untuk mengikuti yang viral atau yang populer, tapi kita dituntut untuk mengikuti yang benar.

Maka, orang tua yang memiliki anak dengan level umur berbeda, dia akan melihat perbedaan perilaku satu anak dengan lainnya.

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah ﷺ:
“Nyaris sudah para umat-umat (selain Islam) berkumpul (bersekongkol) menghadapi kalian sebagaimana berkumpulnya orang-orang yang makan manghadapi bejana makanannya”, Lalu seseorang bertanya: “Apakah kami pada saat itu sedikit ?” Beliau menjawab: “Tidak, bahkan kalian pada saat itu banyak, akan tetapi kalian itu buih seperti buih banjir, dan Allah akan menghilangkan dari diri musuh-musuh kalian rasa takut terhadap kalian dan menimpakan kedalam hati-hati kalian wahn (kelemahan)”, Lalu bertanya lagi : “Wahai Rasulullah, apakah wahn (kelemahan) itu ?”, Kata beliau :” Cinta dunia takut mati”. (HR. Abu Daud No. 4297 dan Ahmad 5: 278)

Hadits ini -yang menggambarkan keadaan Al Wahn- memberikan gambaran dan pemaparan yang sangat jelas sekali tentang keadaan (realita) umat Islam.

Fitnah ini tidak akan menjadi baik kalau kita tidak menyadari bahwa kita adalah objek dari fitnah media dan gadget. Semua ikhtiar dan upaya untuk mencabut penyakit wahn adalah termasuk dari jihad fisabilillah, tidak lagi cinta dunia tetapi cinta akhirat.

Seorang Muslim tidak boleh takut untuk mati syahid.

Dari Sahl bin Hunaif radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ بِصِدْقٍ بَلَّغَهُ اللَّهُ مَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ

"Siapa yang dengan jujur meminta kepada Allah untuk mati syahid, maka Allah akan mengangkat derajatnya seperti derajat orang yang mati syahid, meskipun nantinya dia akan mati di ranjang." (HR. Muslim 5039 dan Ibnu Majah 2797).

Bagaimana kita menghadapi dan melakukan perkataan terhadap fitnah ini?
1. Dari rumah, dari keluarga
Rumah harus menjadi madrasah untuk menanamkan nilai. Buat agenda dengan keluarga untuk menceritakan kisah para Nabi, kisah para Sahabat, atau kisah lain yang bermanfaat.

Banyak orang tua yang diberikan amanah memiliki anak tetapi mereka tidak bisa bertanggung jawab, sehingga anak-anak dtitipkan kepada orang lain.

Rumah harus menjadi madrasah untuk menjadi tempat belajar, mengulang ilmu, tadabbur Alquran, menghapal Hadits, dan sebagainya.

Tanamkan izzah, banggalah terhadap Islam. Munculkan percakapan atau dialog yang bermakna, bahas tentang keimanan dan ilmu agama.

2. Dari sekolah
Guru harus bisa menjadi pengajar yang benar. Jangan sampai guru mengajar sambil main games atau main HP. Bangun keakraban dengan para murid.

Banyak metode pembelajaran yang bisa dilakukan dengan mudah. Ini harus menjadi perhatian bagi lembaga pendidikan, bagaimana mereka membangun konsep yang baik. Sayangnya banyak dari lembaga pendidikan yang tidak mempelajari bagaimana cara untuk belajar.

3. Media sosial
Kita harus bisa memanfaatkan media sosial dengan benar. Membuat hal-hal yang bermakna menjadi sebuah nilai yang bisa diterima oleh masyarakat. Kita bisa melatih generasi untuk melawan arus yang salah.

فَأَمَّا مَن ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ فَهُوَ فِى عِيشَةٍ رَّاضِيَةٍ

"Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan." (QS. Al- Qori'ah : 6-7)

Tidak mengapa tidak ada yang mengenal kita di dunia, tapi penduduk langit mengenal kita.

No comments:

Post a Comment