Kajian Jumat
Konsep Rezeki
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah
Masjid Nurul Amal, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Jumat, 7 Rajab 1447 / 26 Des 2025
Nabi ﷺ bertanya kepada para Sahabat:
“Maukah kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan dan mengangkat derajat?” Mereka menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda: “Menyempurnakan wudhu pada saat yang tidak disukai (seperti keadaan yang sangat dingin), banyak berjalan ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah shalat. Maka itulah ribath.” (HR. Muslim)
Ribath di sini adalah merangkai ketaatan dari ibadah satu ke ibadah lainnya.
Kajian ini merujuk kepada buku Kode Etik Pengusaha Muslim, yang membahas tentang bagaimana menjadi pengusaha Muslim yang ideal.
Ada beberapa orang yang membahas halal-haram. Ketika diberikan fakta halal-haram, mereka nggak terima. Ada juga sebagian Muslim yang ketakutan sebelum mendengar pendapat ulama.
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
"Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir." (QS. Al A'raaf : 176)
مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
"Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepada mereka (kitab suci) Taurat, kemudian mereka tiada menunaikannya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar lagi tebal. Amatlah buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tiada memberi petunjuk bagi kaum yang dzalim." (QS. Al-Jumu'ah : 5)
Karena banyak yang salah paham masalah rezeki, terkadang orang mengejar sesuatu yang seharusnya tidak dikejar, bahkan sampai ada yang berantem.
Pertama, semua makhluk yang berakal maupun tidak berakal, rezekinya telah dijamin oleh Allah.
وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا ۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ
"Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh)." (QS. Hud : 6)
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu beliau berkata,
حَدَّثَنَا رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوْقُ : إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِيْنَ يَوْماً نُطْفَةً، ثُمَّ يَكُوْنُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُوْنُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يُرْسَلُ إِلَيْهِ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيْهِ الرُّوْحَ، وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ: بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيْدٌ. فَوَ اللهِ الَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُوْنُ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا
"Rasulullah ﷺ menyampaikan kepada kami dan beliau adalah orang yang benar dan dibenarkan, “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di perut ibunya sebagai setetes air mani (nuthfah) selama empat puluh hari. Kemudian berubah menjadi setetes darah (‘alaqah) selama empat puluh hari. Kemudian menjadi segumpal daging (mudhgah) selama empat puluh hari. Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat, lalu ditiupkan padanya roh dan diperintahkan untuk ditetapkan (dituliskan) empat perkara, yaitu: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan kecelakaan atau kebahagiaannya.
Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang berhak disembah selainNya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli surga, hingga jarak antara dirinya dan surga tinggal sehasta. Akan tetapi, ketetapan telah ditetapkan baginya. Dia melakukan perbuatan ahli neraka, maka masuklah dia ke dalam neraka. Sesungguhnya di antara kalian ada yang melakukan perbuatan ahli neraka hingga jarak antara dirinya dan neraka tinggal sehasta. Akan tetapi, ketentuan telah ditetapkan baginya. Dia melakukan perbuatan ahli surga, maka masuklah dia ke dalam surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Siapapun anggota keluarga yang nafkahnya menjadi tanggung jawab kita, hakikatnya yang memberi rezeki mereka adalah Allah dan bukan kepada keluarga. Kepala keluarga yang bekerja hanya perantara rezeki yang Allah berikan bagi anak-anaknya.
Jangan sampai ketergantungan kita kepada seseorang, seperti tergantungnya istri kepada suami, ketika suami meninggal, maka istri akan kebingungan.
Ketika sedang takziyah, jangan berbicara yang ngawur, karena saatnya itu malaikat akan mengaminkan.
Ibnu Katsir menceritakan,
Ada seseorang yang mengadu kepada Ibrhim bin Adham – ulama generasi tabi’ tabi’in – karena anaknya yang banyak. Kemudian beliau menyampaikan kepada orang ini,
اِبعَثْ إِلَيَّ مِنهُمْ مَنْ لَيْسَ رِزْقُهُ عَلَى اللهِ، فَسَكَتَ الرَّجُل
“Anakmu yang rizkinya tidak ditanggung oleh Allah, silahkan kirim ke sini.” Orang inipun terdiam." (al-Bidayah wa an-Nihayah, 13/510)
Prinsip ini tidak mengajarkan kita berpangku tangan
1. Benar rezeki manusia telah ditakdirkan, tapi takdir itu rahasia Allah.
2. Nabi ﷺ menjelaskan bahwa tawakkal tidak menghilangkan ikhtiar (usaha untuk mencari rezeki).
Dari ‘Umar bin Khattab, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرُزِقْتُمْ كَمَا تُرْزَقُ الطَّيْرُ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
“Seandainya kalian benar-benar bertawakkal pada Allah, tentu kalian akan diberi rezeki sebagaimana burung diberi rezeki. Ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali di sore hari dalam keadaan kenyang.” (HR. Tirmidzi No. 2344)
Satu-satunya yang bisa mendatangkan akibat tanpa sebab hanya Allah.
إِنَّمَآ أَمْرُهُۥٓ إِذَآ أَرَادَ شَيْـًٔا أَن يَقُولَ لَهُۥ كُن فَيَكُونُ
"Sesungguhnya keadaanNya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah ia." (QS. Yasiin : 82)
Sebab - akibat ditempuh oleh seseorang melalui dua cara, yaitu:
1. Diizinkan syariat
• bekerja
• usaha
2. Tidak diizinkan syariat
• melanggar Aqidah
• pergi ke dukun
Tawakkal itu dilakukan setelah mencari sebab, lalu dari situlah baru mendatangkan hasil, walaupun belum tentu menguntungkan. Ada hasil yang sesuai harapan dan ada hasil yang tidak sesuai harapan.
Imam Ahmad rahimahullah menjelaskan,
“Hadits ini tidak menunjukan bolehnya berpangku tangan tanpa berusaha. Bahkan padanya terdapat perintah mencari rezeki. Karena burung tatkala keluar dari sarangnya di pagi hari demi mencari rezeki.”
Dari Abu Hurairah, Rasulullah ﷺ bersabda,
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan 'seandainya' dapat membuka pintu syaithon." (HR. Muslim)
Ketika kita berusaha, maka iringi dengan tawakkal, agar kita tidak berpangku kepada kemampuan pribadinya.
Hasil itu ada 2 kemungkinan, yaitu:
1. Hasil sesuai keinginan = sukses
Ketika mengalami kesuksesan maka kita bersyukur. Hakikat bersyukur adalah menyadari bahwa semua yang dicapai adalah dari Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam Surah An-Naml ayat ke-38:
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَن يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ
“Nabi Sulaiman berkata, ‘Wahai para pembesar (padahal mereka bawahannya), siapakah di antara kalian yang sanggup mendatangkan singgasananya sebelum mereka datang dalam keadaan menyerahkan diri?'”
Nabi Sulaiman menanyakan siapa yang bersedia mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum rombongan itu datang menyerah.
قَالَ عِفْرِيتٌ مِّنَ الْجِنِّ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن تَقُومَ مِن مَّقَامِكَ ۖ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ
“Berkatalah Ifrit dari kalangan jin, ‘Aku sanggup mendatangkan singgasana itu kepadamu sebelum engkau berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya dan dapat dipercaya.'”
Perkataan jin Ifrit ini menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh golongan jin, yang mampu mendatangkan singgasana Ratu Balqis dalam waktu singkat. Hal ini juga menunjukkan bahwa pasukan Nabi Sulaiman adalah pasukan yang kuat dan sukar dikalahkan.
Kemudian, pada ayat selanjutnya disebutkan:
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ ۚ
“Dan berkatalah orang yang mempunyai ilmu dari Kitab suci, ‘Aku sanggup mendatangkannya kepadamu sebelum matamu berkedip.'”
Para ulama menyebutkan bahwa orang shalih ini memiliki pengetahuan dan ilmu. Allah menyebutkan bahwa orang tersebut memiliki ilmu, menegaskan pentingnya ilmu. Sejak pembahasan Nabi Adam ‘Alaihis Salam sampai Nabi Sulaiman ini, ilmu selalu menjadi fokus. Orang yang berilmu tersebut sanggup memindahkan singgasana Ratu Balqis lebih cepat dari yang dijanjikan oleh jin Ifrit, bahkan sebelum mata berkedip. Orang ini dari kalangan manusia, berbanding dengan jin yang disebutkan sebelumnya. Para ulama berpendapat bahwa orang shalih ini mengetahui Ismullahil A’dzam (Nama Allah yang paling agung) yang apabila ia berdoa dengan menyebut nama tersebut, doanya dikabulkan. Ia berkata bahwa ia bisa mendatangkan singgasana Ratu Balqis sebelum mata berkedip, menunjukkan kecepatan yang sangat tinggi.
فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ ۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ ۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
“Maka ketika Nabi Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, beliau berkata, ‘Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya). Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri; dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia.'” (QS. An-Naml : 40)
Ada juga seseorang yang ujub karena merasa semua atas hasil usahanya, seperti halnya Qorun.
قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلْمٍ عِندِىٓ ۚ أَوَلَمْ يَعْلَمْ أَنَّ ٱللَّهَ قَدْ أَهْلَكَ مِن قَبْلِهِۦ مِنَ ٱلْقُرُونِ مَنْ هُوَ أَشَدُّ مِنْهُ قُوَّةً وَأَكْثَرُ جَمْعًا ۚ وَلَا يُسْـَٔلُ عَن ذُنُوبِهِمُ ٱلْمُجْرِمُونَ
"Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku". Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (QS. Al Qashash : 78)
2. Hasil tidak sesuai keinginan = gagal
Islam mengajarkan ketika gagal untuk mengunci hati dengan kembali kepada takdir.
وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ
"Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan 'seandainya' dapat membuka pintu syaithon." (HR. Muslim)
Ketika gagal, maka yang harus dihindari adalah perkataan "seandainya", karena itu hanya akan mendatangkan emosi, dan seharusnya dikembalikan kepada takdir.
Gagal itu hilang karena emosi, tapi ketika dikembalikan kepada takdir, maka akan terasa lebih nyaman.
Berharap rezeki tapi tidak mau kerja termasuk pengingkaran terhadap nikmat Allah. Bagian dari hikmah Allah, semua akibat didahului dengan sebab. Meskipun tidak semua yang menempuh sebab, bisa mendapatkan akibat.
Karena itu, ketika makhluk ingin mendapatkan sesuatu, maka dia harus mengupayakan sebabnya. Seperti, jika orang ingin mendapatkan harta, dia harus melakukan usaha untuk mendapatkan.
Kedua, setiap jiwa tidak akan mati sampai dia menghabiskan jatah rezekinya.
Rasulullah ﷺ bersabda,
أَيُّهَا النَّاسُ ، إِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَمُوتَ حَتَّى يَسْتَكْمِلَ رِزْقَهُ ، فَلا تَسْتَبْطِئُوا الرِّزْقَ ، اتَّقُوا اللَّهَ أَيُّهَا النَّاسُ ، وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ ، خُذُوا مَا حَلَّ ، وَدَعُوا مَا حَرُمَ
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian tidak akan mati sampai sempurna jatah rezekinya, karena itu, jangan kalian merasa rezeki kalian terhambat dan bertakwalah kepada Allah, wahai sekalian manusia. Carilah rezeki dengan baik, ambil yang halal dantinggalkan yang haram.” (HR. Baihaqi dalam sunan al-Kubro 9640)
Prinsip ini memberikan pelajaran:
1. Siapapun yang hidup, masih diberi jatah rezeki oleh Allah sampai mati
2. Semiskin apapun manusia, dia tidak mati sampai jatah rezekinya habis
3. Sebanyak apapun rezeki, seseorang akan mati ketika rezekinya sudah habis
4. Rezeki tidak akan tertukar
Hakikat rezeki dijelaskan oleh Nabi ﷺ, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Sikhir radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
"Manusia selalu mengatakan, “Hartaku… hartaku…” padahal hakekat dari hartamu – wahai manusia – hanyalah apa yang kamu makan sampai habis, apa yang kami gunakan sampai rusak, dan apa yang kamu sedekahkan, sehingga tersisa di hari kiamat." (HR. Ahmad 16305, Muslim 7609 dan yang lainnya).
Kalau seseorang tidak berlatih untuk memindahkan nikmat, yaitu dari nikmat fisik ke nikmat batin, karena seseorang hanya bisa merasakan nikmat fisik, maka ini terbatas. Namun ketika dia merasakan nikmat batin yaitu menikmati shalat, membaca Alquran, mendekati kepada Allah, maka dia akan merasa tenang. Belajar menikmati nikmat batin bisa dirasakan selama kita masih bisa merasakan nikmat fisik.
Karena itu, sekaya apapun manusia, sebanyak apapun penghasilannya, dia tidak akan mampu melampaui jatah rizkinya.
Orang yang punya 1 ton beras, dia hanya akan makan sepiring saja. Orang yang memiliki 100 mobil, dia hanya akan memanfaatkan 1 mobil saja.
Padahal semua yang kita kumpulkan, sudah pasti akan dihisab oleh Allah. Wallahu a'lam.
No comments:
Post a Comment