Wednesday, 7 January 2026

Kajian Rabu: Resolusi Taubat Sebelum Terlambat // Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah

Kajian Rabu The Rabbaanians
Resolusi Taubat Sebelum Terlambat
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits hafizhahullah
Masjid Agung Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
Rabu, 19 Rajab 1447 / 7 Jan 2026

Allah Ta'ala berfirman:

يَوْمَ تَبْيَضُّ وُجُوهٌ وَتَسْوَدُّ وُجُوهٌ ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ٱسْوَدَّتْ وُجُوهُهُمْ أَكَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَٰنِكُمْ فَذُوقُوا۟ ٱلْعَذَابَ بِمَا كُنتُمْ تَكْفُرُونَ

"Pada hari yang di waktu itu ada muka yang putih berseri, dan ada pula muka yang hitam muram. Adapun orang-orang yang hitam muram mukanya (kepada mereka dikatakan): "Kenapa kamu kafir sesudah kamu beriman? Karena itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu". (QS. Ali Imran : 106)

Pada hari Kiamat, Allah akan mengumpulkan orang-orang sesuai dengan amalannya.

Ada sebagian di antara kita ketika menerima ilmu agama, ada yang mau menerima dengan gembira, merasa keberatan, bahkan ada yang menolak mentah-mentah.

Orang musyrikin tidak mau mendengar karena apa yang disebutkan di dalam Alquran mereka merasa tersakiti.

"Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)? Seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, Lari daripada singa." (QS. Al-Muddatsir : 49-51)

رَضِيْتُ بِاللهِ رَبًّا، وَبِاْلإِسْلاَمِ دِيْنًا، وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا

“Aku ridha Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama dan Muhammad ﷺ sebagai nabi.”

Ketika kita sudah ridho Allah sebagai Rabb, maka konsekuensinya adalah ridho sebagai satu-satunya yang disembah, ridho sebagai satu-satunya tempat tergantung, ridho untuk taat dan menerima seluruh syariatnya.

Ada yang beragama hanya memilih yang dia suka saja, dan menolak ajaran yang nggak sesuai dengan hawa nafsunya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّ اللَّهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الْإِيمَانَ إِلَّا مَنْ يُحِبُّ

“Sesungguhnya Allah memberi dunia pada orang yang Allah cintai maupun yang tidak. Sedangkan iman hanya diberikan kepada orang yang Allah cinta.” (HR. Bukhari dalam Adabul Mufrad)

Seseorang yang serius meninggalkan sesuatu yang dilarang, ketika ada keinginan untuk meninggalkan sesuatu yang haram, maka yang Allah ganti bukanlah perkara dunia, tetapi Allah jadikan kita semangat untuk beribadah atau semakin meningkat ilmu agamanya. Jadi, Allah bukan memberikan harta, tetapi Allah akan memberikan semangat dengan agamanya, lalu ditambah lagi semangatnya, hingga sampai pada titik istiqomah.

Dalam hidup ini, tidak ada manusia yang jalan di tempat. Hanya ada 2 pilihan, yaitu maju atau mundur.

Taubat yang dilakukan oleh seorang hamba diapit oleh 2 taubat dari Allah

وَعَلَى ٱلثَّلَٰثَةِ ٱلَّذِينَ خُلِّفُوا۟ حَتَّىٰٓ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوٓا۟ أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ ٱللَّهِ إِلَّآ إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ

"Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepadaNya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. At Taubah : 118)

Ada 3 kata taubat di atas, taubat yang datang dari Allah ada 2, yaitu yang disebutkan pertama dan ketiga; sedangkan Taubat yang dilakukan manusia.

Taubat pertama adalah hidayah gang diberikan oleh Allah yang mau bertaubat. Seorang hamba yang mau bertaubat, triggernya adalah hidayah atau petunjuk dari Allah. Dalam posisi kalo tidak direspon, maka tidak akan terjadi Hidayah yang berikutnya.

Banyak orang terkadang ketika ada rasa tidak nyaman dalam hatinya, tapi dia tidak merespon kecuali dia menghibur dirinya sendiri sehingga perasaan bersalah itu pun hilang.

ٱقْتُلُوا۟ يُوسُفَ أَوِ ٱطْرَحُوهُ أَرْضًا يَخْلُ لَكُمْ وَجْهُ أَبِيكُمْ وَتَكُونُوا۟ مِنۢ بَعْدِهِۦ قَوْمًا صَٰلِحِينَ

"Bunuhlah Yusuf atau buanglah dia ke suatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”. (QS. Yusuf : 9)

Ini adalah contoh orang yang bermaksiat namun dia merasa aman untuk berbuat jahat. Ini menjadi pelajaran bahwasanya orang akan semakin nekat dalam bermaksiat karena dia merasa aman ketika telah melakukan amal shalih.

Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dari Yunus bin Ishaq dari Ibunya yang bernama ‘Aliyyah dari Muhibbah radhiyallahu anha, bahwa ‘Aliyyah binti Aifa’ berkata,
“Saat aku menjadi Ummu Walad Zaid bin Arqam (budak yang dicampuri oleh tuannya, kemudian melahirkan anak), aku bersama istrrinya datang menemui ‘Aisyah, lalu Ummu Walad Zaid bin Arqam berkata, ‘Aku menjual budak kepada Zaid bin Arqam dengan harga 800 dirham dengan cara ditangguhkan, kemudian aku membeli kembali budak darinya dengan harga 600 dirham (dan dibayar dengan kontan di tempat transaksi).’ Lalu ‘Aisyah Radhiyallahu anha berkata, ‘Betapa buruknya apa yang engkau lakukan dan betapa buruknya barang yang engkau beli, sampaikan kepada Zaid bahwa ia telah membatalkan jihadnya bersama Rasulullah ﷺ jika ia tidak bertaubat.” (Musnad Ahmad)

Jual beli ‘inah yaitu seorang penjual menjual barangnya dengan cara ditangguhkan, kemudian ia membeli kembali barangnya dari orang yang telah membeli barangnya tersebut dengan harga yang lebih sedikit dari yang ia jual, namun ia membayar harganya dengan kontan sesuai dengan kesepakatan.

Jual beli ini dinamakan jual beli ‘inah dan hukumnya haram karena sebagai wasilah (perantara) menuju riba.

Para Sahabat radhiyallahu 'anhuma ajma'in mengetahui bahwasanya maksiat yang mereka kerjakan menghilangkan amal. Allah sangat banyak memberikan ancaman tentang maksiat bisa menghilangkan pahala.

Banyak hadits yang memberikan kita motivasi untuk melakukan amal shalih, tapi banyak juga yang memberikan kita peringatan bahwa maksiat bisa menghilangkan amalan.

وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Ankabut : 69)

Dalam hal ekonomi, seseorang diberikan modal, dan dia punya pilihan, ingin mengembangkan usaha atau meruntuhkannya. Ketika kita mengembangkan usaha, maka yang memberikan modal akan menambahkan lagi modalnya. Itulah contoh ketika kita melakukan banyak amal shalih, maka Allah memberikan tambahan modal supaya kita semakin mengembangkan amal shalih.

قُلْ يَٰعِبَادِىَ ٱلَّذِينَ أَسْرَفُوا۟ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا۟ مِن رَّحْمَةِ ٱللَّهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ يَغْفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلرَّحِيمُ

"Katakanlah: "Hai hamba-hambaKu yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Az-Zumar : 53)

Ketika kita berada dalam kekeliruan, maka kembalilah kepada Allah. Kita nggak mungkin menjauh dari Allah karena tidak ada tempat berlari. Maka seorang hamba ketika dia takut kepada Allah, solusinya adalah mendekat kepada Allah.

Dzikir yang bisa kita baca ketika selesai witir

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لاَ أُحْصِى ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

"Ya Allah, aku berlindung dengan keridhaanMu dari kemarahanMu, dan dengan keselamatan-Mu dari hukumanMu dan aku berlindung kepadaMu dari siksaMu. Aku tidak mampu menghitung pujian dan sanjungan kepadaMu, Engkau adalah sebagaimana yang Engkau sanjukan kepada diriMu sendiri". (HR. Abu Daud no. 1427, Tirmidzi no. 3566, An-Nasa’i no. 1748 dan Ibnu Majah no. 1179)

Kalau kita ingin semakin mendekat kepada Allah, maka lupakan masa lalu dan fokus menjalani hidup ke depan.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al Hasyr : 18)

No comments:

Post a Comment