Saturday, 31 January 2026

Dauroh Wudhu & Shalat Batch 1: Bacaan Surah Al Fatihah // Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah

Dauroh Wudhu & Shalat
Fikih Wudhu dan Shalat, Bacaan Al Fatihah, dan Praktik
Bacaan Al Fatihah oleh Ustadz Yovin Abu Hammam hafizhahullah
Masjid As-Salaam, Pasar Minggu, Jakarta Selatan
Sabtu, 12 Sya'ban 1447 / 31 Jan 2026

Al Fatihah merupakan surah yang paling agung di dalam Alquran.

Alquran terdiri dari 30 Juz, 114 Surah, dan yang paling shahih adalah sebanyak 6236 Ayat.

Ibnul Qayyim mengatakan bahwa dari semua surah di dalam Alquran, yang paling afdhol berdasarkan hadits Rasulullah ﷺ adalah Surah Al Fatihah.

Inti dari agama kita adalah:

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

"Hanya kepadaMu kami menyembah, dan hanya kepadaMu kami memohon pertolongan"

1. Kewajiban seorang mukmin membaca Alquran dengan tartil, dengan tajwid yang sempurna

Allah memerintahkan kita membaca Alquran dengan tartil. Allah Ta'ala berfirman:

وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلًا

"Dan bacalah Alquran itu dengan tartil (perlahan-lahan)" (QS. Muzammil : 4)

Sebagaimana Rasulullah ﷺ bersabda:

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي

"Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat" (HR. Bukhari No. 628)

Sebagaimana kita berusaha untuk shalat seperti shalatnya Rasulullah ﷺ, wudhu seperti wudhunya Rasulullah ﷺ, puasa seperti puasanya Rasulullah ﷺ, maka seharusnya kita juga membaca Alquran sebagaimana bacaannya Rasulullah ﷺ.

Membaca Alquran dengan tartil mencakup 4 pokok bahasan, di mana seseorang dikatakan benar dalam membaca Alquran yaitu:
1. Bisa membedakan mana yang 2 harakat, 4, 5, atau 6 harakat.

Banyak imam masjid yang melakukan kesalahan dalam membaca Alquran. Hendaknya seseorang tidak bermudah-mudahan dalam tajwid.

Hendaknya mereka membaca Alquran sesuai apa dengan yang diturunkan.

Banyak juga yang membaca huruf muqotho'ah seperti الم، كهيعص، حم، dan yang lainnya, itu bisa terjadi banyak kesalahan.

2. Ketika membaca Al Fatihah, harus memerhatikan makharijul huruf dan sifatul huruf, yaitu tempat keluarnya huruf dan sifat-sifat huruf.

Tajwid adalah praktik, bukan teori yang menggunakan papan tulis. Jika mempelajari tajwid dengan teori, maka itu akan menyulitkan kaum Muslimin. Indonesia ini banyak teori, membuat metode lalu dijual di sekolah.

Qiroat yaitu mengambil dari orang yang lebih dulu mempelajarinya, kita belajar dari mereka. Yang penting adalah kita bisa mempraktikkannya, bukan teorinya.

مَآ أَنزَلْنَا عَلَيْكَ ٱلْقُرْءَانَ لِتَشْقَىٰٓ

"Kami tidak menurunkan Al Quran ini kepadamu agar kamu menjadi susah" (QS. Thaha : 2)

فَإِذَا قَرَأْنَٰهُ فَٱتَّبِعْ قُرْءَانَهُۥ

"Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu." (QS. Al Qiyamah : 18)

Yang terpenting juga kita belajar dengan guru yang amanah, tidak perlu bersanad. Banyak guru di sini yang justru menjual sanadnya dan tidak amanah. Jangan tertipu dengan sanad. Sanad bukan tujuan.

Ketika seseorang membaca Al Fatihah, minimal tajwidnya tepat. Ketika huruf yang keluar mengubah huruf bacaannya, maka ini termasuk kesalahan yang fatal. Jangan sampai huruf berubah terlalu jauh.

Berkaitan dengan masalah huruf, kalau tidak jeli, maka bunyinya bisa berubah seperti huruf syafatain و، ب، ف dan م.

Maka tidak bisa sembarangan seseorang bisa menjadi imam dalam shalat, begitupun dengan yang berdiri di belakang imam.

Hendaklah yang di belakang imam adalah orang yang berilmu.

Dari Abu Mas’ud, ia berkata, “Rasulullah ﷺ biasanya mengusap pundak-pundak (untuk meluruskan) kami ketika hendak shalat, beliau bersabda, “Luruskan dan jangan berselisih niscaya hati kalian akan berselisih. Hendaklah yang berada di dekatku orang orang yang berilmu dan berakal kemudian setelahnya, kemudian setelahnya.” (HR. Muslim)

3. Perhatikan ghunnah dan tidak ghunnah
Ghunnah memiliki bunyi yang beda semisal ن bertemu dengan س atau ن bertemu dengan ق.

Kalau ada orang yang bisa membedakan yang dengung dengan tidak dengung, maka itu sudah bagus di awal. Harus bisa membedakan antara dengan yang dengung dan tidak dengung, walaupun secara kesempurnaan memiliki dengung yang berbeda.

4. Ucapkan huruf dan harakat dengan jelas
Kita harus bisa mengucapkan huruf dengan jelas seperti ketika mengucapkan fathah, kasrah, dan dhommah.

Maka itu, ngaji tidak boleh malu-malu.

Sebagian orang, karena malas menggerakkan mulutnya, bacaannya tidak keluar dengan jelas ketika membaca Alquran. Itu karena rasa malas atau setengah hati. Membaca Alquran harus sempurna dalam bacaannya.

Ketika kita bisa membaca dengan 4 poin ini, insyaa Allah tajwid umumnya sudah dapat. Maka kita sudah bisa membaca dengan baik.

2. Tadabbur Surah Al Fatihah

عَنْ أَنَسٍ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ فَلَمْ أَسْمَعْ أَحَدًا مِنْهُمْ يَقْرَأُ بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dari Anas bin Malik, dia berkata: “Aku shalat bersama Rasulullah ﷺ dan bersama Abu Bakar, Umar, ‘Utsman. Aku tidak mendengar seorangpun dari mereka membaca بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ.” (HR. Muslim No. 399)

Apakah makmum membaca Al Fatihah atau tidak? Para ulama memiliki perbedaan pendapat. Kita harus mengambil pendapat yang rajih (kuat)

Menurut pendapat Imam Syafi'i, Ketika imam shalat membaca Al Fatihah, maka wajib tetap membaca Surah Al Fatihah ketika shalat jahr atau tsir.

لا صلاةَ لمن لم يقرأْ بفاتحةِ الكتابِ

“Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Faatihatul Kitaab (Al Fatihah)” (HR. Al Bukhari 756, Muslim 394)

Menurut pendapat Imam Abu Hanifah, beliau mengatakan tidak boleh membaca Al Fatihah dan mengikuti imam shalat.

وَإِذَا قُرِئَ ٱلْقُرْءَانُ فَٱسْتَمِعُوا۟ لَهُۥ وَأَنصِتُوا۟ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

"Dan apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS. Al A'raaf : 204)

Menurut pendapat Imam Ahmad, beliau berkata kalau imam membaca Surah Al Fatihah maka kita cukup diam dan mendengarkan Bacaan imam. Namun ketika imam shalat tsir, maka kita membaca Surah Al Fatihah masing-masing.

Syaikh Sulaiman ar-Ruhaily, beliau merajihkan pendapat membaca tetap membaca Surah Al Fatihah dengan 2 cara, yaitu:
1. Membaca ketika imam selesai membaca Surah Al Fatihah dengan jeda
2. Membaca di sela imam membaca setiap ayat dari Surah Al Fatihah 

Abdullah bin Abbas berkata bacaan Nabi ﷺ adalah Al Fatihah faslan faslan, yaitu berhenti di setiap ayat.

Membaca Al Fatihah dengan disambung ayatnya itu menyelisihi sunnah.

Ketika membaca Al Fatihah setiap ayat, Allah menjawab bacaan kita.

HambaKu memujiku 

Ini menunjukkan bahwasanya membaca Al Fatihah harus satu-satu per ayat.

Berkaitan dengan bacaan Al Fatihah, maka hendaklah dipilih orang yang bacaannya bagus untuk menjadi imam.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Yang paling berhak menjadi imam shalat adalah yang paling baik bacaannya."

Di sebagian masjid, yang ditunjuk sebagai imam justru orang yang paling tua, padahal bacaannya rusak. Ini tidak boleh dilakukan.

Di negeri-negeri ahli ilmu seperti Arab Saudi seperti Madinah, syarat menjadi Muadzin harus hapal 5 Juz. Bahkan Yang menjadi penduduk tetap, dia harus hapal 15 Juz.

Ketika membaca Surah Al Fatihah, kita disunnahkan untuk mengerjakan bacaan Aamiin. Huruf ا dibaca 2 harakat.

Ustadz Abdul Hakim bin Amir Abdat hafizhahullah, beliau mengatakan bahwa lafadz Aamiin harus dikeraskan sebagaimana dahulu para Sahabat melakukannya dan seisi masjid terdengar bergemuruh.

Ketika Aamiin seseorang bersamaan dengan Aamiin para Malaikat, maka dosa-dosanya diampuni.

Ketika seorang imam melakukan kesalahan dalam membaca Surah Al Fatihah dalam shalat, maka terbagi 2 hal yaitu:
1. Lahn jaliy, kesalahan fatal
- Mengubah makna
- Mengubah harakat
- Huruf terlalu jauh dari makna sebenarnya terutama huruf غ، خ، dan ص.

2. Lahn kofiy, kesalahan ringan
Ini tidak membatalkan Al Fatihah, tetapi imamnya harus belajar lagi. Ini sangat banyak dilakukan oleh para imam shalat di sini.

1. Para imam shalat memanjangkan مَدْ عَارِضْ لِلسُّكُوْن seperti pada huruf ن atau م.

Jangan kita terlena dengan keindahan bacaan kaum Kuburiyyun. Di dalam Manhaj Salaf, Aqidah dan Tauhid tetap nomor satu.

Kalau kita bermakmum dengan Ahlul Bid'ah, maka ikuti shalatnya namun jangan ikuti bid'ahnya.

2. Sebagai orang berusaha menebalkan huruf ق namun tidak pada tempatnya. Hukum asalnya tebal, namun berubah-ubah tergantung harakatnya.

Ada juga imam yang membaca Surah An-Naas sebelum memulai shalat, dan ini menyelisihi sunnah.

Sederhana di dalam Sunnah lebih mulia daripada bersemangat di dalam Bid'ah.

Makna-makna Surah Al Fatihah 
Ketika seseorang membaca Alhamdulillah, ini adalah pujian kepada Allah yang paling tinggi.

Ketika Rasulullah ﷺ mendapatkan kebahagiaan, beliau mengucapkan alhamdulillahiladzii bini'matihi tatimush-shalihaat 

Ketika Rasulullah ﷺ mendapatkan kesedihan, beliau mengucapkan Alhamdulillah alaa kulli haal.

Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh beruntung seorang Muslim Qana'ah.

Di antara cara untuk mendapatkan nikmat yang lebih yaitu dengan mensyukurinya.

(QS. Ibrahim : 7)

Kanud.

Hasan Al Bashir berkata,
Seseorang dikatakan tidak bersyukur adalah ketika dia tidak bersyukur.

Ar-Rahman Ar-Rahim

Syaikh Abdurrazzaq mengatakan Ar-Rahman adalah mencakup kasih sayang Allah kepada seluruh makhlukNya

Imam Ibnul Qayyim 
1. Nikmat mutlaqoh, yaitu nikmat yang Allah berikan kepada Muslim maupun orang kafir.

Ini adalah nikmat dunia. Kita bersyukur tapi jangan terlena.

Seandainya dunia di sisi Allah seekor sayap nyamuk.

2. Nikmat muqoyyadah, yaitu nikmat iman dan Tauhid.

Ini adalah nikmat yang hanya diberikan kepada orang beriman.

Nikmat lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan dari harta.

Malikiyaumiddin

Kita tidak perlu membaca qiroat yang terdengar beda atau asing bagi masyarakat awam. Bacalah qiroat sesuai dengan apa yang lumrah di masyarakat kita.

Makna diin memiliki makna yang banyak, bisa menjadi agama, bisa juga bermakna pembalasan.

Sesungguhnya kalian tersesat, maka mintalah hidayah kepadaKu.

Kita hidup di dunia tidak lama. Ada masa kita akan dibangkitkan di Padang Mahsyar. Maka ketika kita membaca malikiyaumiddin, hadirkan di dalam hati bahwasanya tidak ada yang bisa menolong kita selain Allah.

Iyya kanabudu
Ini adalah inti dari Tauhid

Rasulullah ﷺ memberikan kabar gembira dengan Hadits bithoqoh.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,

يُصَاحُ بِرَجُلٍ مِنْ أُمَّتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ فَيُنْشَرُ لَهُ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ سِجِلاًّ كُلُّ سِجِلٍّ مَدَّ الْبَصَرِ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَلْ تُنْكِرُ مِنْ هَذَا شَيْئًا فَيَقُولُ لاَ يَا رَبِّ فَيَقُولُ أَظَلَمَتْكَ كَتَبَتِى الْحَافِظُونَ ثُمَّ يَقُولُ أَلَكَ عُذْرٌ أَلَكَ حَسَنَةٌ فَيُهَابُ الرَّجُلُ فَيَقُولُ لاَ. فَيَقُولُ بَلَى إِنَّ لَكَ عِنْدَنَا حَسَنَاتٍ وَإِنَّهُ لاَ ظُلْمَ عَلَيْكَ الْيَوْمَ فَتُخْرَجُ لَهُ بِطَاقَةٌ فِيهَا أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ قَالَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الْبِطَاقَةُ مَعَ هَذِهِ السِّجِلاَّتِ فَيَقُولُ إِنَّكَ لاَ تُظْلَمُ. فَتُوضَعُ السِّجِلاَّتُ فِى كِفَّةٍ وَالْبِطَاقَةُ فِى كِفَّةٍ فَطَاشَتِ السِّجِلاَّتُ وَثَقُلَتِ الْبِطَاقَةُ

“Ada seseorang yang terpilih dari umatku pada hari kiamat dari kebanyakan orang ketika itu, lalu dibentangkan kartu catatan amalnya yang berjumlah 99 kartu. Setiap kartu jika dibentangkan sejauh mata memandang. Kemudian Allah menanyakan padanya, “Apakah engkau mengingkari sedikit pun dari catatanmu ini?” Ia menjawab, “Tidak sama sekali wahai Rabbku.” Allah bertanya lagi, “Apakah yang mencatat hal ini berbuat dzalim padamu?” Lalu ditanyakan pula, “Apakah engkau punya uzur atau ada kebaikan di sisimu?” Dipanggillah laki-laki tersebut dan ia berkata, “Tidak.” Allah pun berfirman, “Sesungguhnya ada kebaikanmu yang masih kami catat. Dan sungguh tidak akan ada kezaliman atasmu hari ini.” Lantas dikeluarkanlah satu bitoqoh (kartu sakti) yang bertuliskan syahadat ‘laa ilaha ilallah wa anna muhammadan ‘abduhu wa rosuluh’. Lalu ia bertanya, “Apa kartu ini yang bersama dengan catatan-catatanku yang penuh dosa tadi?” Allah berkata padanya, “Sesungguhnya engkau tidaklah zalim.” Lantas diletakkanlah kartu-kartu dosa di salah satu daun timbangan dan kartu ampuh ‘laa ilaha illallah’ di daun timbangan lainnya.Ternyata daun timbangan penuh dosa tersebut terkalahkan dengan beratnya kartu ampuh ‘laa ilaha illalah’ tadi. (HR. Ibnu Majah No. 4300, Tirmidzi No. 2639 dan Ahmad 2: 213)

Jangan sampai kita beribadah kepada selain Allah.

Dari zaman Nabi Adam ke Nabi Nuh ada 10 generasi. Di 10 generasi ini belum pernah manusia melakukan Syirik. Dosa lain ada, tapi tidak pernah terjadi dosa Syirik, sehingga Allah belum mengutus Nabi Nuh. Ketika manusia menyembah orang-orang shalih, maka Allah mengutus Nabi Nuh untuk mendakwahkan Tauhid selama 1000 kurang 50 tahun.

"Kami telah mengutus Nabi Nuh

Penyebutan ini ada faidahnya, yaitu untuk menunjukkan lamanya suatu masa.

Ternyata dosa selain kesyirikan masih bisa membuat kita mendapatkan rahmat Allah.

Diriwayatkan dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

مَا مِنْ عَبْدٍ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ ، ثُمَّ مَاتَ عَلَى ذَلِكَ ؛ إِلاَّ دَخَلَ الْـجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah (tidak ada ilaah yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah Azza wa Jalla) kemudian ia mati dalam keadaan seperti itu, kecuali ia masuk surga.”

Aku (Abu Dzar radhiyallahu 'anhu) bertanya, “Meskipun ia berzina dan mencuri?” Beliau menjawab, “Meskipun ia berzina dan mencuri.” Beliau mengulanginya tiga kali, kemudian pada kali keempat beliau bersabda, “Meskipun Abu Dzar Radhiyallahu anhu tidak menyukainya.” Abu Dzar Radhiyallahu anhu pun keluar dan berkata, “Kendati Abu Dzar Radhiyallahu anhu tidak menyukainya.” HR. Al-Bukhâri (no. 5827), Muslim (no. 94), dan Ahmad (V/166)


Orang-orang kafir tidak akan bisa keluar dari neraka walau mereka menebus dengan harta sepenuh bumi.

Orang kafir mati di atas kekufuran walau mereka menebus sepenuh bumi emas.

Ihdinshirotol mustaqiim
Ibnu Katsir mengatakan bahwa makna tersebut adalah hidayah di atas Islam. Ada juga yang mengatakan hidayah di atas Alquran
Hidayah di atas Sunnah
Hidayah sebagaimana jalannya Abu Bakar dan Umar.

Di antara seorang yang mendapatkan Hidayah, dia tidak pernah menolak dalil. Jangan pernah membantah dalil.

Abu Hurairah Bukit Thur Abul Bashrah 

Mereka belum beriman sampai mereka menjadikan engkau hakim

Ghoyril magdhu

Tanpa kita sadari, setiap kita shalat, kita selalu berlindung dari sifat 2 kaum yaitu Yahudi dan Nashrani.

Yahudi adalah kaum yang berilmu tapi tidak mengamalkannya.

Taslanaron hamiyah

Wajah putih bersih ahlussunnah

Yang memecah belah umat adalah Ahlul Bid'ah, sedangkan yang menyatukan umat adalah Ahlussunnah.

No comments:

Post a Comment