Parenting Bernilai Ibadah. Sibuk Dunia, Jangan Rugi Akhirat
Oleh: Ustadz Nizar Sa'ad Jabal hafizhahullah
Ajwad Resto Kebayoran, Jakarta Selatan
Jumat, 27 Rajab 1447 / 16 Jan 2026
Alhamdulillahilladziy bini'matihi tatimush-shalihaat.
Nikmat Allah yang paling mulia adalah ilmu. Ilmu adalah yang membuat kegelapan berubah menjadi cahaya.
Berkaitan dengan masalah parenting, akan dibahas tentang satu kunci yang menjadi krisis pada diri kita. Berapa banyak yang memiliki ilmu tapi tidak menyajikan keindahan kepada orang lain
Para ulama Salaf dulu mengatakan, "Dulu kita belajar adab sebelum mempelajari ilmu". Inilah akhlaq, dan akhlaq yang paling utama adalah akhlaq kita kepada Allah, kemudian akhlaq kita kepada Rasulullah ﷺ, kemudian akhlaq kita kepada manusia.
Kita lebih membutuhkan akhlaq.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَنَا زَعِيْمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ (رَوَاهُ أَبُو داوُدَ)
"Aku adalah penjamin istana di surga bagian bawah bagi orang yang meninggalkan perdebatan (yang tidak ada manfaatnya) meskipun ia benar, dan dengan istana di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun ia bercanda, serta istana di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlaq mulia". (HR. Abu Daud)
Taqwa bisa dimaknai sebagai Tauhid. Akhlaq yang baik adalah implementasi dari taqwa tersebut. Ketika seseorang bertaqwa, maka akan muncul dari dirinya perilaku yang baik.
وَأَنفِقُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوٓا۟ ۛ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
"Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al Baqarah : 195)
Ketika manusia memiliki akhlaq baik, maka Allah akan mencintainya. Karena dia dicintai Allah, maka kelak dia akan duduk bersama Rasulullah ﷺ di surga.
Maka ketika amalan seseorang ditimbang di Hari Kiamat, akhlaq yang baik adalah timbangan yang paling berat.
Ada beberapa penjelasan tentang pembahasan ini. Ada korelasi kuat antara iman dengan akhlaq. Jangan menganggap bahwa akhlaq itu berdiri sendiri.
Ada seorang Jamaah Tabligh mengatakan bahwa ilmu memang diambil di Madinah, tetapi akhlaq diambil di Pakistan. Ini adalah kalimat yang bathil. Tidak mungkin akhlaq berdiri sendiri tanpa sebuah Iman, dan Iman sendiri adalah ilmu.
Akhlaq muncul dari iman. Semakin kuat iman seseorang, maka akhlaqnya akan semakin terlihat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَكْمَلُ المُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا
“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaqnya.” (HR. Tirmidzi No. 1162)
Tolok ukur akhlaq yang naik adalah ketika seseorang baik terhadap istrinya, ketika seorang anak paling baik kepada orang tuanya, ketika seorang wanita, yang belum menikah, paling baik kepada orang tuanya.
Imam Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan makna hadits tersebut dengan menyatakan,
“Dalam hadits ini tersimpan catatan penting. Bahwa orang yang paling tinggi derajatnya dalam kebaikan dan paling berhak meraih sifat tersebut ialah, orang-orang yang paling baik perilakunya kepada keluarganya. Sebab, keluarga, mereka itu merupakan orang-orang yang paling berhak dengan wajah manis dan cara bergaul yang baik, curahan kebaikan, diusahakan mendapatkan manfaat, dilindungi dari bahaya. Jika ada lelaki yang demikian, niscaya ia berpredikat sebagai manusia yang terbaik. Jika ia bersikap sebaliknya, maka ia berada dalam keburukan. Banyak orang yang terjerumus dalam keteledoran ini. Anda bisa menyaksikan seorang lelaki, bila ia menjumpai keluarganya, maka menjadi sosok yang akhlaknya buruk, sangat pelit dan sedikit sekali berbuat baik kepada mereka. Tetapi, apabila bersama orang lain, maka engkau akan dihormati, akhlaknya melunak, jiwanya menjadi dermawan, ringan tangan. Tidak diragukan, laki-laki semacam ini adalah manusia yang terhalang dari taufiq Allah, menyimpang dari jalan yang lurus. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita dari hal itu” (Nailul Authar, 6/360)
Keluarga adalah pihak yang paling pantas mendapatkan keceriaan, kebaikan, dan mendapatkan segala akhlaq yang baik dari kita.
Kita lihat bagaimana akhlaq Khadijah terhadap Rasulullah ﷺ.
Dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,
خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ ابْنَةُ عِمْرَانَ ، وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ
“Wanita terbaik yang pernah ada ialah Maryam putri Imran dan Khadijah.” (HR. Bukhari No. 3432 dan Muslim No. 2430)
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata,
مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِى بِثَلاَثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِيهَا إِلَى خَلاَئِلِهَا
“Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun melebihi kecemburuanku pada Khadijah. Sungguh dia telah wafat tiga tahun sebelum Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahiku. Kecemburuanku disebabkan aku pernah mendengar Nabi ﷺ menyebut-nyebut dia (Khadijah). Rabbnya pun menyuruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memberikan kabar gembira kepadanya (Khadijah) bahwa ia mendapatkan rumah di surga yang terbuat dari perhiasan. Ditambah lagi apabila beliau ﷺ menyembelih kambing lalu beliau akan menghadiahkan sahabat-sahabat Khadijah.” (HR. Muslim, no. 2435)
Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah menceritakan,
كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَكَرَ خَدِيجَةَ أَثْنَى عَلَيْهَا فَأَحْسَنَ الثَّنَاءَ – قَالَتْ – فَغِرْتُ يَوْماً فَقُلْتُ مَا أَكْثَرَ مَا تَذْكُرُهَا حَمْرَاءَ الشِّدْقِ قَدْ أَبْدَلَكَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا خَيْراً مِنْهَا. قَالَ « مَا أَبْدَلَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ خَيْراً مِنْهَا قَدْ آمَنَتْ بِى إِذْ كَفَرَ بِى النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِى إِذْ كَذَّبَنِى النَّاسُ وَوَاسَتْنِى بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِى النَّاسُ وَرَزَقَنِى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِى أَوْلاَدَ النِّسَاءِ »
Nabi ﷺ ketika menceritakan Khadijah pasti ia selalu menyanjungnya dengan sanjungan yang indah. Aisyah berkata, “Pada suatu hari aku cemburu.” Ia berkata, “Terlalu sering engkau menyebut-nyebutnya, ia seorang wanita yang sudah tua. Padahal Allah telah menggantikannya buatmu dengan wanita yang lebih baik darinya.”
Nabi ﷺ lalu menyampaikan, “Allah tidak menggantikannya dengan seorang wanita pun yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain.” (HR. Ahmad, 6:117)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,
أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِيَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلَامَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّي وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِي الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لَا صَخَبَ فِيهِ وَلَا نَصَبَ
“Pada suatu ketika Jibril pernah datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini dia Khadijah. Ia datang kepada engkau dengan membawa wadah berisi lauk pauk, atau makanan atau minuman.’ ‘Apabila ia datang kepada engkau, maka sampaikanlah salam dari Allah dan dariku kepadanya. Selain itu, beritahukan pula kepadanya bahwa rumahnya di surga terbuat dari emas dan perak, yang di sana tidak ada kebisingan dan kepayahan di dalamnya.’” (HR. Bukhari No. 3820 dan Muslim No. 2432)
Inilah akhlaq yang sangat mulia dari Khadijah.
Aisyah juga memuji akhlaq Rasulullah ﷺ.
Dari Sa’ad bin Hisyam bin Amir, ia berkata,
فَقُلتُ : يَا أُمَّ المُؤمِنِينَ ! أَنبئِينِي عَن خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَت : أَلَستَ تَقرَأُ القُرآنَ ؟ قُلتُ : بَلَى .قَالَت : فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ .قَالَ : فَهَمَمْتُ أَن أَقُومَ وَلَا أَسأَلَ أَحَدًا عَن شَيْءٍ حَتَّى أَمُوتَ ...الخ رواه مسلم (746)
“Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahulah aku tentang akhlak Rasulullah ﷺ". Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca Alquran?” Aku menjawab, “Ya.” Ia berkata, “Sesungguhnya akhlaq Nabi ﷺ adalah Alquran.” Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati...” (HR. Muslim No. 746)
Rasulullah ﷺ bersabda:
لاَ يَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً، إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ.
"Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai satu akhlak darinya, maka ia menyukai yang lainnya." (HR. Muslim No. 1469)
Di antara sifat kita adalah lebih banyak mengingat kesalahan daripada kebaikan orang lain.
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ
"Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Rabbnya" (QS. Al Adiyaat : 6)
Di antara makna لَكَنُودٌ adalah selalu melihat kesalahan orang lain.
Di antara akhlaq Rasulullah ﷺ adalah beliau adalah seorang yang ramah.
Dari sahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ’anhu, bahwa suatu ketika Rasulullah ﷺ pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi sebuah kuburan. Kuburan itu adalah kuburan putranya yang baru saja meninggal, sehingga gurat-gurat kesedihan masih melekat dalam kedukaannya. Lalu beliau bersabda, “Bertaqwalah engkau kepada Allah dan bersabarlah.”
Wanita itu menjawab, “Menjauhlah engkau dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibah seperti yang menimpaku ini.” Wanita itu memang tidak tahu bahwa yang menyuruhnya bersabar dan bertakwa itu adalah Rasulullah ﷺ, tetapi juga menunjukkan bahwa musibah yang dideritanya amatlah menyedihkan. Rasulullah ﷺ pun mengerti kondisi kejiwaan wanita itu, seraya meninggalkannya.
Tak lama setelah itu, ada yang mengatakan pada wanita itu: “Sesungguhnya orang yang memintamu bersabar dan bertakwa itu adalah Rasulullah ﷺ, yang tentu pernah mengalami berbagai musibah yang lebih berat dari yang kamu hadapi.” Kemudian wanita tersebut dengan penuh penyesalan mendatangi Rasulullah ﷺ. Lalu wanita itu berkata sembari menunjukkan penyesalannya, “Sungguh aku tadi tidak mengenalmu.” Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya kesabaran itu adalah saat pukulan pertama.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dari Jarir bin Abdullah radhiyallahu 'anhu, ia berkata:
ما حَجَبَنِي النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ مُنْذُ أسْلَمْتُ، ولَا رَآنِي إلَّا تَبَسَّمَ في وجْهِي. ولقَدْ شَكَوْتُ إلَيْهِ إنِّي لا أثْبُتُ علَى الخَيْلِ، فَضَرَبَ بيَدِهِ في صَدْرِي، وقالَ: اللَّهُمَّ ثَبِّتْهُ واجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا.
"Rasulullah ﷺ tidak pernah menolak aku sejak aku masuk Islam, dan setiap kali beliau melihatku, beliau selalu tersenyum kepadaku. Suatu hari, aku mengeluh kepadanya bahwa aku kesulitan untuk tetap stabil di atas kuda. Maka Nabi ﷺ meletakkan tangannya di dadaku dan berdoa: ‘Ya Allah, tetapkanlah hatinya dan jadikanlah dia sebagai pemberi petunjuk dan orang yang mendapat petunjuk.’” (HR. Bukhari)
Rasulullah ﷺ bergaul dan bercanda kepada keluarganya.
Salah satu di antara yang dipraktikkan Nabi ﷺ adalah lomba lari dengan istrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha. Beliau pernah lakukan ini dua kali. Yang pertama, Aisyah yang menang, dan yang kedua, Nabi ﷺ yang menang.
Aisyah radhiyallahu 'anha menceritakan,
Aku pernah ikut safar bersama Nabi ﷺ yang ketika itu aku masih muda, badannya belum gemuk dan bellum berlemak. Nabi ﷺ menyuruh rombongan safar, “Silakan kalian jalan duluan.”
Merekapun jalan duluan. Lalu Nabi ﷺ mengajakku,
تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ
Mari kita lomba lari…
Akupun lomba lari dengan beliau dan aku bisa mengalahkan beliau.
Hingga setelah aku mulai gemuk, berlemak dan sudah lupa dengan perlombaan yang dulu, aku pergi bersama beliau untuk melakukan safar. Beliau meminta kepada rombongan, “Silakan kalian jalan duluan.”
Merekapun jalan duluan.
Lalu Nabi ﷺ mengajakku,
تَعَالَيْ حَتَّى أُسَابِقَكِ
Mari kita lomba lari…
Akupun lomba lari dengan beliau dan beliau bisa mengalahkanku.
Beliau tertawa dan mengatakan, “Ini pembalasan yang kemarin.” (HR. Ahmad 26277)
Rasulullah ﷺ juga memberikan nafkah yang lebih kepada istrinya.
Rasulullah ﷺ bersenda gurau dengan anak-anaknya.
Tidak ada kenyamanan selain kenyamanan berkumpul dengan keluarga.
Rasulullah ﷺ dekat dengan semua orang.
Siapapun yang ingin bertemu dengan Rasulullah ﷺ maka dia akan sangat mudah untuk bertemu dengan beliau. Tidak seperti zaman sekarang, mau bertemu Ustadz harus ada ring 1 dan ring 2. Ini jauh dari akhlaq yang baik.
Rasulullah ﷺ mudah memaafkan.
Rasulullah ﷺ tidak pernah menunjukkan wajah yang masam
Rasulullah tidak kasar dalam berbicara
Kita harus konsisten dan komitmen untuk mendapatkan kemuliaan-kemuliaan akhlaq Rasulullah ﷺ.
No comments:
Post a Comment