Memahami dalam MengingatNya
Oleh: Ustadz Abdurrahman Zahier hafizhahullah
Masjid Darsyafii, Pejaten, Jakarta Selatan
Selasa, 24 Rajab 1447 / 13 Januari 2026
Pada kesempatan kali ini, tema pembahasan kita adalah Memahami dalam MengingatNya. Judul ini digunakan pada hakikatnya adalah tentang Fiqih Dzikir Pagi dan Petang. Fiqih artinya adalah pemahaman. Makanya mengapa doa Rasulullah kepada Ibnu Abbas adalah
اللّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ
“Ya Allah, pahamkanlah dia terhadap agama dan ajarkanlah (ilmu) tafsir kepadanya.” (HR. Ahmad dalam al-Musnad, 1: 328)
Kita juga mengetahui di antara dalil bahwa Allah menghendaki kita kebaikan adalah
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Allah akan memberikan kefaqihan (pemahaman) agama baginya.“ (Muttafaqun ‘alaihi)
Fiqih Dzikir Pagi & Petang akan dijelaskan tentang keutamaan-keutamaannya. Sesuatu yang hendak kita istiqomahkan karena memiliki faidah yang sangat banyak.
Ibnu Katsir mengatakan:
"Siapa yang membaca dzikir pagi petang dan dzikir setelah shalat, maka dia termasuk orang yang Allah puji di dalam Alquran, yaitu orang-orang yang banyak berdzikir."
Sejatinya, kehidupan kita hanyalah perpindahan dari satu dzikir ke dzikir lain. Amalan yang tidak akan kita tinggalkan sampai masuk surga setelah Tauhid dan menikah adalah berdzikir. Sehingga ada 3 amalan yang akan menetap sampai ke surga adalah Tauhid, Menikah, dan Berdzikir.
Para ulama banyak menulis kitab tentang fiqih berdzikir, di antaranya adalah Imam Nawawi yang memiliki kitab berjudul Al-Adzkar. Kemudian ulama lain yang juga memiliki kitab serupa seperti Syaikh Abdurrazzaq, Syaikh Shalih Munajid, Syaikh Shalih al-Ushoimi, dan masih banyak lagi ulama yang menulis kitab tentang berdzikir. Banyak di antara kita yang hanya sekadar membaca tapi belum memahami.
Imam Nawawi berkata dalam kitabnya tentang perbedaan antara membaca Alquran (tilawah) dengan berdzikir adalah "Sekadar membaca Alquran (tilawah) tanpa paham maknanya, maka itu sudah mendapatkan pahala, karena Alquran adalah yang menjadi ibadah karena bacaannya. Tetapi berdzikir, tidak serta merta berpahala kecuali kita harus paham konteks maknanya meskipun secara general."
Artinya, kalau ada orang bertasbih, tetapi dia tidak mengerti makna Subhanallah, maka itu tidak akan diterima sebagai pahala. Lalu ada orang yang beristighfar tetapi dia tidak tahu artinya, maka itu juga tidak akan diterima sebagai pahala. Namun ketika dia tahu makna beristighfar adalah meminta ampun, maka itu sudah cukup menjadi dzikir yang diterima. Maka kita harus bisa memahami setiap maknanya, termasuk khatam Alquran dan juga khatam dengan artinya. Di antara tujuan diturunkannya Alquran untuk dihapalkan dan diamalkan, dan cara kita mengamalkannya adalah dengan memahami artinya. Itu termasuk dalam mempelajari Alquran.
Rasulullah bersabda:
إِنَّ
لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ
اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya
Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya,
“Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Para ahli Alquran.
Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya” (HR. Ahmad)
Banyak sekali hadits yang menyebutkan tentang keutamaan berdzikir.
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
كَلِمَتَانِ
خَفِيفَتَانِ عَلَى اللِّسَانِ ، ثَقِيلَتَانِ فِى الْمِيزَانِ ،
حَبِيبَتَانِ إِلَى الرَّحْمَنِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ،
سُبْحَانَ اللَّهِ الْعَظِيمِ
“Dua kalimat yang ringan
di lisan, namun berat di timbangan, dan disukai Ar-Rahman yaitu
“Subhanallah wa bi hamdih, subhanallahil ‘azhiim” (Maha Suci Allah dan
segala puji bagi-Nya. Maha Suci Allah Yang Maha Agung). (HR. Bukhari No. 6682 dan Muslim No. 2694)
Keutamaan berdzikir sangat bisa dirasakan seseorang ketika dia ingin terkoneksi dengan Allah. Sebagaimana hari ini kita akan merasa galau ketika HP kita tidak terkoneksi dengan provider atau WiFi. Kita bingung kalau tidak ada sinyal dan merasa sepi. Seharusnya itu juga yang harus kita rasakan ketika kita tidak terkoneksi dengan dzikir.
Syaikh Shalih al-Utsaimin berkata,
"Seseorang yang mengetahui makna kemudian memperdalam makna fiqih dzikir pagi dan petang, dan dia mengamalkannya, itu adalah benteng yang lebih kuat melebihi benteng yang dibangun oleh Dzulqarnain untuk menghalangi Ya'yuj dan Ma'juj."
Benteng pertahanan kita adalah dzikir. Saat kita memulai hari tanpa berdzikir, maka hari itu terasa sudah selesai. Terutama bagi kita yang terbiasa dengan berdzikir. Allah memberikan tanda-tanda orang beriman yaitu sentivitas dalam dzikir hariannya, sehingga menjadikan dia terbiasa untuk berdzikir.
No comments:
Post a Comment