Saturday, 7 February 2026

Kajian Sabtu: Lebih Baik dari Tahun Lalu // Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah

Kajian Sabtu
Lebih Baik dari Tahun Lalu
Oleh: Ustadz Syafiq Riza Basalamah hafizhahullah
Masjid Nurul Hidayah, Brawijaya, Jakarta Selatan
Sabtu, 20 Sya'ban 1447 / 7 Feb 2026

Kita kadangkala kalau berbuat baik ada perasaan ingin disanjung.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda,

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ: هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

Allah berfirman, “Aku membagi shalat antara diriKu dan hambaKu menjadi dua. Untuk hambaKu apa yang dia minta."

Apabila hambaKu membaca, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.”

Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu memujiKu.”

Apabila hambaKu membaca, “Ar-rahmanir Rahiim.”

Allah Ta’ala berfirman, “HambaKu mengulangi pujian untukKu.”

Apabila hambaKu membaca, “Maaliki yaumid diin.”

Apabila hambaKu membaca, “HambaKu mengagungkanKu.” Dalam riwayat lain, Allah berfirman, “HambaKu telah menyerahkan urusannya kepadaKu.”

Apabila hambaKu membaca, “Iyyaka na’budu wa iyyaaka nasta’in.”

Allah Ta’ala berfirman, “Ini antara diriKu dan hambaKu, dan untuk hambaKu sesuai apa yang dia minta.”

Apabila hambaKu membaca, “Ihdinas-Shirathal mustaqiim….dst. sampai akhir surat.”

Allah Ta’ala berfirman, “Ini milik hambaKu dan untuk hambaKu sesuai yang dia minta.”

(HR. Ahmad 7291, Muslim 395 dan yang lainnya)

Al Fatihah seharusnya membuat kita sadar bahwa semua yang kita peroleh, semuanya berasal dari Allah.

Ketika akan ditanya oleh Allah, ketika kemungkaran terjadi tapi kita tidak berbuat apa-apa.

Allah Azza wa Jalla telah mengedepankan perkara ini atas keimanan dalam firmanNya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ

"Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah". (QS. Ali Imran : 110)

مِنْهَا خَلَقْنَٰكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَىٰ

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain" (QS. Thaha : 55)

Ayat ini harusnya juga membuat kita sadar bahwasanya kita berasal dari tanah.

Kuburan paling mewah di dunia, tempat dilupakan manusia, sehebat apapun kita, maka kita akan kembali ke tanah. Namun ketika kita dikeluarkan dari tanah, semoga kita bisa keluar dengan baik-baik saja. Karena ada sebagian dari kita yang keluar dari tanah dalam keadaan yang buruk.

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha : 124)

قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا

"Berkatalah ia: "Wahai Rabbku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?" (QS. Thaha : 125)

قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ

"Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan". (QS. Thaha : 126)

Maka seharusnya Ramadhan menjadi momentum bagi kita untuk memperbaiki diri.

Di bukan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak mendapatkannya, maka dia terhalang dari kebaikan.

Kita sering berkata bahwa dunia dan akhirat harus seimbang, tapi kenyataannya kita lebih mengutamakan dunia. Kita harus memiliki bahan evaluasi agar bisa lebih baik dari tahun lalu. Kalau buka puasa bersama, ramai; tapi shalat Maghrib lewat semuanya.

Shalat Tarawih
Sebagian orang berpikir bahwa Tarawih harus di masjid. Tarawih itu shalat malam dan tidak harus di masjid, juga tidak harus berjamaah. Maka jika banyak Tarawih yang terlewat tahun lalu, kita harus perbaiki tahun ini.

Cahaya Ramadhan bukanlah cahaya lampu, tetapi cahaya iman. Dunia adalah tempat kita beribadah sebagaimana tujuan kita diciptakan.

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu." (QS. Adz-Dzariyaat : 56)

Membaca Alquran
Imam Syafi'i rahimahullah mengkhatamkan Alquran sebulan selama 60x.

Dari Al-Mustaurid bin Syaddad radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda:

وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Demi Allah, tidaklah dunia dibandingkan akhirat kecuali seperti seseorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya jika ia keluarkan dari laut?” (HR. Muslim No. 2868).

Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ذَاتَ لَيْلَةٍ فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ فَقُلْتُ يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ. ثُمَّ مَضَى فَقُلْتُ يُصَلِّى بِهَا فِى رَكْعَةٍ فَمَضَى، فَقُلْتُ يَرْكَعُ بِهَا. ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ فَقَرَأَهَا ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلاً إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ.

"Pada suatu malam aku shalat bersama Nabi ﷺ maka beliau memulai bacaannya dengan membaca surat Al-Baqarah. Aku berkata kepada  diriku: Dia akan ruku’ pada ayat ke seratus, namun beliau tetap  melanjutkan bacaannya. Maka aku berkata kembali pada diriku: Beliau akan menghabiskan satu rekaat dengan surat Al-Baqarah. Namun beliau tetap melanjutkan bacaannya, kemudian aku berkata: dia akan ruku’ bersamaan dengan habisnya surat tersebut, kemudian beliau mulai membaca surat An-Nisa’ dan membacanya sehingga habis, kemudian membaca surat Ali Imron dan membacanya secara pelan-pelan, apabila membaca ayat yang terdapat tasbih maka beliau bertasbih dan apabila melewati ayat yang terdapat perintah untuk  memohon kepada Allah maka beliaupun memohon kepada Allah dan apabila melewati ayat yang memerintahkan untuk memohon perlindungan maka beliaupun memohon perlindungan kepada Allah." (Shahih Muslim 4/537 No: 773)

Nabi Muhammad ﷺ dijadikan Nabi oleh Allah untuk dicontoh oleh manusia.

وَعَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ ثَلَاثَةُ رَهْطٍ إِلَى بُيُوْتِ أزْوَاجِ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَسْأَلُوْنَ عَنْ عِبَادَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَلَمَّا أُخْبِرُوْا كَأَنَّهُمْ تَقَالُّوْهَا، وَقَالُوْا: أَيْنَ نَحْنُ مِنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَقدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ. قَالَ أَحَدُهُمْ: أَمَّا أَنَا فَأُصَلِّيْ اللَّيْلَ أَبَداً، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَصُوْمُ الدَّهْرَ أَبَداً وَلَا أُفْطِرُ، وَقَالَ الْآخَرُ: وَأَنَا أَعْتَزِلُ النِّسَاءَ فَلَا أَتَزَوَّجُ أَبَداً فَجَاءَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَيْهِمْ، فَقَالَ: أَنْتُمُ الَّذِيْنَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا ؟ أَمَا وَاللهِ إِنِّيْ لَأَخْشَاكُمْ لِلهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّيْ أَصُوْمُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِيْ فَلَيْسَ مِنِّيْ

Dari Anas radhiyallahu anhu ia berkata, “Ada tiga orang mendatangi rumah istri-istri Nabi ﷺ untuk bertanya tentang ibadah Beliau ﷺ. Lalu setelah mereka diberitahukan tentang ibadah Beliau ﷺ, mereka menganggap ibadah Beliau itu sedikit sekali. Mereka berkata, “Kita ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Nabi ﷺ. Beliau ﷺ telah diberikan ampunan atas semua dosa-dosanya baik yang telah lewat maupun yang akan datang.” Salah seorang dari mereka mengatakan, “Adapun saya, maka saya akan shalat malam selama-lamanya.” Lalu orang yang lainnya menimpali, “Adapun saya, maka sungguh saya akan puasa terus menerus tanpa berbuka.” Kemudian yang lainnya lagi berkata, “Sedangkan saya akan menjauhi wanita, saya tidak akan menikah selamanya.”
Kemudian, Rasulullah ﷺ mendatangi mereka, seraya bersabda, “Benarkah kalian yang telah berkata begini dan begitu? Demi Allah! Sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling taqwa kepadaNya di antara kalian. Akan tetapi aku berpuasa dan aku juga berbuka (tidak puasa), aku shalat (malam) dan aku juga tidur, dan aku juga menikahi wanita. Maka, barangsiapa yang tidak menyukai sunnahku, maka ia tidak termasuk golonganku.” (HR. Bukhari No. 5063, Muslim No. 1401, Ahmad III/241, 259, 285, An-Nasa'i VI/60, Al-Baihaqi VII/77, Ibnu Hibban No. 14 dan 317 dalam at-Ta’liqatul Hisan, al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah No. 96)

Ini menunjukkan bahwa Nabi ﷺ bisa ditiru perbuatannya, tapi kenapa kita tidak bisa mewujudkannya?

I'tikaf
Lailatul Qadr ada di malam ganjil tapi tidak ketahuan. Menghitung malam tersebut dari belakang, bukan dari depan. Lailatul Qadr itu misterius. Tidak ada yang mengetahui kapan pasti datangnya.

Sedekah
Jika tahun lalu kita sedekah 1juta misalnya, maka tahun ini harus lebih baik. Yang harus diingat adalah sedekah itu dihitung dari persentase harta yang kita punya, bukan dari jumlah yang kita miliki.

Biasanya manusia semakin banyak hartanya, maka dia semakin bakhil. Semoga kita bukan termasuk yang seperti itu.

Di antara cara kita untuk memperbaiki amalan agar lebih baik dari tahun lalu adalah:
1. Memahami tujuan kita diciptakan

وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaKu." (QS. Adz-Dzariyaat : 56)

2. Niat tidak boleh tercampur 
Ketika masuk bulan Ramadhan, niat kita harus lurus. Kenapa kita diperintahkan seperti itu? Karena kita hamba Allah

3. Kita perlu memperbaiki hati
Bagaimana memperbaiki hati? Yaitu dengan istighfar dan bertaubat.

Orang-orang munafiq pintar bicara. Allah mennyingkap keburukan mereka.

Dosa membuat noda hitam di dada. Itu sebabnya kita tidak mampu melakukan amal shalih seperti yang orang lain lakukan. Maka hati itu harus kita bersihkan dengan cara bertaubat.

Syarat Taubat:
1. Menyesali
2. Meninggalkan 
3. Tidak melakukannya lagi
Jika kita memiliki kesalahan dengan manusia, maka kita harus meminta maaf kepadanya.

وعَنْ أبي هُرَيْرَةَ  رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ :وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, beliau berkata: Aku telah mendengar Rasulullah ﷺ  bersabda: "Demi Allah aku sungguh beristighfar dan bertaubat kepada Allah setiap harinya lebih dari tujuh puluh kali." (HR. Bukhari)

Nabi ﷺ sekali duduk 100x beristighfar. Sedangkan kita berat untuk melakukannya.

4. Doa 
Ketika hendak masuk bulan Ramadhan, minta kepada Allah agar dimudahkan untuk bisa melakukan ketaatan kepada Allah. Baca setiap hari. Berdoa kepada Allah tidak ada waktu tertentu. Silakan perbanyak berdoa kepada Allah selama 24 jam.

1 comment:

  1. Terima kasih sdh berbagi hasil kajian.

    ReplyDelete