Untaian Nasihat Jelang Ramadhan
Oleh: Ustadz Muflih Safitra hafizhahullah
Masjid Nurul Hidayah, Brawijaya, Jakarta Selatan
Sabtu, 19 Sya'ban 1447 / 7 Feb 2026
Di antara para ulama atau orang-orang Arab berkata:
"Sering berkumpul kepada sesuatu, kerap mematikan sensitivitas terhadap sesuatu tersebut."
Banyak dari Kaum Muslimin yang tidak begitu mengerti keutamaan Ramadhan. Biasanya, ketika seseorang yang tidak memahami suatu keutamaan, maka keutamaan itu tidak berharga.
Tamu sebenarnya adalah Ramadhan, bukan orang-orang yang datang di bulan Syawal (Idul Fitri). Ramadhan lebih agung dari mereka. Maka seharusnya seseorang lebih mengutamakan tamu yang sebenarnya.
Kalau ingin bersih-bersih rumah, maka seharusnya kita lakukan di akhir bulan Sya'ban agar saat Ramadhan datang, kita sudah nyaman dan fokus beribadah.
Sebelum seseorang memasuki bulan Ramadhan, dia harus mempersiapkan diri dengan ilmu, agar pahala yang didapatkan menjadi maksimal.
Yang paling baik adalah menyempurnakan shalat Tarawih bersama imam sebagaimana yang telah Allâh Azza wa Jalla syariatkan, karena Nabi ﷺ bersabda:
إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللهُ لَهُ بَقِيَّةَ لَيْلَتِهِ
"Sesungguhnya seseorang jika dia shalat berjamaah bersama imam sampai selesai maka Allah akan mencatat baginya (pahala shalat) di sisa malamnya." (HR. Ahmad No. 20910)
Dan itu Beliau ﷺ ucapkan ketika usai shalat Tarawih bersama para Sahabat selama beberapa malam sampai akhir malam, dan pada beberapa malam lainnya sampai tengah malam. Para Sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana jika di sisa malamnya kami terluput (sehingga kami tidak melaksanakan shalat)”. Beliau ﷺ menjawab, “Sesungguhnya seseorang jika dia shalat berjamaah bersama imam sampai selesai maka Allah akan mencatat baginya (pahala shalat) di sisa malamnya.”
Jadi, yang paling utama adalah melanjutkan shalat bersama imam sampai tuntas shalat witir.
Ketika Ramadhan datang, hendaknya kita merenungi problem yang kita alami. Apakah menambah kebaikan pada diri kita? Ataukah hanya sekadar sesuatu yang biasa-biasa saja. Maka kita perlu introspeksi diri.
Kalau ditanyakan kepada Para Sahabat Nabi ﷺ, "Apa Ramadhan yang paling berharga?". Mungkin Para Sahabat akan menjawab, "Ramadhan ketika kami Perang Badar bersama Nabi ﷺ."
Kalau kita berpikir dewasa, seharusnya kita sadar bahwa kita kalah dengan anak kecil. Semakin tambah besar, anak kecil tidak mau bermain yang itu-itu saja. Seharusnya kita, semakin bertambah usia, kita semakin memperbaiki diri.
Di bulan Ramadhan, hendaknya kita coba melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita lakukan, seperti mengkhatamkan Alquran yang mungkin belum pernah khatam seumuran hidupnya. Hendaklah seseorang membuat program untuk bisa khatam Alquran, terutama di bulan Ramadhan.
Hendaknya setiap orang memiliki Rencana kegiatan yang bermanfaat, mulai dari tidur hingga bangun tidur lagi.
Kalau tidak program, Ramadhan akan berlalu begitu saja, sementara kita merasa bahwa ibadah kita belum maksimal.
Ketika bangun sahur, perbanyak berdoa. Mengakhirkan sahur itu lebih baik daripada di awal sahur. Kemudian shalat Subuh. Sempatkan membaca Alquran setelah shalat Subuh. Mungkin setelahnya bisa tidur sebentar sebelum berangkat ke kantor. Jika mendapatkan izin, lakukan shalat Dhuha. Sebelum shalat Zhuhur mungkin bisa lakukan qailulah, lalu shalat Zhuhur bersama. Setelahnya bisa melakukan aktivitas lagi. Lalu shalat Ashar. Pulang kerja untuk bersiap buka Puasa, bisa sambil membaca Alquran lagi. Kemudian shalat Maghrib. Lalu bisa membaca Alquran sebelum melaksanakan shalat Isya dan shalat Tarawih. Isi waktu dengan yang bermanfaat sampai waktunya tidur malam.
Kalau memungkinkan, maka tantang diri kita untuk mengorbankan dunia demi ibadah.
Pada sebagian perdagangan, ada waktu di mana penjualan semakin meningkat di akhir Ramadhan. Maka kita tinggalkan hal tersebut dan fokus memaksimalkan ibadah seperti I'tikaf.
Sebagian orang mungkin memiliki aset. Dia bisa memanfaatkannya untuk ibadah seperti menjalani Umroh I'tikaf di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.
Hendaknya berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan orang lain, terutama keluarga.
Banyak orang ketika masuk bulan Ramadhan, mengirim pesan seperti minta maaf. Kalau kita bersalah dengan orang lain, lalu kita sampaikan permohonan maaf secara umum, bisa jadi itu belum menyelesaikan masalah. Hendaknya kita selesaikan masalah dengan orang tersebut, terlebih dengan keluarga secara personal.
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.
“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, "Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.” (Shahih Muslim, IV/1987)
Termasuk juga dengan yang ada di rumah, mungkin suami dengan istri, atau juga dengan saudara kandung, maka usahakan sebelum bulan Ramadhan bisa dijadikan momen untuk meminta maaf kepada keluarga, agar ketika menjalani puasa Ramadhan hati menjadi lapang.
Hendaknya kita ingatkan saudara perempuan jika ada hutang puasa yang belum dibayar. Kalau tidak dibayar karena kelalaian, maka hutang puasa tahun lalu tetap harus dibayar dan dia tetap membayar fidyah sejumlah hari yang ditinggalkan.
Hendaknya menjalani puasa Ramadhan dengan ridho supaya tidak menjadi beban. Minta tolong kepada Allah agar dimudahkan supaya memperbaiki ibadah kepada Allah lebih baik lagi.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata bahwasanya Nabi ﷺ pernah berdoa:
اللَّهُمَّ أصْلِحْ لِي دِيْنِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي ، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي ، وَأَصْلِحْ لِي آخِرتِي الَّتي فِيهَا مَعَادِي ، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ ، وَاجْعَلِ المَوتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ
"Yaa Allah, perbaikilah bagiku agamaku yang menjadi pegangan urusanku; perbaikilah bagiku duniaku yang menjadi tempat kehidupanku; perbaikilah bagiku akhiratku yang menjadi tempat kembaliku; serta jadikanlah kehidupanku mempunyai nilai tambah bagiku dalam segala kebaikan dan kematianku sebagai kebebasanku dari segala keburukan." (HR. Muslim No. 2720)
Indikasinya bisa kita lihat ketika Ramadhan akan berakhir.
Ada hadits yang sering disampaikan oleh para da'i ketika Ramadhan namun haditsnya dhoif.
لو يعلمُ العبادُ ما رمضانُ لتمنَّت أمَّتي أن تكونَ السَّنةُ كلُّها رمضانَ إنَّ الجنَّةَ لتُزيَّنَ لرمضانَ من رأسِ الحوْلِ إلى الحوْلِ
“Seandainya umatku mengetahui apa yang terdapat dalam bulan Ramadhan, maka sungguh mereka akan berharap satu tahun itu Ramadhan penuh. Sesungguhnya surga berhias menyambut Ramadhan setiap tahunnya” (HR. Ibnu Khuzaimah No. 1886)
Hadits ini memang dhoif (lemah), tapi kita bisa ambil pelajaran dari maknanya.
Usahakan Ramadhan ini menjadi Ramadhan untuk keluarga. Sebelum Ramadhan masuk, kita bisa memberikan pijakan dengan sampaikan kepada anak-anak selama satu bulan ke depan. Kita buat setiap program selama Ramadhan dengan pijakan-pijakan yang kuat agar lebih mudah dalam menjalankan puasa Ramadhan tanpa ada drama di dalam keluarga.
No comments:
Post a Comment