Monday 29 January 2024

Kajian Senin: Menjadi Manusia Terbaik / Terburuk Di Sisi Allah // Ustadz Abdullah Sya'roni hafizhahullah

Kajian Senin
Menjadi Manusia Terbaik / Terburuk Di Sisi Allah
Oleh: Ustadz Abdullah Sya'roni hafizhahullah
Masjid Al Hikmah, Pondok Labu, Jakarta Selatan
Senin, 29 Jan 2024 / 18 Rajab 1445

Menjadi terbaik menjadi dambaan dan harapan setiap manusia. Kita pasti akan berlomba-lomba untuk menjadi yang terbaik.

Seorang Muslim, baiknya bukanlah dinilai dari sudut pandang manusia, melainkan harus baik di hadapan Allah. Tidak ada manfaatnya baik di mata manusia tapi buruk di sisi Allah.

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun" (QS. Al Mulk : 2)

Fudhail bin Iyadh menafsirkan yang paling baik amalnya di dalam surah Al Mulk ini adalah seseorang yang paling ikhlas dan paling sesuai sunnah.

Jika seseorang tidak ikhlas, maka amalannya tidak akan diterima. Namun jika dia ikhlas tapi tidak sesuai sunnah, dia mengada-ada di dalam agama, maka ini juga tidak ada manfaatnya.

Tidak ada kata terlambat. Jangan sampai kita merasa putus asa tidak dapat mengejar ketinggalan di dalam agama. Yang penting manfaatkan sisa umur dengan amalan-amalan yang berkualitas, jauh dari kesyirikan dan bid'ah dan memenuhi syarat diterimanya amalan yaitu ikhlas karena Allah dan sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.

Bisa jadi amalan seseorang banyak tapi tidak berkualitas, dan bisa jadi amalan seseorang sedikit tapi berkualitas, maka yang sedikit inilah yang paling baik di sisi Allah, karena dia beramal dengan ikhlas dan sesuai sunnah. Bisa saja amalan yang banyak itu tapi ternyata mengandung kesyirikan atau bid'ah-bid'ah. Berat atau tidaknya amalan kita adalah karena kualitasnya.

Semakin tinggi Tauhid seseorang, maka kualitas amalannya akan semakin berat di Mizan (timbangan amal).

Abu Bakar Ash-Shiddiq dan para Sahabat radhiyallahu 'anhuma 'ajmain yang lain mampu menggabungkan amalannya antara kualitas dengan kuantitas. Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah terkumpul 4 amalan ini pada seorang hamba melainkan akan diberikan surga."

Setelah kita memahami, bagaimana kita menjadi hamba yang terbaik di sisi Allah?
1. Sebaik-baik kalian adalah yang mau belajar Alquran dan mengajarkannya.

Keadaan kaum Muslimin saat ini, terkait hubungannya dengan Alquran, terbagi menjadi 5 hal, yaitu;
1. Sungguh-sungguh dalam mempelajari Alquran, sehingga dia bisa membaca dengan tartil sesuai dengan kaidah tajwid, mempelajari tafsirnya dan mengamalkan setiap yang dia baca. Mereka akan dikumpulkan bersama barisan hamba yang mulia karena mereka telah memuliakan Alquran.

Kita bisa melihat seseorang mulia di sisi Allah ketika dia memuliakan Alquran.
Malaikat Jibril, diperintahkan untuk mengajarkan dan menyampaikan Alquran kepada Nabi Muhammad ﷺ, maka Jibril menjadi malaikat yang terbaik.

Nabi Muhammad ﷺ, turunnya kepadanya Alquran, maka dia menjadi manusia yang paling mulia.

Ramadan, bulan di mana Alquran diturunkan, maka dia menjadi bukan yang terbaik.

Umat Muhammad,

2. Berpaling dari Alquran. Tidak ada keinginan belajar Alquran sehingga tidak bisa membacanya, tidak juga memiliki keinginan untuk mempelajarinya.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku (Alquran) maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta". (QS. Thaha : 124)

"Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya". (QS. Az-Zukhruf : 36)

Banyak yang disibukkan dengan urusan dunia, pandai dalam urusan dunia tapi bodoh dalam urusan agama. Ini yang terjadi 

QS. Al Furqon

3. Ada di kalangan kaum Muslimin yang bisa membaca Alquran tapi malas membacanya. Maka dia akan terlalaikan oleh pahala yang besar.

4. Ada yang sudah membaca Alquran dan rajin membacanya, tapi tidak mau mempelajari tafsirnya, tidak mau merenungkan ayat-ayat yang dia baca.

"Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui kitab, kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. Al Baqarah : 78)

5. Ada yang bisa membaca Alquran, tapi dia membaca dengan tujuan duniawi, ingin mengambil keuntungan dari bacaan Alqurannya sehingga ia jadikan hal itu yang utama.

2. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. (HR. Tirmidzi)

Barometer kebaikan seseorang diukur dari perlakuannya terhadap istrinya, hakikat akhlaq seseorang akan nampak ketika dia di rumahnya, daripada dia di luar rumah.

Bahkan para Sahabat karena ingin tahu perilaku dan akhlaq Nabi ﷺ ketika di rumah, mereka datang ke rumah Aisyah dan bertanya, lalu Aisyah berkata, "Akhlaq Nabi ﷺ adalah Alquran".

Apa yang Allah perintahkan di dalam Alquran, Rasulullah ﷺ pasti lakukan, dan apa yang Allah larang, pasti Rasulullah ﷺ jauhkan.

Maka seorang suami yang paling baik adalah yang mengajarkan agama kepada istri dan anak-anaknya bukan hanya memberikan urusan dunia sebagaimana petunjuk yang ada di dalam Alquran.

3. Berusaha berhias diri dengan akhlaqul karimah.

Berusahalah untuk menjadi seseorang yang senantiasa melakukan kebaikan, tentunya kebaikan menurut Allah, bukan menurut pandangan kita.


No comments:

Post a Comment