Iman dengan takdir Allah memiliki kedudukan yang tinggi di dalam agama Islam.
Berkata Abdullah Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma,
” الْقَدَرُ نِظَامُ التَّوْحِيدِ ، فَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَآمَنَ بِالْقَدَرِ فَهِيَ الْعُرْوَةُ الْوُثْقَى الَّتِي لا انْفِصَامَ لَهَا ، وَمَنْ وَحَّدَ اللَّهَ تَعَالَى وَكَذَّبَ بِالْقَدَرِ نَقْضَ التَّوْحِيدَ ” .
“Takdir adalah aturan Tauhid, barangsiapa mengesakan Allah dan beriman dengan takdir maka inilah tali yang kuat yang tidak akan terlepas. Dan barangsiapa mentauhidkan Allah dan mendustakan takdir maka dia telah melepaskan tauhidnya.” (Atsar ini dikeluarkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 143)
Yang dimaksud dengan takdir adalah aturan Tauhid yaitu beriman dengan takdir menjadikan teratur dan lurus tauhid seseorang.
3. Beriman dengan takdir Allah adalah beriman dengan Qudratullah (kemampuan Allah). Barangsiapa yang tidak beriman dengan takdir berarti dia tidak beriman dengan Qudratullah.
Berkata Zaid Ibnu Aslam,
“Takdir adalah kemampuan Allah Azza wa Jalla, barangsiapa yang mendustakan takdir maka dia telah mengingkari kemampuan Allah Azza wa Jalla.” (Atsar ini diriwayatkan oleh Al Firyabi di dalam Kitab Beliau Al Qadar hal 144).
4. Beriman dengan takdir berkaitan dengan hikmah Allah, IlmuNya, KehendakNya, dan PenciptaanNya. Maka barangsiapa yang mengingkari takdir berarti dia telah mengingkari Ilmu Allah, KehendakNya, dan PenciptaanNya.
5. Beriman yang benar dengan takdir Allah akan membuahkan kebaikan yang banyak dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Sebagaimana akan datang penyebutannya di halaqah-halaqah yang terakhir dari silsilah ini. Dan kebodohan tentang beriman dengan takdir ataupun kesalahpahaman menyebabkan berbagai penyimpangan dan kesengsaraan di dunia dan akhirat.
6. Beriman dengan takdir adalah aqidah seluruh para Nabi dan para pengikut mereka.
Allah berfirman tentang Nabi Nuh alaihissalam,
“Nuh berkata sesungguhnya Allah-lah yang akan mendatangkan tanda kekuasaan-Nya apabila Dia menghendaki.” (QS. Hud : 33)
Dan Allah Subhanahu wa Ta’aāla berfirman tentang Nabi Ismail alaihissalam,
“Ismail berkata, wahai bapakku kerjakanlah apa yang telah diperintahkan kepadamu, niscaya engkau akan mendapatkan diriku termasuk orang-orang yang sabar apabila Allah menghendaki.” (QS. Ash-Shafaat : 102)
Dan Allah berfirman tentang Nabi Musa alaihissalam,
“Musa berkata, wahai Rabbku seandainya Engkau menghendaki niscaya Engkau telah menghancurkan mereka dan diriku sebelum ini.” (QS. Al A'raaf : 155)
Tiga ayat di atas menunjukkan keimanan para Nabi alaihimussallam terhadap takdir Allah azza wajalla.
7. Di antara yg menunjukkan ketinggian kedudukan beriman dengan takdir di dalam agama Islam bahwa takdir berkaitan langsung dengan kehidupan manusia setiap harinya, seperti: sehat, sakit, kaya, miskin, kuat, lemah, bahagia, sengsara, nikmat, adzab, hidayah, kesesatan, dan lain-lain.

No comments:
Post a Comment